Rabu, 28 Juni 2017

Jalan yang Berseberangan





Kita saling mengenal, bahkan sempat ada di fase sangat dekat dan akrab. Namun sekarang? Kita selalu berharap untuk tidak berjumpa. Sekali waktu pun tanpa sengaja bertemu, kita hanya pura-pura tidak melihat. Sesuatu yang nyata ada di depan mata namun kita abaikan seperti tidak ada.

Pernahkah kalian mengalami hal seperti itu? Yup. Saya pernah. Seharusnya saya bisa menegur dia, tersenyum seperti dulu. Berbincang, berkelakar seperti biasanya. Namun kenyataannya? Tidak bisa.  Sepertinya dia pun bingung untuk bersikap. Klise memang. Kadang kita berada dalam situasi yang tidak kita inginkan. Mungkin dulu kita bahagia bila bisa berjumpa, namun sekarang sebaliknya. Sebisa mungkin kita menghindar. 

Kita bukan musuh, tidak ada dendam kesumat apa pun. Ikhlas pun seharusnya sudah. Kita pun sudah saling memulai hidup baru. Namun ntah kenapa, sikap kita menjadi secanggung ini. Seakan kita memilih untuk berada di jalan yang berseberangan satu sama lain. Saya tidak memiliki perasaan benci, sepertinya dia pun tidak. Tapi kita memilih untuk tidak berkomunikasi lagi, seperti tidak pernah saling mengenal. Kita sederhanakan masalahnya menjadi seperti itu.

Ketika dua manusia yang sudah berada di jalan yang berseberangan,  akan lebih baik bila melewatinya begitu saja. Tidak perlu diingat, tidak perlu disesali. Hanya perlu disyukuri, dahulu kita pernah merasakan ada di jalan yang sama dengan dia. Kita pernah tertawa bersama, berbagi banyak hal bahkan menangis bersama. Namun kini, kita memilih untuk ada di jalan yang berbeda dengan dia. Jalan baru yang menanti untuk kita lewati.  Ungkapan mungkin bukan jodoh, saya tidak setuju dengan ungkapan itu. Kita berjodoh, tapi hanya sementara. Kita tidak ditakdirkan berjodoh dalam jangka waktu panjang. 

Saya memiliki suatu pemikiran yang mungkin berbeda. Di saat kita bertemu, saling berkenalan, merasa cocok itu sudah berjodoh. Namun jika ke depannya nanti kita memutuskan untuk berpisah. Itu artinya garis jodoh kita sudah selesai. Kita ditakdirkan berjodoh untuk sementara. 

Hidup yang kita jalani itu seperti siklus, daur yang selalu berulang hingga tercapai kestabilan.  Kita bertemu dengan banyak orang baru, orang lama di setiap harinya. Kita berkenalan dengan orang baru, atau memper-erat hubungan pertemanan lama yang sudah ada, hingga merasa cocok dan berpisah, memulai lagi semuanya dari awal. 

Stabil yang dicari adalah ketika kita merasa apa yang kita jalani itu sudah seimbang, sudah membuat kita nyaman.  Kestabilan itu sudah nyata, ketika kita memutuskan untuk menikah. Menjalani siklus hidup kita dengan orang yang kita anggap bisa membuat kita stabil. Stabil untuk menghabiskan sisa usia kita, bukan untuk sementara. Dan ternyata orang itu bukan dia. Kita memutuskan untuk berpisah.  Semua selesai untuk kita. 

Kita tidak memerlukan kata-kata bijak tentang baiknya silaturahmi, yang kita perlukan hanyalah berada di tempat kita masing-masing. Tanpa bertegur sapa, tanpa perlu mengusik lagi apa yang kita tinggalkan di belakang. Tidak semua hal yang “kata orang baik” itu “baik pula untuk kita”. Hanya kita sendiri yang tahu percis apa yang sebenarnya terbaik untuk kita. Kita sendiri yang menetukan jalan, bukan “kata orang”.

Teruntuk dia yang hanya terpaut beberapa meter dari tempat saya duduk sekarang.  Ini yang terbaik untuk kita.


GPM, 29 Juni 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar