Rabu, 28 Juni 2017

Jalan yang Berseberangan





Kita saling mengenal, bahkan sempat ada di fase sangat dekat dan akrab. Namun sekarang? Kita selalu berharap untuk tidak berjumpa. Sekali waktu pun tanpa sengaja bertemu, kita hanya pura-pura tidak melihat. Sesuatu yang nyata ada di depan mata namun kita abaikan seperti tidak ada.

Pernahkah kalian mengalami hal seperti itu? Yup. Saya pernah. Seharusnya saya bisa menegur dia, tersenyum seperti dulu. Berbincang, berkelakar seperti biasanya. Namun kenyataannya? Tidak bisa.  Sepertinya dia pun bingung untuk bersikap. Klise memang. Kadang kita berada dalam situasi yang tidak kita inginkan. Mungkin dulu kita bahagia bila bisa berjumpa, namun sekarang sebaliknya. Sebisa mungkin kita menghindar. 

Kita bukan musuh, tidak ada dendam kesumat apa pun. Ikhlas pun seharusnya sudah. Kita pun sudah saling memulai hidup baru. Namun ntah kenapa, sikap kita menjadi secanggung ini. Seakan kita memilih untuk berada di jalan yang berseberangan satu sama lain. Saya tidak memiliki perasaan benci, sepertinya dia pun tidak. Tapi kita memilih untuk tidak berkomunikasi lagi, seperti tidak pernah saling mengenal. Kita sederhanakan masalahnya menjadi seperti itu.

Ketika dua manusia yang sudah berada di jalan yang berseberangan,  akan lebih baik bila melewatinya begitu saja. Tidak perlu diingat, tidak perlu disesali. Hanya perlu disyukuri, dahulu kita pernah merasakan ada di jalan yang sama dengan dia. Kita pernah tertawa bersama, berbagi banyak hal bahkan menangis bersama. Namun kini, kita memilih untuk ada di jalan yang berbeda dengan dia. Jalan baru yang menanti untuk kita lewati.  Ungkapan mungkin bukan jodoh, saya tidak setuju dengan ungkapan itu. Kita berjodoh, tapi hanya sementara. Kita tidak ditakdirkan berjodoh dalam jangka waktu panjang. 

Saya memiliki suatu pemikiran yang mungkin berbeda. Di saat kita bertemu, saling berkenalan, merasa cocok itu sudah berjodoh. Namun jika ke depannya nanti kita memutuskan untuk berpisah. Itu artinya garis jodoh kita sudah selesai. Kita ditakdirkan berjodoh untuk sementara. 

Hidup yang kita jalani itu seperti siklus, daur yang selalu berulang hingga tercapai kestabilan.  Kita bertemu dengan banyak orang baru, orang lama di setiap harinya. Kita berkenalan dengan orang baru, atau memper-erat hubungan pertemanan lama yang sudah ada, hingga merasa cocok dan berpisah, memulai lagi semuanya dari awal. 

Stabil yang dicari adalah ketika kita merasa apa yang kita jalani itu sudah seimbang, sudah membuat kita nyaman.  Kestabilan itu sudah nyata, ketika kita memutuskan untuk menikah. Menjalani siklus hidup kita dengan orang yang kita anggap bisa membuat kita stabil. Stabil untuk menghabiskan sisa usia kita, bukan untuk sementara. Dan ternyata orang itu bukan dia. Kita memutuskan untuk berpisah.  Semua selesai untuk kita. 

Kita tidak memerlukan kata-kata bijak tentang baiknya silaturahmi, yang kita perlukan hanyalah berada di tempat kita masing-masing. Tanpa bertegur sapa, tanpa perlu mengusik lagi apa yang kita tinggalkan di belakang. Tidak semua hal yang “kata orang baik” itu “baik pula untuk kita”. Hanya kita sendiri yang tahu percis apa yang sebenarnya terbaik untuk kita. Kita sendiri yang menetukan jalan, bukan “kata orang”.

Teruntuk dia yang hanya terpaut beberapa meter dari tempat saya duduk sekarang.  Ini yang terbaik untuk kita.


GPM, 29 Juni 2017

Jumat, 02 Juni 2017

E.T. (The story of ALIEN) Part 3




E.T.
(The story of ALIEN) Part 3

Siang ini jadwal Theo untuk berkomunikasi dengan ALFALINK peliharaannya, Theo hampir lupa untuk menghubungi ALFALINK kepunyaanya yang diberi nama JACK. Makhluk hijau peliharaan Theo ini memiliki sifat yang cukup menyebalkan, namun terkadang lucu juga. Nama Jack itu pun dimintanya sendiri pada Theo setelah makhluk tersebut menonton film TITANIC di dunia manusia.  Dia merasa bahwa dia memang setampan Leonardo D’caprio. 

Theo menekan beberapa digit angka pada smart watch yang digunakannya, kemudian muncul pancaran sinar yang membentuk pencitraan tiga dimensi di hadapannya, muncul lah makhluk hijau cebol di hadapannya. Jack tampak menggunakan topi cowboy & kaca mata hitam ntah darimana makhluk itu memperolehnya, dan terlihat tidak siap untuk berkomunikasi dengan Theo. Raut wajahnya tampak shock dan segera men-setnya menjadi mimic muka serius.  

“Theo, kenapa tiba-tiba memanggilku? Aku sedang sibuk bermain..”
“Hai Jack.. Aku ingin bercerita, sekarang aku punya 2 teman baru.”
“Siapa? Bukannya kau baru beberapa hari saja di dunia manusia? Apa mereka ALIEN? Atau manusia? Kau harus berhati-hati Theo! Jangan terlalu cepat membuat kesalahan di dunia, aku masih suka bermain disini. Aku tidak mau kau cepat dideportasi! Makanan di dunia enak-enak, banyak gadis cantik disini. Aku merasa ketampananku sekarang bertambah sejak ada di dunia Theo. Jangan pandangi aku begitu, aku sudah tahu aku memang tampan..”
“Hei.. Jack! Kau bertanya namun banyak sekali berbicara. Seharusnya aku yang membuat laporan bukan kamu!” sahut Theo dengan sedikit kesal dengan peliharaannya ini.
“Baiklah Tuan ku. Lanjutkan ceritamu..”
“Temanku yang pertama bernama Elios, dia sepertinya ALIEN yang punya pengetahuan seni puisi yang hebat. Temanku yang kedua bernama Thor, dia ALIEN yang kuat dan seni yang kreatif”
“Thor?”
“Iyah, Thor. Kenapa? Apa kau mengenalnya Jack?”
“Hmm..Ntahlah mungkin namanya familiar, karena mirip tokoh komic. Aku sudah menjadi peliharaan mu selama hampir 200 Abad Theo, sangat banyak nama yang harus aku ingat. Kapasitas otak ALFALINK tidak sehebat kalian para ALIEN tuan kami.”
“200 Abad? Bukankah umurku belum sepanjang itu Jack? Berati aku sudah mengalami masa daur ulang?” Theo terkejut dan spontan menanyakan kejanggalan itu pada Jack.
Makhluk hijau itu hanya terdiam dan berpura-pura tidak mendengar pertanyaan Theo, Jack segera memutuskan komunikasinya dengan Theo. Sungguh peliharaan yang menyebalkan! Gumam Theo sembari mencoba memanggil Jack kembali, namun tetap tidak ada jawaban.

                                                                         **********

Tok..Tok..
Suara jendela kamar Theo terdengar diketuk seseorang dari luar. Theo segera mengeceknya, ternyata benar ada seseorang di luar.
“Apa yang kau lakukan kemari Thor? Bukankah pertemuannya nanti malam?” ucap Theo dengan Telephaty terhadap Thor di luar sana. Laki-laki itu tidak menjawab telephaty Theo namun hanya menggerakkan tangannya sebagai isyarat supaya Theo menyusulnya keluar.
Theo berjalan keluar menyusul Thor.
“Aku mau mengajakmu pergi ke suatu tempat yang seru Theo..” ucap Thor ketika Theo ada di hadapannya sekarang.
“Kemana?”
“Ikut saja denganku, kamu pasti suka.”
“Sebentar Thor..” Theo melihat sesuatu yang tergeletak di pintu rumahnya. Gadis itu mengambilnya.
“Ini dari kamu Thor?” tanya Theo. Namun Thor menggeleng dan tampak penasaran juga dengan box yang kini ada di tangan Theo.
Theo membuka box itu, ternyata isinya adalah mini dress berwarna merah, dan selembar surat di atas dress itu.
                                                                          ***********
E.T.
Gunakan ini nanti malam ketika datang ke tempatku bekerja!

                                                                         ************
“Hmm.. Sepertinya EL tahu kamu belum punya gaun untuk party Theo.” Ucap Thor dengan senyum.
“Party?” Theo menyahut dengan ekspresi bingung.
“Yup. Sudahlah, nanti juga kamu mengerti. Ayo sekarang ikut aku pergi. Nanti malam, aku antar kau ke tempat Elios bekerja.”

Theo kemudian menuruti Thor untuk pergi bersamanya, ntah kemana. Kali ini Theo mencoba naik kendaraan buatan manusia yang disebut mobil. Ini pertama kalinya Theo menaiki mobil, dia merasa kendaraan ini hanya kotak sempit yang membosankan. Hingga Thor menghidupkan playlist MP3 di mobilnya. Terdengar alunan music Classic opera dari playlist Thor. Theo tersenyum sepertinya Thor tahu Theo bosan berada di dalam mobil, Thor membaca pikiran Theo, kemudian menyetel music yang disukai gadis itu untuk mengurangi kebosanan. Theo tahu benar Thor tidak mungkin menyukai genre music classic opera seperti ini, hanya untuk menyenangkan Theo laki-laki itu memutarnya. Thor memang ALIEN yang pengertian gumam Theo.

                                                              *********

“Kamu lihat harimau itu Theo?” ucap Thor sembari menunjuk harimau yang berada jauh di depan mereka. Yup, Thor mengajak Theo ke kebun binatang. 

Mereka berada di sisi dalam ruang show, dibatasi kaca tebal sebagai pengaman.
“Yup. Sepertinya hewan itu memang ganas.” Sahut Theo antusias memperhatikan species karnivora di hadapannya.
“Apa kau pernah berpikir Theo, mengapa bangsa kita selalu sembunyi-sembunyi ketika berada di dunia. Atau bahkan kita hanya meneropong manusia dari kejauhan?”
“Yup, aku kadang berpikir seperti itu Thor. Kenapa bangsa kita seperti itu?” sahut Theo sembari menengok laki-laki yang berdiri disebelahnya. Thor tersenyum, kemudian menunjuk harimau itu lagi.
“Karena manusia kurang lebih sama ganasnya dengan harimau itu Theo. Lihat posisi kita sekarang terhadap harimau itu. Kurang lebih sama dengan posisi kita ketika meneropong kegiatan manusia dari galaksi kita?”
“Maksudmu?”
“Bangsa kita takut dengan manusia Theo, sama seperti kita sekarang yang takut menjadi santapan harimau itu, sehingga kita dibatasi kaca pengaman ini.” Ucap Thor sembari mengetuk kaca di depan mereka.
“Manusia mau menjadikan bangsa kita sumber makanan Thor?” tanya Theo mulai cemas, dan melihat ke sekitar mereka berdua sekarang banyak manusia yang mengunjungi kebun binatang itu juga.
“Hahaha..Bukan seperti itu Theo..” Thor tertawa kemudian menggandeng Theo pergi dari tempat show harimau dan duduk di sebuah bangku.
“Kamu tahu, sifat bangsa kita cinta damai? Berbeda dengan manusia, mereka memiliki ambisi dan emosi Theo. Mereka bahkan bisa melakukan apa pun untuk mencapai ambisi mereka. Kamu juga pasti tahu meski kita immortal, kita tidak berkembang biak Theo. Jumlah kita selalu stabil. Berbeda dengan manusia, umur mereka tidak sepanjang kita, namun mereka berkembang biak, populasi mereka semakin banyak, bahkan bisa menguasai galaksi dan menyingkirkan kita bangsa ALIEN. Itulah, yang menyebabkan bangsa kita perlu rutin research dan mengawasi kegiatan para manusia.”
“Lalu sampai kapan kita harus bersembunyi dari para manusia Thor?” tanya Theo yang kini mulai mengerti dengan penjelasan Thor.
“Hingga manusia berhasil membuat kendaraan yang memiliki kecepatan cahaya, itulah saatnya bangsa kita menampakkan diri, dan mengatasi kebrutalan mereka Theo. Sekarang kita tidak perlu melakukan tindakan apa pun, kita hanya perlu menambah pengetahuan kita di dunia manusia. Hidup berdampingan dengan mereka dan menikmati massa kita di sini, seperti sekarang.”  Jawab Thor kemudian mengajak Theo berjalan kembali menaiki mobil lalu pulang.

                                                                 ************

“Itu Elios?” Ucap Theo kaget melihat EL ada di atas kerumunan manusia yang sedang berpesta. Ternyata pekerjaan Elios adalah DJ. Suara music EDM yang di set oleh Elios terdengar meriah menghentak, dilengkapi sorot lampu warna-warni di atas mereka, ruangan gelap dengan hiruk pikuk orang melantai berdesakkan sungguh membuat Theo merasa kurang nyaman. Gadis itu bukan tipikal penyuka party dan music EDM. Theo menyukai music classic opera yang berirama lambat dan menenangkan jiwa. Sepertinya Thor mengerti hal itu dan mengajak Theo keluar dari club itu.
“Kita tunggu EL disini saja yah nona manis..” Ucap Thor sembari memberi Theo sebotol air mineral. Mereka menunggu Elios selesai perform di sebuah mini market kecil di seberang club tempat Elios bekerja.
“Hei.. Kalian sudah disini.” Suara Elios mengalihkan pandangan Theo seketika.  Tampak Elios sudah mengenakan jaket hoodienya kembali, tidak seperti saat perform tadi. EL kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Theo, memperhatikan gadis itu kemudian tersenyum.
“Kamu cantik dengan gaun merah itu Theo.” Puji Elios kemudian bangkit dari tempat duduknya, tangannya memberi isyarat kepada mereka berdua untuk meninggalkan tempat itu dan mengikutinya pergi ke suatu tempat.
 “Tempat ini lebih aman untuk kita..” ucap elios kemudian dia tampak bersiap untuk berdebat lagi dengan Thor. Tangan pemuda itu tampak mengepal menahan emosi.
Elios memilih tempat seperti ruangan kosong yang cukup luas seperti gudang , dengan penerangan hanya 1 boklam lampu pijar. Dinding ruangan itu penuh dengan coretan tulisan pylox yang random dan beberapa gambar gravity yang bagus.
“Apa kamu sudah cerita tentang aku pada Theo, brengsek?” ucap Elios pada Thor dengan nada suara yang mulai meninggi.

Thor tidak menjawab pertanyaan EL, Thor hanya menggeleng. Kemudian berjalan menghampiri Theo. Laki-laki iu kemudian menggandeng Theo dan membawanya mendekati Elios kembali.
“Kamu hanya perlu menceritakannya langsung pada Theo, EL. Aku tidak akan terlalu ikut campur pada hidupmu. Bukankan sejak hari itu, aku sudah berkata padamu? Aku pastikan aku tidak mencampuri hidupmu terlalu dalam. Aku hanya mengawasimu.” Sahut Thor kemudian pergi meninggalkan Elios dan Theo. Sebelum pergi Thor tersenyum dan mengirim Telephaty pada Theo.
“Semua akan baik-baik saja, sekarang kamu hanya perlu temani Elios, Theo..” suara Thor terdengar dalam pikiran Theo. Gadis itu mengangguk tanda setuju.
Elios kemudian menggandeng tangan Theo mengajaknya duduk di sebuah kursi tepat di bawah lampu boklam penerang ruangan gudang.  Elios melepas kupluk hoodienya kemudian menatap Theo dan tersenyum. Senyum yang selalu berhasil membuat Theo suka.
“Kamu pasti kaget dengan tempat kerjaku yah Theo?” ucap EL sembari tertawa kecil melihat Theo yang masih terlihat shock dengan suasana party.
“yup.. kamu DJ? Aku sekarang paham kenapa kau suka mengasingkan diri di atap gedung kampus EL..”
“Kenapa?”
“Pasti kamu jenuh berada di kerumunan manusia seperti tadi EL, kamu butuh waktu untuk tenang dan sendiri?”
“Yup.. kamu benar Theo. Aku butuh ketenangan. Waktu untuk menyalurkan hobby ku menulis puisi juga.”
“Sebenarnya ada apa antara kamu dan Thor, EL?”
“Aku manusia Theo.”  Jawab Elios mengagetkan Theo. Gadis itu tidak menyangka akan mendengar kalimat itu keluar dari bibir Elios.

Theo menjadi bingung, pantas saja dia tidak bisa merasakan energy ALIEN di tubuh Elios. Energy yang dimiliki EL berbeda. Pantas saja Thor mengawasi Elios, karena Elios adalah manusia. Tapi bagaimana bisa, El terkadang bisa membaca pikiran Theo? Banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Theo saat ini.
“Aku manusia hybrid Theo..” ucap Elios sekali lagi sembari meraih jemari tangan Theo.
“Hybrid? Bukankah itu hanya mitos? Hanya legenda?” sahut Theo makin tidak percaya.

Hybrid adalah istilah untuk menggambarkan suatu makhluk yang merupakan hasil percampuran antara manusia dan ALIEN. Hybrid biasanya memiliki genetic dominan dalam tubuhnya, ntah itu sebagai manusia atau sebagai ALIEN. Mereka bisa terbentuk dari hasil hubungan antara manusia dengan ALIEN, dimana ALIEN tidak bisa berkembang biak, namun manusia memiliki kemampuan untuk berkembang biak. Selama ini Theo hanya mendengar keberadaan Hybrid sebagai mitos, tidak ada satu pun bukti otentik yang menyebutkan keberadaan Hybrid. Mengapa Thor tidak melaporkan ini pada galaksi? Mengapa Thor hanya mengawasi Elios? Theo semakin bingung.
“Yup, aku adalah Hybrid 80% manusia, 20% ALIEN. Aku tidak immortal, namun aku memiliki sedikit kemampuan INDIGO.” Sahut Elios masih sembari menggengam erat tangan tangan Theo.

Theo menjadi paham, mengapa EL terkadang bisa membaca pikirannya,dan seakan tahu bahwa Theo merupakan sesuatu yang berbeda dengan manusia biasa. Theo pun tidak bisa membaca pikiran Elios karena laki-lai itu memiliki power sebagai Hybrid yang jauh lebih kuat dari ALIEN biasa seperti Theo. Seharusnya Theo takut pada Elios, tapi ntah mengapa gadis itu tidak takut. Theo justru merasa nyaman berada di dekat Elios. Theo merespon genggaman tangan EL kemudian hanya terdiam memperhatikan laki-laki itu dengan seksama.
“Aku yakin kamu kembali, dan ternyata kamu memang kembali.. “ ucap Elios pada Theo.

Theo sebenarnya tidak paham dengan apa yang diucapkan Elios, Theo hanya berusaha menenangkan Elios yang terlihat sedih menceritakan jati dirinya yang sesungguhnya. Tidak banyak yang bisa Theo lakukan, gadis itu hanya terdiam dan menunggu Elios bisa lebih stabil. Malam ini menjawab sebagian pertanyaan di benak Theo, masih banyak pertanyaan yang belum berhasil terjawab. Dia hanya berharap waktu akan membimbingnya menemukan semua rasa penasarannya. Theo tidak akan merubah sikapnya pada Elios, dia menganggap EL adalah istimewa. Bukan sesuatu yang harus dihindari atau ditakuti. Padahal Theo tahu benar apa konsekuensi yang harus dia tanggung bila, hubungannya dengan bangsa manusia, bahkan bangsa Hybrid bisa diketahui galaksinya.  Tapi, Theo tetap memilih untuk menemani Elios malam ini dan seterusnya..

                                                                      ***********

Bersambung…



E.T. (The story of ALIEN) Part 2


E.T.
(The story of ALIEN) Part 2

Lorong pertokoan Kota malam ini tampak ramai. Lalu lalang kendaraan , lampu pertokoan warna warni, suara klakson yang berisik dan juga tak lupa para manusia yang menghabiskan waktu malamnya di hiruk pikuk kehidupan malam. Malam ini malam Minggu, di dunia para manusia biasanya mereka berjalan berpasang-pasangan menghabiskan malam. Pemandangan yang unik dan membingungkan bagiku.  Aku masih belum paham apa sebenarnya tujuan mereka menghabiskan waktu berdua seperti itu, khususnya di malam Minggu. Bagiku setiap hari di dunia itu sama saja, berjalan begitu lambat.  Aku masih duduk di bangku taman di tepi jalan raya Kota ini, sendirian, membaca secarik potongan kertas yang kemarin aku peroleh dari laki-laki aneh itu, Elios. Aku baru sadar dia memberi inisial yang sama dengan yang ku tulis di setiap karya lukisku, E.T. Apa Elios juga Extra Terestrial seperti ku?  Seharusnya dia juga ALIEN?  Aku membuat kesimpulan seperti itu sementara ini.
Tiba-tiba aku mendengar suatu kontak telephaty yang berusaha berkomunikasi denganku, signal suaranya cukup kuat, seharusnya objek itu berada dekat denganku.  Sepertinya objek ini ALIEN yang memiliki kemampuan tephaty yang cukup kuat juga, aku berusaha mencari dan berjalan perlahan mencari sumber suaranya.

 “Hei.. Rambut merah, bisakah kau temukan aku?”
Suara telephaty laki-laki itu terdengar sangat jelas. Aku mempercepat langkah kakiku mencari sumber suara itu, hiruk pikuk kota menyulitkan ku menemukannya. Sudah cukup lama sejak berada di bumi, aku tidak berkomunikasi langsung dengan sesame bangsaku melalui telephaty. Hal ini memerlukan penyesuaian.

“Hei.. hei.. intelegensimu menurun nona?”
Suara telephaty itu masih jelas terdengar dan mulai mengejekku yang belum berhasil menemukannya. Aku semakin memusatkan pikiranku untuk berkonsentrasi, dia harus tahu sudah mengejek siapa! Aku sudah menemukan koordinasi sumber suara itu berada. Di café seberang jalan raya itu! Aku bergegas menunggu lampu rambu lalu lintas berwarna hijau, kemudian segera menyebrang di aspal yang bercorak putih ini, setidaknya ini yang biasa manusia lakukan untuk menyebrangi jalan. 

“Haha.. nice try! Kamu sudah tampak seperti manusia sungguhan rambut merah..Coba berusaha lebih keras lagi untuk menemukanku!”

“Lihat saja nanti jika aku menemukanmu! Suara sumbang!”

Aku menjawab suara itu dengan penuh kekesalan, siapa sebenarnya ALIEN ini, suaranya sangat asing, kemungkinan kita beda galaksi. Aku yakin belum pernah mengenali tone suara telephaty seperti dia. Aku membuka pintu café yang kini ada di depanku, tampak sangat ramai, banyak manusia yang berkunjung di café ini.  Wangi aroma kopi sangat menusuk indera penciumanku. Tapi ntah kenapa aku menyukai aroma ini


Baru pertama kali ini aku berkunjung ke café, khususnya kedai kopi seperti ini. Sejenak aku jadi lupa, tujuan awalku ke café ini untuk mencari sumber suara telephaty. Aku justru tertarik ingin mencoba minuman para manusia ini. Aku duduk memilih tempat yang masih kosong di sisi depan, sangat dekat dengan barista yang menyiapkan kopi. Sungguh aroma yang menyenangkan!

“Mau pesan apa mbak?” seorang perempuan bertubuh mungil menghampiriku seraya memberikan daftar menu. Aku pernah membaca jenis-jenis kopi, tapi baru kali ini aku mencoba untuk meminumnya. Jujur aku sangat bingung, dan tidak paham.

“Kopi yang paling special di café ini saja.” Ucap salah seorang laki-laki yang berdiri di deretan barista yang sibuk menyiapkan kopi di sisi depan. 

Perempuan mungil itu kemudian menatap ke arahku. Aku hanya mengangguk mengiyakan pernyataan pria itu tanda setuju akan sarannya. Kemudian dia mencatat menunya, tersenyum dan pergi menuju meja barista, menempel pesananku. 

Mataku tidak lepas memperhatikan gerakan para barista meracik kopi, mereka terlihat sangat cekatan, dan keren. Aku juga melihat, mereka melukis menggunakan busa kopi. Wow! Aku harus belajar melukis dengan busa kopi juga. Minuman itu tak hanya beraroma harum, namun juga memiliki tampilan yang indah.
“ini juga seni.  Kamu bisa belajar denganku jika ingin bisa melukis kopi, rambut merah..”

Suara itu muncul lagi. Kali ini aku tahu sumber suaranya, yup dia adalah laki-laki yang tadi memberi saran tentang pesananku. Dia salah satu barista yang sejak tadi aku perhatikan ketika meracik kopi.
“Kita harus bicara!” sahutku seraya menatap dalam ke arahnya.

                                                                 ***************


Café sudah hampir tutup, pengunjung pun sudah mulai sepi. Hanya tinggal Theo dengan buku sketsanya yang sejak tadi masih memandang barista di depannya yang mulai membereskan peralatannya dan melepaskan celemeknya.  Laki-laki itu menggunakan name tag disisi kiri bajunya. “Enigma Thor”, kombinasi nama yang aneh, mungkin dia terobsesi menjadi super hero dengan palu sakti di komik Thor. Laki-laki bertubuh atletis bertinggi sekitar 178 Cm, berat sekitar 68 Kg, berambut cepak dengan hair design berbentuk tribal disisi kiri kepalanya,  kulit putih khas asia berhias banyak tattoo di lengan dan mungkin bagian tubuh lainnya, mata sipit namun dengan bingkai alis yang tebal, disertai jambang dan kumis yang sengaja dibentuk sedemikian rupa sangat pas dengan hidungnya yang mancung, proporsi wajah laki-laki yang cukup seimbang. Mungkin bisa dibilang laki-laki ini cukup macho sebagai ALIEN yang menyamar menjadi manusia.
 
“Jangan dipandang lama-lama nanti kamu suka!” suara laki-laki itu terdengar dan disertai senyum menggoda Theo. Laki-laki itu kemudian berjalan menghampiri Theo, menggandeng tangannya kemudian mengajaknya duduk di bangku taman seberang café.
“Thor, panggil saja itu! Gimana rasa kopi buatanku? Kamu suka? Kamu harus berusaha sesering mungkin berkomunikasi dengan berbicara, rambut merah. Kita sekarang sedang berperan sebagai manusia.” Ucap Thor sembari menatapku.
“Apa kita tidak rugi energy jika banyak berbicara? Panggil aku Theo, jangan rambut merah!”
“Bumi itu kaya akan sumber makanan Theo, kamu tidak akan kehabisan energy bila berbicara, justru jika menggunakan Telephaty di dunia para manusia terlalu keras, itu akan menguras energymu. Berbicaralah.. Kita perlu beradaptasi di dunia para manusia.”

Thor menghela nafasnya kemudian menatap Theo, laki- laki itu kemudian meraih tangan Theo. Tangan gadis itu terasa sangat dingin, mungkin dia kehabisan energy ketika berusaha menemukan dirinya tadi. Thor merasa bersalah sudah menggoda Theo seperti tadi. Laki-laki itu kemudian menghasilkan cahaya dari kedua telapak tangannya, perlahan tangan Theo menjadi hangat. Thor mentransfer sebagian energynya untuk Theo.
Malam minggu ini akhirnya dihabiskan Theo dengan ngobrol ala manusia dengan teman barunya sebangsa ALIEN, bukan ALIEN pada umumnya yang anti social, laki-laki ini memiliki sifat yang sangat hangat dan bersahabat.  Mereka banyak berbincang tentang galaksi mereka masing-masing, tujuan mereka research ke bumi dan berbagai hal yang mereka ingin coba lakukan bersama di lain waktu. 

                                                                     ************

Senja ini Theo kembali menemani Elios untuk menghabiskan waktu di atap gedung kampus lagi. Theo ingin memulai pembicaraan, tapi dia takut hipotesisnya tentang Elios adalah ALIEN salah. Jadi Theo berusaha untuk memulai obrolan ringan lainnya terlebih dahulu.
“EL, kenapa kamu suka menghabiskan waktu disini?”
“Tempat ini sepi Theo.”
“Lalu kenapa kamu minta aku menemanimu disini?”
“Kamu berbeda.”
Elios kemudian tersenyum menatap Theo. Senyum yang sama seperti pertama kali mereka berkenalan. Laki-laki itu kemudian mengambil buku sketsa dari tangan Theo. Dia memperhatikan dengan seksama seluruh gambar karya Theo. Di halaman yang kosong di sisi kiri gambar barista yang semalam Theo buat , Elios menulis sesuatu tanpa  terlebih dulu izin pada Theo.

E.T.
Kepada kamu yang mencuri waktunya meski sedetik
Suatu saat aku akan mengambilnya kembali!
Merah terracotta..
Warna yang akan selalu melekat pada tanah bumi
Dan harus aku yang menjemputkan untuk dia.
Bukan kamu!

Elios tampak kesal melihat gambar barista itu ada di lembar terakhir buku sketsa Theo. Sikapnya membuat gadis itu menjadi bingung. Theo yang tidak paham bahasa puisi hanya bisa menebak. Sepertinya Elios kenal dengan barista di gambar itu. Yup, EL kenal dengan Thor, sepertinya begitu.
Elios kemudian mengembalikan buku sketsa Theo, bangkit dari tempatnya semula duduk. Mengambil ransel kemudian memakai hoodie jaketnya, biasanya bila sudah menutup kupluk hoodie jaketnya, Elios akan segera pergi dan berpisah dengan Theo. Namun kali ini, Elios menggandeng tangan Theo mengajaknnya pergi ke suatu tempat.

Elios memakaikan helm pada Theo dan menyiapkan motornya. Ini pertama kalinya Theo naik motor, dan itu bersama manusia aneh yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya. El kemudian menarik tangan Theo, meletakkannya di pinggangnya.  Theo pun paham, dia pernah memperhatikan manusia yang naik motor berdua biasanya melakukan hal itu demi safety berkendara. Perlahan Theo me-rilekskan tangannya memegang pinggang Elios.

Theo berusaha merasakan energy di tubuh Elios tapi dia tidak mendapati energy yang biasanya ada pada ALIEN, atau pun energy kuat seperti yang dimiliki Thor. Energy yang dimiliki Elios berbeda. Theo tidak bisa mentransfernya maupun mendefinisikan jenis energy apa yang dimiliki oleh Elios. Theo pun semakin bingung, karena kadang Elios seperti bisa membaca pikirannya, namun Theo tidak bisa melakukan hal sebaliknya terhadap Elios. Ntah kemana EL membawa Theo pergi, yang penting ini adalah pengalaman mengagumkan bagi Theo, menaiki kendaraan buatan manusia yang manual ini ternyata seru! Theo sangat menikmatinya, di atas motor dia bisa merasakan belaian udara yang bergerak menerpa kulit, pemandangan sepanjang jalan yang terus berganti memuaskan mata Theo. Selama ini Theo berpikir kendaraan buatan manusia itu manual dan terlalu kuno. Tapi sekarang pemikiran itu mulai berubah.

                                                                         ***********

“Kamu!  Berhenti ganggu hidupku!” ucap Elios pada Thor dengan nada tinggi sembari menunjuk Thor dengan telunjuknya. Yup ternyata Elios membawaku ke café tempat Thor bekerja.
Dengan tenang, Thor melepas celemek kerjanya, berjalan ke arah luar café dan memberi isyarat pada kami untuk keluar dari café. Thor masih sempat tersenyum menatap ku, memastikan semuanya akan baik-baik saja.
“Kalau masalahmu adalah ini.. Kita selesaikan nanti malam saja! Jangan disini! Aku tahu dimana kamu biasa bekerja.” Ucap Thor seraya mengembalikan sobekan kertas puisi yang pernah Elios berikan padaku. Aku bingung, ntah sejak kapan Thor mengambil sobekan kertas puisi itu dari buku sketsaku. Aku sendiri baru sadar sekarang, kertas itu sudah hilang dari selipan buku sketsaku. Pantas Elios marah, dia tidak suka puisi itu diambil orang lain.

Mereka memang sudah saling mengenal, kemungkinan bahwa Elios adalah ALIEN juga semakin besar. Ntah mengapa aku jadi berpikir bahwa Elios adalah pengarang buku-buku seni sastra terlarang yang ada di perpustakaan galaksi. Yup Elios adalah pengarang buku yang selama ini aku cari! Apa sebaiknya aku tanya pada Thor? Apa harus menunggu sampai nanti malam? Pikiran ku menjadi penuh dengan hipotesis dan rumusan masalah baru.

Aku meraih sobekan kertas puisi yang dikembalikan Thor, kemudian menyimpannya kembali di selipan buku sketsa ku. Sebelum Thor pergi kembali masuk ke dalam café, dia memberikan sesuatu padaku, tentunya tanpa sepengetahuan Elios.  Aku hanya berusah menjaga mereka supaya tetap damai. ALIEN yang sesungguhnya sangat menghindari pertikaian, kami adalah makhluk yang cinta damai. Secepatnya aku meletakkan benda pemberian Thor ke dalam tas.

                                                                       ********

Sesampai di rumah sementaranya, Theo meletakkan tasnya di meja kemudian perlahan merebahkan tubuhnya di kasur, sungguh hari yang melelahkan. Theo kemudian teringat dengan benda pemberian Thor. Gadis itu kemudian segera bangkit dari kasur kemudian mengambil tasnya di atas meja. Ada sesuatu yang dibungkus tissue, ada 1 biji kopi yang sudah di panggang dengan aroma yang sangat harum, beserta 1 gelang macramé dari tali rotan pengikat bungkus kopi, di tissue itu pun ada tulisan tangan Thor. Sungguh ALIEN yang kreatif gumam Theo..



“Aku kasih kamu 1 biji kopi harum, kamu pasti suka! Bonus gelang macramé dari tali rotan, aku belajar buat itu dari manusia. Ini juga seni..  -Thor Tampan.-”

Theo tersenyum membaca tulisan Thor di tissue itu, kemudian memakai gelang pemberian Thor. Menghirup aroma kopi panggang yang harum itu kemudian merebahkan tubuhnya di kasur kembali, menunggu waktu malam tiba untuk menyelesaikan masalah antara Thor dan Elios. Serta mencari tahu sebenarna ada apa diantara mereka berdua.

                                                               *********
                   

Bersambung..