E.T.
(The story of ALIEN) Part 2
(The story of ALIEN) Part 2
Lorong pertokoan Kota malam ini tampak ramai. Lalu lalang
kendaraan , lampu pertokoan warna warni, suara klakson yang berisik dan juga
tak lupa para manusia yang menghabiskan waktu malamnya di hiruk pikuk kehidupan
malam. Malam ini malam Minggu, di dunia para manusia biasanya mereka berjalan
berpasang-pasangan menghabiskan malam. Pemandangan yang unik dan membingungkan
bagiku. Aku masih belum paham apa
sebenarnya tujuan mereka menghabiskan waktu berdua seperti itu, khususnya di
malam Minggu. Bagiku setiap hari di dunia itu sama saja, berjalan begitu
lambat. Aku masih duduk di bangku taman
di tepi jalan raya Kota ini, sendirian, membaca secarik potongan kertas yang
kemarin aku peroleh dari laki-laki aneh itu, Elios. Aku baru sadar dia memberi
inisial yang sama dengan yang ku tulis di setiap karya lukisku, E.T. Apa Elios
juga Extra Terestrial seperti ku? Seharusnya
dia juga ALIEN? Aku membuat kesimpulan
seperti itu sementara ini.
Tiba-tiba aku mendengar suatu kontak telephaty yang berusaha
berkomunikasi denganku, signal suaranya cukup kuat, seharusnya objek itu berada
dekat denganku. Sepertinya objek ini
ALIEN yang memiliki kemampuan tephaty yang cukup kuat juga, aku berusaha
mencari dan berjalan perlahan mencari sumber suaranya.
“Hei.. Rambut merah,
bisakah kau temukan aku?”
Suara telephaty laki-laki itu terdengar sangat jelas. Aku
mempercepat langkah kakiku mencari sumber suara itu, hiruk pikuk kota
menyulitkan ku menemukannya. Sudah cukup lama sejak berada di bumi, aku tidak
berkomunikasi langsung dengan sesame bangsaku melalui telephaty. Hal ini
memerlukan penyesuaian.
“Hei.. hei.. intelegensimu menurun nona?”
Suara telephaty itu masih jelas terdengar dan mulai
mengejekku yang belum berhasil menemukannya. Aku semakin memusatkan pikiranku
untuk berkonsentrasi, dia harus tahu sudah mengejek siapa! Aku sudah menemukan
koordinasi sumber suara itu berada. Di café seberang jalan raya itu! Aku bergegas
menunggu lampu rambu lalu lintas berwarna hijau, kemudian segera menyebrang di
aspal yang bercorak putih ini, setidaknya ini yang biasa manusia lakukan untuk
menyebrangi jalan.
“Haha.. nice try! Kamu sudah tampak seperti manusia sungguhan
rambut merah..Coba berusaha lebih keras lagi untuk menemukanku!”
“Lihat saja nanti jika aku menemukanmu! Suara sumbang!”
Aku menjawab suara itu dengan penuh kekesalan, siapa
sebenarnya ALIEN ini, suaranya sangat asing, kemungkinan kita beda galaksi. Aku
yakin belum pernah mengenali tone suara telephaty seperti dia. Aku membuka
pintu café yang kini ada di depanku, tampak sangat ramai, banyak manusia yang
berkunjung di café ini. Wangi aroma kopi
sangat menusuk indera penciumanku. Tapi ntah kenapa aku menyukai aroma ini
Baru
pertama kali ini aku berkunjung ke café, khususnya kedai kopi seperti ini.
Sejenak aku jadi lupa, tujuan awalku ke café ini untuk mencari sumber suara
telephaty. Aku justru tertarik ingin mencoba minuman para manusia ini. Aku
duduk memilih tempat yang masih kosong di sisi depan, sangat dekat dengan
barista yang menyiapkan kopi. Sungguh aroma yang menyenangkan!
“Mau pesan apa mbak?” seorang perempuan bertubuh mungil
menghampiriku seraya memberikan daftar menu. Aku pernah membaca jenis-jenis
kopi, tapi baru kali ini aku mencoba untuk meminumnya. Jujur aku sangat
bingung, dan tidak paham.
“Kopi yang paling special di café ini saja.” Ucap salah
seorang laki-laki yang berdiri di deretan barista yang sibuk menyiapkan kopi di
sisi depan.
Perempuan mungil itu kemudian menatap ke arahku. Aku hanya
mengangguk mengiyakan pernyataan pria itu tanda setuju akan sarannya. Kemudian dia
mencatat menunya, tersenyum dan pergi menuju meja barista, menempel pesananku.
Mataku tidak lepas memperhatikan gerakan para barista meracik
kopi, mereka terlihat sangat cekatan, dan keren. Aku juga melihat, mereka
melukis menggunakan busa kopi. Wow! Aku harus belajar melukis dengan busa kopi
juga. Minuman itu tak hanya beraroma harum, namun juga memiliki tampilan yang
indah.
“ini juga seni. Kamu
bisa belajar denganku jika ingin bisa melukis kopi, rambut merah..”
Suara itu muncul lagi. Kali ini aku tahu sumber suaranya, yup
dia adalah laki-laki yang tadi memberi saran tentang pesananku. Dia salah satu
barista yang sejak tadi aku perhatikan ketika meracik kopi.
“Kita harus bicara!” sahutku seraya
menatap dalam ke arahnya.
Café sudah hampir tutup, pengunjung pun sudah mulai sepi.
Hanya tinggal Theo dengan buku sketsanya yang sejak tadi masih memandang
barista di depannya yang mulai membereskan peralatannya dan melepaskan celemeknya. Laki-laki itu menggunakan name tag disisi
kiri bajunya. “Enigma Thor”,
kombinasi nama yang aneh, mungkin dia terobsesi menjadi super hero dengan palu
sakti di komik Thor. Laki-laki bertubuh atletis bertinggi sekitar 178 Cm, berat
sekitar 68 Kg, berambut cepak dengan hair design berbentuk tribal disisi kiri
kepalanya, kulit putih khas asia berhias
banyak tattoo di lengan dan mungkin bagian tubuh lainnya, mata sipit namun
dengan bingkai alis yang tebal, disertai jambang dan kumis yang sengaja
dibentuk sedemikian rupa sangat pas dengan hidungnya yang mancung, proporsi
wajah laki-laki yang cukup seimbang. Mungkin bisa dibilang laki-laki ini cukup
macho sebagai ALIEN yang menyamar menjadi manusia.
“Jangan dipandang lama-lama nanti kamu suka!” suara laki-laki
itu terdengar dan disertai senyum menggoda Theo. Laki-laki itu kemudian
berjalan menghampiri Theo, menggandeng tangannya kemudian mengajaknya duduk di
bangku taman seberang café.
“Thor, panggil saja itu! Gimana rasa kopi buatanku? Kamu
suka? Kamu harus berusaha sesering mungkin berkomunikasi dengan berbicara,
rambut merah. Kita sekarang sedang berperan sebagai manusia.” Ucap Thor sembari
menatapku.
“Apa kita tidak rugi energy jika banyak berbicara? Panggil
aku Theo, jangan rambut merah!”
“Bumi itu kaya akan sumber makanan Theo, kamu tidak akan
kehabisan energy bila berbicara, justru jika menggunakan Telephaty di dunia
para manusia terlalu keras, itu akan menguras energymu. Berbicaralah.. Kita
perlu beradaptasi di dunia para manusia.”
Thor menghela nafasnya kemudian menatap Theo, laki- laki itu
kemudian meraih tangan Theo. Tangan gadis itu terasa sangat dingin, mungkin dia
kehabisan energy ketika berusaha menemukan dirinya tadi. Thor merasa bersalah
sudah menggoda Theo seperti tadi. Laki-laki itu kemudian menghasilkan cahaya
dari kedua telapak tangannya, perlahan tangan Theo menjadi hangat. Thor
mentransfer sebagian energynya untuk Theo.
Malam minggu ini akhirnya dihabiskan Theo dengan ngobrol ala
manusia dengan teman barunya sebangsa ALIEN, bukan ALIEN pada umumnya yang anti
social, laki-laki ini memiliki sifat yang sangat hangat dan bersahabat. Mereka banyak berbincang tentang galaksi
mereka masing-masing, tujuan mereka research ke bumi dan berbagai hal yang
mereka ingin coba lakukan bersama di lain waktu.
************
Senja ini Theo kembali menemani Elios untuk menghabiskan
waktu di atap gedung kampus lagi. Theo ingin memulai pembicaraan, tapi dia
takut hipotesisnya tentang Elios adalah ALIEN salah. Jadi Theo berusaha untuk
memulai obrolan ringan lainnya terlebih dahulu.
“EL, kenapa kamu suka menghabiskan waktu disini?”
“Tempat ini sepi Theo.”
“Lalu kenapa kamu minta aku menemanimu disini?”
“Kamu berbeda.”
Elios kemudian tersenyum menatap Theo. Senyum yang sama
seperti pertama kali mereka berkenalan. Laki-laki itu kemudian mengambil buku
sketsa dari tangan Theo. Dia memperhatikan dengan seksama seluruh gambar karya
Theo. Di halaman yang kosong di sisi kiri gambar barista yang semalam Theo buat
, Elios menulis sesuatu tanpa terlebih
dulu izin pada Theo.
E.T.
Kepada kamu yang mencuri
waktunya meski sedetik
Suatu saat aku akan mengambilnya
kembali!
Merah terracotta..
Warna yang akan selalu melekat
pada tanah bumi
Dan harus aku yang menjemputkan
untuk dia.
Bukan kamu!
Elios tampak kesal melihat gambar barista itu ada di lembar
terakhir buku sketsa Theo. Sikapnya membuat gadis itu menjadi bingung. Theo
yang tidak paham bahasa puisi hanya bisa menebak. Sepertinya Elios kenal dengan
barista di gambar itu. Yup, EL kenal dengan Thor, sepertinya begitu.
Elios kemudian mengembalikan buku sketsa Theo, bangkit dari
tempatnya semula duduk. Mengambil ransel kemudian memakai hoodie jaketnya,
biasanya bila sudah menutup kupluk hoodie jaketnya, Elios akan segera pergi dan
berpisah dengan Theo. Namun kali ini, Elios menggandeng tangan Theo
mengajaknnya pergi ke suatu tempat.
Elios memakaikan helm pada Theo dan menyiapkan motornya. Ini
pertama kalinya Theo naik motor, dan itu bersama manusia aneh yang tidak bisa
ditebak jalan pikirannya. El kemudian menarik tangan Theo, meletakkannya di
pinggangnya. Theo pun paham, dia pernah
memperhatikan manusia yang naik motor berdua biasanya melakukan hal itu demi
safety berkendara. Perlahan Theo me-rilekskan tangannya memegang pinggang Elios.
Theo berusaha merasakan energy di tubuh Elios tapi dia tidak
mendapati energy yang biasanya ada pada ALIEN, atau pun energy kuat seperti
yang dimiliki Thor. Energy yang dimiliki Elios berbeda. Theo tidak bisa
mentransfernya maupun mendefinisikan jenis energy apa yang dimiliki oleh Elios.
Theo pun semakin bingung, karena kadang Elios seperti bisa membaca pikirannya,
namun Theo tidak bisa melakukan hal sebaliknya terhadap Elios. Ntah kemana EL
membawa Theo pergi, yang penting ini adalah pengalaman mengagumkan bagi Theo,
menaiki kendaraan buatan manusia yang manual ini ternyata seru! Theo sangat
menikmatinya, di atas motor dia bisa merasakan belaian udara yang bergerak
menerpa kulit, pemandangan sepanjang jalan yang terus berganti memuaskan mata
Theo. Selama ini Theo berpikir kendaraan buatan manusia itu manual dan terlalu
kuno. Tapi sekarang pemikiran itu mulai berubah.
***********
“Kamu! Berhenti ganggu hidupku!” ucap Elios pada
Thor dengan nada tinggi sembari menunjuk Thor dengan telunjuknya. Yup ternyata
Elios membawaku ke café tempat Thor bekerja.
Dengan tenang, Thor melepas celemek kerjanya, berjalan ke arah
luar café dan memberi isyarat pada kami untuk keluar dari café. Thor masih
sempat tersenyum menatap ku, memastikan semuanya akan baik-baik saja.
“Kalau masalahmu adalah ini.. Kita selesaikan nanti malam
saja! Jangan disini! Aku tahu dimana kamu biasa bekerja.” Ucap Thor seraya
mengembalikan sobekan kertas puisi yang pernah Elios berikan padaku. Aku
bingung, ntah sejak kapan Thor mengambil sobekan kertas puisi itu dari buku
sketsaku. Aku sendiri baru sadar sekarang, kertas itu sudah hilang dari selipan
buku sketsaku. Pantas Elios marah, dia tidak suka puisi itu diambil orang lain.
Mereka memang sudah saling mengenal, kemungkinan bahwa Elios
adalah ALIEN juga semakin besar. Ntah mengapa aku jadi berpikir bahwa Elios
adalah pengarang buku-buku seni sastra terlarang yang ada di perpustakaan
galaksi. Yup Elios adalah pengarang buku yang selama ini aku cari! Apa
sebaiknya aku tanya pada Thor? Apa harus menunggu sampai nanti malam? Pikiran
ku menjadi penuh dengan hipotesis dan rumusan masalah baru.
Aku meraih sobekan kertas puisi yang
dikembalikan Thor, kemudian menyimpannya kembali di selipan buku sketsa ku.
Sebelum Thor pergi kembali masuk ke dalam café, dia memberikan sesuatu padaku,
tentunya tanpa sepengetahuan Elios. Aku
hanya berusah menjaga mereka supaya tetap damai. ALIEN yang sesungguhnya sangat
menghindari pertikaian, kami adalah makhluk yang cinta damai. Secepatnya aku
meletakkan benda pemberian Thor ke dalam tas.
********
Sesampai di rumah sementaranya, Theo meletakkan tasnya di
meja kemudian perlahan merebahkan tubuhnya di kasur, sungguh hari yang
melelahkan. Theo kemudian teringat dengan benda pemberian Thor. Gadis itu
kemudian segera bangkit dari kasur kemudian mengambil tasnya di atas meja. Ada
sesuatu yang dibungkus tissue, ada 1 biji kopi yang sudah di panggang dengan
aroma yang sangat harum, beserta 1 gelang macramé dari tali rotan pengikat
bungkus kopi, di tissue itu pun ada tulisan tangan Thor. Sungguh ALIEN yang
kreatif gumam Theo..
“Aku kasih kamu 1 biji kopi
harum, kamu pasti suka! Bonus gelang macramé dari tali rotan, aku belajar buat
itu dari manusia. Ini juga seni.. -Thor
Tampan.-”
Theo tersenyum membaca tulisan Thor di tissue itu, kemudian
memakai gelang pemberian Thor. Menghirup aroma kopi panggang yang harum itu
kemudian merebahkan tubuhnya di kasur kembali, menunggu waktu malam tiba untuk
menyelesaikan masalah antara Thor dan Elios. Serta mencari tahu sebenarna ada
apa diantara mereka berdua.
*********
Bersambung..



Tidak ada komentar:
Posting Komentar