Tidak saling kenal tapi dimusuhi? Tidak pernah
bertemu langsung namun konflik bathin. Pernahkan kalian mengalaminya?
Kita bertemu dengan banyak orang di setiap harinya.
Karakter tiap individu pun berbeda. Merujuk ke species yang bergelar “mantan”
mungkin menjadi “momok” bagi sebagian orang, atau justru terlintas lagu Raisa
yang berjudul “mantan terindah” disertai expresi senyum gagal memiliki. Hahaha..
Yup gagal memiliki. Arti gagal adalah setidaknya kita sudah berusaha untuk
bertahan.
Ada dua alasan mengapa species mantan bisa
menjadi momok atau justru mantan terindah.
Pertama , kita putus dengan cara yang tidak
baik/ kemauan kita sendiri. For examples; Dia selingkuh,Dia egois,Dia posesif,
Dia matre, Dia pelit,Dia freak, Dia rada gila, atau Dia berubah jadi LGBT* (untuk
contoh terakhir sekarang lagi hits).
Kedua,kita putus dengan cara baik-baik/ bukan
kemauan kita. For examples; Ortu gak setuju, Beda iman, Beda visi misi, Beda
dunia* (jadi inget film GHOST Demi Moore dengan adegan bikin kendi tanah liat..
lupakanlah..).
Tapi bagi gue mantan apa pun alasan bubarnya,
harus tetap menjadi teman. Gue gak mau punya musuh, dendam kesumat atau
sejenisnya. Gue berusaha menjaga hubungan baik, sejahat apa pun dia sama gue.
Gue akan berusaha tetap baik. But, ternyata niat baik tidak selalu sejalan
dengan hasil yang diraih. Kenyataannya gue sering banget dimusuhi oleh pacar
baru mantan gue. Apa yang salah? Gue jadi bingung sendiri. Well, padahal hidup
terus berjalan, gue sudah melanjutkan hidup, gue pun bahkan sudah punya suami
sekarang.
1. Apa karena wajah gue memang bukan tipikal wajah peri baik hati?
Dari zaman SMA tiap ada drama di sekolah,
pasti gue dapet peran antagonis. Sebangsa bawang merah, nenek sihir dll. Tapi
seseorang bukan hanya dinilai dari penampakan wajah bukan? Hei.. ini pembunuhan
karakter yang sesungguhnya bagi gue. Banyak di luar sana orang jahat yang
wajahnya innocent. Pelajaran buat kita, jangan menilai sesuatu dari kemasan.
Jika ingin tahu lebih dalam pelajari juga apa isinya. Hei.. Pacar baru mantan
gue! Mungkin kalian belum kenal gue,
please jangan cuma lihat tampang. Mungkin tipikal wajah gue kelihatan jahat,
tapi beneran deh gue gak ada maksud gangguin your boy friend, gak minat, gak
ada cita-cita jadi palakor juga. Mendingan sebelum men-judge gue, kita temanan
dulu, boleh? Setidaknya dengan menjadi teman kalian tahu gimana sebenarnya
karakter gue.
2. Apa kebaikan terhadap mantan selalu berbanding lurus dengan masih
ada “feel”?
Menurut gue itu keliru, gak semua orang baik
itu karena “ada udang di balik bakwannya”. Bisa jadi memang dari orok dia di-didik
orang tuanya untuk selalu bersikap baik dengan orang lain. Waspada boleh, tapi
janganlah jadi orang yang paranoid. Paranoid
(bahasa Yunani Kuno: παράνοια, paranoia) adalah gangguan mental yang
diderita seseorang yang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya.
Dikatakan sebagai bentuk gangguan bila perilaku tersebut sifatnya irasional, menetap,
mengganggu, dan membuat stress (Wikipedia). Ketika menjadi orang yang
selalu berpikiran negatif terhadap kebaikan orang lain, kalian akan jadi orang
yang selalu repot sendiri, susah tidur, depresi, gangguan kehamilan &
janin* (serius ini bukan iklan rokok). Dan yang perlu digarisbawahi, “Feelings
may be replaced, but memories will stay the same” yang artinya perasaan itu bisa
berubah, tapi kenangan akan tetap ada pada tempatnya. Sekeras apa pun usaha
kalian untuk merubah perasaan pacar kalian terhadap gue, kenangan itu akan
tetap ada pada tempatnya. Gue sendiri pun juga gak punya daya kekuatan untuk
menghapus memori itu dari dia. Hadapi dengan dewasa, semua orang punya
kenangannya masing-masing bukan?
3. Apa gue pernah menantang kalian untung bersaing?
Persaingan itu bagus, kita bisa menjadi
terpacu menjadi lebih baik ketika bersaing. Tapi siapa yang mengajak kalian
bersaing? Apa keuntungannya? Jika tidak ada, sebaiknya pikirkan lagi apa
motivasi kalian untuk bersaing. Ketika kalian membenci, memusuhi orang,
otomatis apa pun yang dilakukan orang itu akan tampak menyebalkan. Semua
menjadi serba salah. Otak akan merespon, sehingga kalian akan berusaha “tampil”
lebih baik dari sang rival. Tapi itu semua bukan niatan kalian sendiri, namun
lebih dari rasa obsesi tidak mau terkalahkan. Kita boleh menjadikan orang lain
menjadi inspirasi, namun salah ketika kita tidak mengakuinya atau justru
menjelek-jelekannya di belakang. Orang itu mungkin tidak tahu kalian
menggosipinya, tapi kenyataannya kalian hanya menjadi orang yang kehilangan
jati diri ketika sibuk mengejar “kebaikan yang semu”.
Kalian tidak akan pernah bisa merubah masa
lalu, kalian hanya bisa memperbaiki masa depan dengan perencanaan yang matang.
Pada akhirnya kalian akan tahu, rasa benci, dengki kalian terhadap gue adalah
hal yang percuma. Gue tetap menjalani hidup gue tanpa memperhitungkan kalian
sebagai sesuatu yang penting. Sebaliknya jika kalian mencoba untuk berteman
dengan gue, mungkin kita bisa menjadi partner yang cocok. Bukankan orang yang
kalian cintai sekarang, sudah pernah gue cintai juga dulu. Itu artinya sedikit
banyak gue tahu banyak informasi tentang ‘DIA’ yang mungkin kalian ingin tahu.
Cobalah berpikir jernih, karena mempunyai “TEMAN” itu lebih menyenangkan
daripada mempunyai “MUSUH”.
******