Kita saling mengenal, bahkan sempat
ada di fase sangat dekat dan akrab. Namun sekarang? Kita selalu berharap untuk
tidak berjumpa. Sekali waktu pun tanpa sengaja bertemu, kita hanya pura-pura
tidak melihat. Sesuatu yang nyata ada di depan mata namun kita abaikan seperti
tidak ada.
Pernahkah kalian mengalami hal
seperti itu? Yup. Saya pernah. Seharusnya saya bisa menegur dia, tersenyum
seperti dulu. Berbincang, berkelakar seperti biasanya. Namun kenyataannya? Tidak
bisa. Sepertinya dia pun bingung untuk
bersikap. Klise memang. Kadang kita berada dalam situasi yang tidak kita
inginkan. Mungkin dulu kita bahagia bila bisa berjumpa, namun sekarang
sebaliknya. Sebisa mungkin kita menghindar.
Kita bukan musuh, tidak ada dendam
kesumat apa pun. Ikhlas pun seharusnya sudah. Kita pun sudah saling memulai hidup
baru. Namun ntah kenapa, sikap kita menjadi secanggung ini. Seakan kita memilih
untuk berada di jalan yang berseberangan satu sama lain. Saya tidak memiliki
perasaan benci, sepertinya dia pun tidak. Tapi kita memilih untuk tidak berkomunikasi
lagi, seperti tidak pernah saling mengenal. Kita sederhanakan masalahnya
menjadi seperti itu.
Ketika dua manusia yang sudah berada
di jalan yang berseberangan, akan lebih
baik bila melewatinya begitu saja. Tidak perlu diingat, tidak perlu disesali. Hanya
perlu disyukuri, dahulu kita pernah merasakan ada di jalan yang sama dengan
dia. Kita pernah tertawa bersama, berbagi banyak hal bahkan menangis bersama.
Namun kini, kita memilih untuk ada di jalan yang berbeda dengan dia. Jalan baru
yang menanti untuk kita lewati. Ungkapan
mungkin bukan jodoh, saya tidak setuju dengan ungkapan itu. Kita berjodoh, tapi
hanya sementara. Kita tidak ditakdirkan berjodoh dalam jangka waktu panjang.
Saya memiliki suatu pemikiran yang
mungkin berbeda. Di saat kita bertemu, saling berkenalan, merasa cocok itu
sudah berjodoh. Namun jika ke depannya nanti kita memutuskan untuk berpisah.
Itu artinya garis jodoh kita sudah selesai. Kita ditakdirkan berjodoh untuk
sementara.
Hidup yang kita jalani itu seperti
siklus, daur yang selalu berulang hingga tercapai kestabilan. Kita bertemu dengan banyak orang baru, orang
lama di setiap harinya. Kita berkenalan dengan orang baru, atau memper-erat
hubungan pertemanan lama yang sudah ada, hingga merasa cocok dan berpisah,
memulai lagi semuanya dari awal.
Stabil yang dicari adalah ketika kita
merasa apa yang kita jalani itu sudah seimbang, sudah membuat kita nyaman. Kestabilan itu sudah nyata, ketika kita
memutuskan untuk menikah. Menjalani siklus hidup kita dengan orang yang kita
anggap bisa membuat kita stabil. Stabil untuk menghabiskan sisa usia kita,
bukan untuk sementara. Dan ternyata orang itu bukan dia. Kita memutuskan untuk
berpisah. Semua selesai untuk kita.
Kita tidak memerlukan kata-kata bijak
tentang baiknya silaturahmi, yang kita perlukan hanyalah berada di tempat kita
masing-masing. Tanpa bertegur sapa, tanpa perlu mengusik lagi apa yang kita
tinggalkan di belakang. Tidak semua hal yang “kata orang baik” itu “baik pula
untuk kita”. Hanya kita sendiri yang tahu percis apa yang sebenarnya terbaik
untuk kita. Kita sendiri yang menetukan jalan, bukan “kata orang”.
Teruntuk dia yang hanya terpaut
beberapa meter dari tempat saya duduk sekarang. Ini yang terbaik untuk kita.
GPM, 29 Juni 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar