Jumat, 02 Juni 2017

E.T. (The story of ALIEN) Part 2


E.T.
(The story of ALIEN) Part 2

Lorong pertokoan Kota malam ini tampak ramai. Lalu lalang kendaraan , lampu pertokoan warna warni, suara klakson yang berisik dan juga tak lupa para manusia yang menghabiskan waktu malamnya di hiruk pikuk kehidupan malam. Malam ini malam Minggu, di dunia para manusia biasanya mereka berjalan berpasang-pasangan menghabiskan malam. Pemandangan yang unik dan membingungkan bagiku.  Aku masih belum paham apa sebenarnya tujuan mereka menghabiskan waktu berdua seperti itu, khususnya di malam Minggu. Bagiku setiap hari di dunia itu sama saja, berjalan begitu lambat.  Aku masih duduk di bangku taman di tepi jalan raya Kota ini, sendirian, membaca secarik potongan kertas yang kemarin aku peroleh dari laki-laki aneh itu, Elios. Aku baru sadar dia memberi inisial yang sama dengan yang ku tulis di setiap karya lukisku, E.T. Apa Elios juga Extra Terestrial seperti ku?  Seharusnya dia juga ALIEN?  Aku membuat kesimpulan seperti itu sementara ini.
Tiba-tiba aku mendengar suatu kontak telephaty yang berusaha berkomunikasi denganku, signal suaranya cukup kuat, seharusnya objek itu berada dekat denganku.  Sepertinya objek ini ALIEN yang memiliki kemampuan tephaty yang cukup kuat juga, aku berusaha mencari dan berjalan perlahan mencari sumber suaranya.

 “Hei.. Rambut merah, bisakah kau temukan aku?”
Suara telephaty laki-laki itu terdengar sangat jelas. Aku mempercepat langkah kakiku mencari sumber suara itu, hiruk pikuk kota menyulitkan ku menemukannya. Sudah cukup lama sejak berada di bumi, aku tidak berkomunikasi langsung dengan sesame bangsaku melalui telephaty. Hal ini memerlukan penyesuaian.

“Hei.. hei.. intelegensimu menurun nona?”
Suara telephaty itu masih jelas terdengar dan mulai mengejekku yang belum berhasil menemukannya. Aku semakin memusatkan pikiranku untuk berkonsentrasi, dia harus tahu sudah mengejek siapa! Aku sudah menemukan koordinasi sumber suara itu berada. Di café seberang jalan raya itu! Aku bergegas menunggu lampu rambu lalu lintas berwarna hijau, kemudian segera menyebrang di aspal yang bercorak putih ini, setidaknya ini yang biasa manusia lakukan untuk menyebrangi jalan. 

“Haha.. nice try! Kamu sudah tampak seperti manusia sungguhan rambut merah..Coba berusaha lebih keras lagi untuk menemukanku!”

“Lihat saja nanti jika aku menemukanmu! Suara sumbang!”

Aku menjawab suara itu dengan penuh kekesalan, siapa sebenarnya ALIEN ini, suaranya sangat asing, kemungkinan kita beda galaksi. Aku yakin belum pernah mengenali tone suara telephaty seperti dia. Aku membuka pintu café yang kini ada di depanku, tampak sangat ramai, banyak manusia yang berkunjung di café ini.  Wangi aroma kopi sangat menusuk indera penciumanku. Tapi ntah kenapa aku menyukai aroma ini


Baru pertama kali ini aku berkunjung ke café, khususnya kedai kopi seperti ini. Sejenak aku jadi lupa, tujuan awalku ke café ini untuk mencari sumber suara telephaty. Aku justru tertarik ingin mencoba minuman para manusia ini. Aku duduk memilih tempat yang masih kosong di sisi depan, sangat dekat dengan barista yang menyiapkan kopi. Sungguh aroma yang menyenangkan!

“Mau pesan apa mbak?” seorang perempuan bertubuh mungil menghampiriku seraya memberikan daftar menu. Aku pernah membaca jenis-jenis kopi, tapi baru kali ini aku mencoba untuk meminumnya. Jujur aku sangat bingung, dan tidak paham.

“Kopi yang paling special di café ini saja.” Ucap salah seorang laki-laki yang berdiri di deretan barista yang sibuk menyiapkan kopi di sisi depan. 

Perempuan mungil itu kemudian menatap ke arahku. Aku hanya mengangguk mengiyakan pernyataan pria itu tanda setuju akan sarannya. Kemudian dia mencatat menunya, tersenyum dan pergi menuju meja barista, menempel pesananku. 

Mataku tidak lepas memperhatikan gerakan para barista meracik kopi, mereka terlihat sangat cekatan, dan keren. Aku juga melihat, mereka melukis menggunakan busa kopi. Wow! Aku harus belajar melukis dengan busa kopi juga. Minuman itu tak hanya beraroma harum, namun juga memiliki tampilan yang indah.
“ini juga seni.  Kamu bisa belajar denganku jika ingin bisa melukis kopi, rambut merah..”

Suara itu muncul lagi. Kali ini aku tahu sumber suaranya, yup dia adalah laki-laki yang tadi memberi saran tentang pesananku. Dia salah satu barista yang sejak tadi aku perhatikan ketika meracik kopi.
“Kita harus bicara!” sahutku seraya menatap dalam ke arahnya.

                                                                 ***************


Café sudah hampir tutup, pengunjung pun sudah mulai sepi. Hanya tinggal Theo dengan buku sketsanya yang sejak tadi masih memandang barista di depannya yang mulai membereskan peralatannya dan melepaskan celemeknya.  Laki-laki itu menggunakan name tag disisi kiri bajunya. “Enigma Thor”, kombinasi nama yang aneh, mungkin dia terobsesi menjadi super hero dengan palu sakti di komik Thor. Laki-laki bertubuh atletis bertinggi sekitar 178 Cm, berat sekitar 68 Kg, berambut cepak dengan hair design berbentuk tribal disisi kiri kepalanya,  kulit putih khas asia berhias banyak tattoo di lengan dan mungkin bagian tubuh lainnya, mata sipit namun dengan bingkai alis yang tebal, disertai jambang dan kumis yang sengaja dibentuk sedemikian rupa sangat pas dengan hidungnya yang mancung, proporsi wajah laki-laki yang cukup seimbang. Mungkin bisa dibilang laki-laki ini cukup macho sebagai ALIEN yang menyamar menjadi manusia.
 
“Jangan dipandang lama-lama nanti kamu suka!” suara laki-laki itu terdengar dan disertai senyum menggoda Theo. Laki-laki itu kemudian berjalan menghampiri Theo, menggandeng tangannya kemudian mengajaknya duduk di bangku taman seberang café.
“Thor, panggil saja itu! Gimana rasa kopi buatanku? Kamu suka? Kamu harus berusaha sesering mungkin berkomunikasi dengan berbicara, rambut merah. Kita sekarang sedang berperan sebagai manusia.” Ucap Thor sembari menatapku.
“Apa kita tidak rugi energy jika banyak berbicara? Panggil aku Theo, jangan rambut merah!”
“Bumi itu kaya akan sumber makanan Theo, kamu tidak akan kehabisan energy bila berbicara, justru jika menggunakan Telephaty di dunia para manusia terlalu keras, itu akan menguras energymu. Berbicaralah.. Kita perlu beradaptasi di dunia para manusia.”

Thor menghela nafasnya kemudian menatap Theo, laki- laki itu kemudian meraih tangan Theo. Tangan gadis itu terasa sangat dingin, mungkin dia kehabisan energy ketika berusaha menemukan dirinya tadi. Thor merasa bersalah sudah menggoda Theo seperti tadi. Laki-laki itu kemudian menghasilkan cahaya dari kedua telapak tangannya, perlahan tangan Theo menjadi hangat. Thor mentransfer sebagian energynya untuk Theo.
Malam minggu ini akhirnya dihabiskan Theo dengan ngobrol ala manusia dengan teman barunya sebangsa ALIEN, bukan ALIEN pada umumnya yang anti social, laki-laki ini memiliki sifat yang sangat hangat dan bersahabat.  Mereka banyak berbincang tentang galaksi mereka masing-masing, tujuan mereka research ke bumi dan berbagai hal yang mereka ingin coba lakukan bersama di lain waktu. 

                                                                     ************

Senja ini Theo kembali menemani Elios untuk menghabiskan waktu di atap gedung kampus lagi. Theo ingin memulai pembicaraan, tapi dia takut hipotesisnya tentang Elios adalah ALIEN salah. Jadi Theo berusaha untuk memulai obrolan ringan lainnya terlebih dahulu.
“EL, kenapa kamu suka menghabiskan waktu disini?”
“Tempat ini sepi Theo.”
“Lalu kenapa kamu minta aku menemanimu disini?”
“Kamu berbeda.”
Elios kemudian tersenyum menatap Theo. Senyum yang sama seperti pertama kali mereka berkenalan. Laki-laki itu kemudian mengambil buku sketsa dari tangan Theo. Dia memperhatikan dengan seksama seluruh gambar karya Theo. Di halaman yang kosong di sisi kiri gambar barista yang semalam Theo buat , Elios menulis sesuatu tanpa  terlebih dulu izin pada Theo.

E.T.
Kepada kamu yang mencuri waktunya meski sedetik
Suatu saat aku akan mengambilnya kembali!
Merah terracotta..
Warna yang akan selalu melekat pada tanah bumi
Dan harus aku yang menjemputkan untuk dia.
Bukan kamu!

Elios tampak kesal melihat gambar barista itu ada di lembar terakhir buku sketsa Theo. Sikapnya membuat gadis itu menjadi bingung. Theo yang tidak paham bahasa puisi hanya bisa menebak. Sepertinya Elios kenal dengan barista di gambar itu. Yup, EL kenal dengan Thor, sepertinya begitu.
Elios kemudian mengembalikan buku sketsa Theo, bangkit dari tempatnya semula duduk. Mengambil ransel kemudian memakai hoodie jaketnya, biasanya bila sudah menutup kupluk hoodie jaketnya, Elios akan segera pergi dan berpisah dengan Theo. Namun kali ini, Elios menggandeng tangan Theo mengajaknnya pergi ke suatu tempat.

Elios memakaikan helm pada Theo dan menyiapkan motornya. Ini pertama kalinya Theo naik motor, dan itu bersama manusia aneh yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya. El kemudian menarik tangan Theo, meletakkannya di pinggangnya.  Theo pun paham, dia pernah memperhatikan manusia yang naik motor berdua biasanya melakukan hal itu demi safety berkendara. Perlahan Theo me-rilekskan tangannya memegang pinggang Elios.

Theo berusaha merasakan energy di tubuh Elios tapi dia tidak mendapati energy yang biasanya ada pada ALIEN, atau pun energy kuat seperti yang dimiliki Thor. Energy yang dimiliki Elios berbeda. Theo tidak bisa mentransfernya maupun mendefinisikan jenis energy apa yang dimiliki oleh Elios. Theo pun semakin bingung, karena kadang Elios seperti bisa membaca pikirannya, namun Theo tidak bisa melakukan hal sebaliknya terhadap Elios. Ntah kemana EL membawa Theo pergi, yang penting ini adalah pengalaman mengagumkan bagi Theo, menaiki kendaraan buatan manusia yang manual ini ternyata seru! Theo sangat menikmatinya, di atas motor dia bisa merasakan belaian udara yang bergerak menerpa kulit, pemandangan sepanjang jalan yang terus berganti memuaskan mata Theo. Selama ini Theo berpikir kendaraan buatan manusia itu manual dan terlalu kuno. Tapi sekarang pemikiran itu mulai berubah.

                                                                         ***********

“Kamu!  Berhenti ganggu hidupku!” ucap Elios pada Thor dengan nada tinggi sembari menunjuk Thor dengan telunjuknya. Yup ternyata Elios membawaku ke café tempat Thor bekerja.
Dengan tenang, Thor melepas celemek kerjanya, berjalan ke arah luar café dan memberi isyarat pada kami untuk keluar dari café. Thor masih sempat tersenyum menatap ku, memastikan semuanya akan baik-baik saja.
“Kalau masalahmu adalah ini.. Kita selesaikan nanti malam saja! Jangan disini! Aku tahu dimana kamu biasa bekerja.” Ucap Thor seraya mengembalikan sobekan kertas puisi yang pernah Elios berikan padaku. Aku bingung, ntah sejak kapan Thor mengambil sobekan kertas puisi itu dari buku sketsaku. Aku sendiri baru sadar sekarang, kertas itu sudah hilang dari selipan buku sketsaku. Pantas Elios marah, dia tidak suka puisi itu diambil orang lain.

Mereka memang sudah saling mengenal, kemungkinan bahwa Elios adalah ALIEN juga semakin besar. Ntah mengapa aku jadi berpikir bahwa Elios adalah pengarang buku-buku seni sastra terlarang yang ada di perpustakaan galaksi. Yup Elios adalah pengarang buku yang selama ini aku cari! Apa sebaiknya aku tanya pada Thor? Apa harus menunggu sampai nanti malam? Pikiran ku menjadi penuh dengan hipotesis dan rumusan masalah baru.

Aku meraih sobekan kertas puisi yang dikembalikan Thor, kemudian menyimpannya kembali di selipan buku sketsa ku. Sebelum Thor pergi kembali masuk ke dalam café, dia memberikan sesuatu padaku, tentunya tanpa sepengetahuan Elios.  Aku hanya berusah menjaga mereka supaya tetap damai. ALIEN yang sesungguhnya sangat menghindari pertikaian, kami adalah makhluk yang cinta damai. Secepatnya aku meletakkan benda pemberian Thor ke dalam tas.

                                                                       ********

Sesampai di rumah sementaranya, Theo meletakkan tasnya di meja kemudian perlahan merebahkan tubuhnya di kasur, sungguh hari yang melelahkan. Theo kemudian teringat dengan benda pemberian Thor. Gadis itu kemudian segera bangkit dari kasur kemudian mengambil tasnya di atas meja. Ada sesuatu yang dibungkus tissue, ada 1 biji kopi yang sudah di panggang dengan aroma yang sangat harum, beserta 1 gelang macramé dari tali rotan pengikat bungkus kopi, di tissue itu pun ada tulisan tangan Thor. Sungguh ALIEN yang kreatif gumam Theo..



“Aku kasih kamu 1 biji kopi harum, kamu pasti suka! Bonus gelang macramé dari tali rotan, aku belajar buat itu dari manusia. Ini juga seni..  -Thor Tampan.-”

Theo tersenyum membaca tulisan Thor di tissue itu, kemudian memakai gelang pemberian Thor. Menghirup aroma kopi panggang yang harum itu kemudian merebahkan tubuhnya di kasur kembali, menunggu waktu malam tiba untuk menyelesaikan masalah antara Thor dan Elios. Serta mencari tahu sebenarna ada apa diantara mereka berdua.

                                                               *********
                   

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar