Rabu, 31 Mei 2017

E.T. (The story of ALIEN) Part 1





 E.T.
(The story of ALIEN) Part 1

Apa yang kalian bayangkan ketika mendengar kata “ALIEN” ?Makhluk cebol dengan kepala botak, berdahi lebar, mata besar hitam, kulit berwarna hijau?Atau kalian membayangkan ALIEN itu seperti makhluk sempurna di drama Korea dengan sejuta pesona, keajaiban dan kekuatannya? Stop imajinasi liar kalian tentang ALIEN tersebut. ALIEN lebih manusiawi dari apa yang kalian pikirkan. Yup kalian tidak sedang salah membaca, Ku ulangi lagi, ALIEN adalah makhluk yang lebih manusiawi dari kalian para manusia. Dengan bangga Ku ucapkan, aku adalah ALIEN yang manusiawi.
Ada banyak teori yang tidak terpecahkan mengenai ALIEN, ada banyak hipotesis juga yang dibuat manusia untuk meneliti kebenaran adaya kami diantara kalian.Ada seseorang yang dengan bangga mengabadikan keberadaan UFO atau piring terbang melalui foto, yang diyakini adalah pesawat kami bangsa ALIEN untuk memasuki bumi.Ada juga yang meggambarkan sosok kami seperti makhluk hijau cebol yang tadi di sebutkan di awal.Itu sebuah berita keberhasilan bagi bangsa kami.Sesungguhnya itu semua memang kami rekayasa untuk mengalihkan pikiran para manusia, sehingga keberadaan kami sesungguhnya di lingkungan mereka justru tidak terlacak.

Teknologi kami jauh lebih canggih dari pesawat piringan murahan yang mereka gambarkan, jangankan untuk sampai ke bumi, sesungguhnya UFO sudah habis terbakar bila bergesekan dengan atmosfer bumi bila benar-benar kami terbangkan dari tempat kami berasal. Perlu kalian ketahui, kami berasal dari berbagai galaksi yang berbeda. Seperti galaksi yang kalian para manusia punya, Galaksi Bima Sakti dimana matahari sebagai pusat tata surya planetnya. Seperti itu juga galaksi tempat kami tinggal, dengan bintang lain sebagai pusat tata surya. 

Kami adalah makhluk yang haus akan pengetahuan, itulah yang menyebabkan kami “suka” berexplorasi ke galaksi lain. Meski pun teknologi kami jauh lebih canggih dibanding manusia, tapi ada berbagai hal yang kami tidak punya yaitu keahlian di bidang seni, hubungan social dan rasa cinta. ALIEN di galaksi kami immortal, populasi kami stabil, kami tidak berkembang biak, kami tidak mengalami masa tua & mati, kami hanya mengalami masa daur ulang. Ketika masa daur ulang tiba, semua memori kita akan terhapus dan kembali mencari pengetahuan dari awal.

Mengenai makhluk hijau cebol yang selama ini kalian anggap sebagai ALIEN, mereka sebenernya hanyalah peliharaan kami, yang kami gunakan sebagai pengalihan isu.Mungkin kalau di dunia manusia, mereka sebangsa anjing yang penurut & cute. Jangan banyangkan ALFALINK adalah makhluk yang cute juga, imajinasi kalian akan gagal. Yup makhluk terssebut adalah ALFALINK, mereka dapat melacak dimana “Tuan-nya” berada dan mengirimkan signal bahaya ke galaksi kami apabila ada pelanggaran atau masalah di dunia manusia.
                                                                    ********                      


“Elenia Theodore” panggil dosen mata kuliah seni lukis membuyarkan lamunan ku akan Galaksi Terracotta nu jauh disana. Aku menoleh ke arahnya yang ternyata memperhatikan lukisan yang ku buat dari sisi kanan dengan seksama.
“Lukisan kamu ini abstraknya masih belum matang, masih terpengaruh gaya naturalis. Coba kamu perbaiki..” ucap sang Dosen dengan dahi yang berkerut. 

Aku tidak merespon dan hanya mencelup berkali-kali kuas lukis ke minyak pembersih dan mulai mencampur warna-warna cat minyak di palet menjadi warna merah temaram coklat yang aku inginkan.

Seni memang menyenangkan, tapi dunia manusia benar-benar melelahkan.Ada banyak hal yang perlu kami bangsa ALIEN lakukan secara manual di dunia manusia.Jika biasanya kami berkomunikasi antar ALIEN bisa melalui telepathi, tidak mengurangi energy untuk berbicara, berjalan jauh, menaiki mobil atau kendaran kotak yang penuh sesak. Kami tidak membutuhkan itu semua.Semua sudah terkoneksi, kami hanya tinggal memikirkan tempat yang kami tuju. Dan blink..kami sudah ada di sana. Kami paham tapa perlu berbicara, atau pun  tanpa perlu menyusun banyak kata- kata indah hanya untuk mencapai maksud tertentu yang sebenarnya adalah simple. Manusia itu makhluk yang membingungkan,kadang apa yang mereka pikirkan berbeda dengan apa yang mereka ucapkan. Seperti dosenku tadi.Dia berbicara seolah-olah karya ku kurang sempurna.Padahal aku tahu benar di pikirannya, karyaku punya nilai jual yang tinggi bila dijual di pameran lukisan besok. Uang? Mengapa banyak manusia begitu tergila-gila pada uang.Banyak pemikiran ku yang belum terpecahkan hingga hari ini.

Seni lukis adalah satu-satunya hal yang membuatku terkadang menikmati dunia manusia yang membingungkan. Namaku di dunia ini adalah Elenia Theodore, manusia- manusia di sekitarku sering memanggilku Theo. Jangan pernah mengkhayalkan fisik ku secantik bintang-bintang drama korea yang cute. Aku hanya gadis biasa.Ras yang aku transformasikan di skala sekarang adalah ras orang Asia kebanyakan. Tinggi sekitar 167 cm, berat 50 Kg, rambut cokelat merah ikal panjang terurai, kulit kuning langsat, dan sepasang mata bulat hitam, dibingkai alis yang lumayan tebal beserta bibir yang tipis.  Standar! Itulah fisik seorang Theo yang bisa kalian imajinasikan sndiri.

Selama dalam masa research di dunia manusia, kami bangsa ALIEN dilarang untuk terlalu membangun hubungan social dengan manusia lainnya.Apalagi kalau membahas soal cinta atau perasaan yang “menye-menye”, kami bisa secepatnya dideportasi kembali ke Galaksi kami. Dan seluruh memori pengetahuan kami akan kembali dari 0. Itu proses daur ulang yang sebenarnya paling dihindari seluruh bangsa kami.

“Kamu bisa mencintai banyak orang semasa hidupmu, namun melupakan seseorang dengan tidak atas kuasamu sendiri itu jauh lebih menyakitkan  Butuh banyak energy yang terbuang untuk kembali mencintai & melupakan. Dan aku memilih untuk terus mengulang hingga kamu yang ku lupakan bisa kembali..”

Kutipan itu pernah aku baca dari salah satu buku karya ALIEN di perpustakaan Galaksi.  Penulisnya adalah ALIEN yang sudah berulang kali melakukan kesalahan yang sama dan terkena proses daur ulang. Namun ALIEN itu tetap tidak jera dan selalu mempelajari soal CINTA.Buku-buku karyanya selalu diletakan di koleksi buku terlarang dengan pengalaman berlapis.Rasa penasaranku membuatku selalu berhasil mencuri untuk membaca buku-buku karyanya. Aku justru semakin penasaran dengan apa yang dimaksud dengan Cinta?  Mengapa sang penulis itu selalu tidak jera untuk jatuh cinta? Dimana penulis itu sekarang?Apa dia sudah ada di daur ulang periode ku sekarang? Serius! Aku ingin bertemu kamu..Kamu adalah pengetahuan yang memotivasiku untuk terus ada di dunia manusia.Hanya kamu yang bisa menjelaskan semua dengan rinci.  Aku haus pengetahuan tentang kamu.. Yup, tentang kamu..
                                                                        *****
Suasana atap gedung kampus tempat tower-tower air berjejer rapi tampak sepi. Hanya ada seseorang yang memiliki kebiasaan aneh menghabiskan waktu di atas sana. Dia adalah Elios Thimothy. Orang-orang memanggilnya “EL”. Pemuda berpostur jangkung kurus dengan jaket hoodie andalannya berawarna-warna gelap, bertingggi sekitar 181 cm, berat 64 Kg,rambut hitam cenderung agak gondrong, berkulit cokelat, dengan sepasang bola mata coklat berbingkai alis tebal, disertai bibir yang sedikit tebal.Pemuda ini terkenal anti social, penyendiri dan terkesan misterius.Banyak berita miring yang menyebutkan bahwa EL adalah seorang “pemakai”, EL adalah seorang pembunuh bayaran, bad boy, dan sejuta peran antagonis yang ditujukan orang-orang terhadap EL. Namun El tetaplah menjadi pribadi yang misterius dengan hobbynya menyendiri di atap gedung kampus.

Tak banyak tahu apa sebenarnya yang dilakukan EL di atas sana, mereka hanya menebak-nebak EL sedang memakai drugs disana, EL sedang mencari inspirasi cara membunuh orang yang baru, atau EL sedang mengintai mencari target wanita yang mau dijadikan korban cinta selanjutnya dari atas sana. Ntahlah..hingga Theo si pembaca pikiran berusaha untuk mencari tahu siapa sebenarnya EL..

Pertemuan mereka pertama kali dimulai ketika Theo berusaha menghubungi ALFALINK peliharaannya untuk member kabar ke galaksimya. Di atap gedung Theo bertemu dengan EL, dia membatalkan niatnya untuk memanggil ALFALINK.Theo justru tertarik dengan manusia aneh yang ada di hadapannya. Pemuda itu hanya duduk bersila dengan notes kecil di tangannya dengan pena. Tampaknya dia sedang menulis sesuatu.Theo berusaha membaca pikiran manusia itu. Apa yang sedang dia tulis, apa yang dia pikirkan. Namun semua usaha Theo gagal.Gadis itu semakin menjadi penasaran.Apa mungkin manusia ini perlu kontak mata yang lebih dekat lagi. Theo mendekati pemuda itu dan duduk bersila di sebelah EL. Mereka hanya saling menatap dan terdiam. Pemuda itu tidak merespon kehardiran Theo. Elios hanya menengok menutup kepalanya dengan kupluk hoodienya dan kembali melanjutkan aktivitasnya menulis notes.

Theo kembali penasaran, bahkan ketika menatap dalam mata pemuda itu, dia sama sekali tidak bisa membaca pikiran laki-laki itu. Theo hanya melihat kegelapan tak berujung, sama seperti ruang hampa yang harus dia lalui ketika menuju bumi, dunia para manusia.Theo terpaksa membuang energy nya untuk “berbicara”.

“Aku Theo.. “ ucap Theo sembari menyulurkan tangannya, Theo mencontoh adat manusia ketika berkenalan dengan orang baru.
Pemuda itu hanya melirik dan mendiamkannya tidak perduli sedikit pun.
Theo terdiam dan masih menunggu uluran tangannya dijabat.Ketika tidak mendapat respon, gadis itu menarik tangan pemuda itu dan memaksa menjabatnya.Tindakan Theo cukup extreme dan tidak manusiawi.Adegan tarik menarik tangan itu berlangsung alot, Elios menghindar, dan menarik tangannya member perlawanan. Hingga notes dan penanya terjatuh.

Rasa penasaran Theo membuatnya lupa sedang menjadi manusia bukan ALIEN. Theo merebut notes itu dengan sangat cepat, berlari menjauhi Elios. Dengan kecepatan cahaya dia membaca seluruh isi notes itu. Kemudian mengembalikannya pada Elios seperti tidak melakukan kesalahan apa-apa.Theo berlalu pergi meninggalkan Elios.

Tiba-tiba terdengan suara, yup pemuda itu akhirnya memanggilnya..
“Hei.. AKu Elios.” Ucap pemuda itu setengah berteriak.
Theo hanya menoleh kebelakang, dia bingung kenapa pemuda itu tidak marah namun justru menyebutkan namanya. Theo kembali berusaha membaca pikiran pemuda itu, namun percuma hasilnya tetap sama.
“Besok kesini lagi, temani aku menulis!” ucap elios kembali namun disertai senyum simpulnya yang manis.
Sungguh manusia yang aneh, tadi anti social, kenapa tiba-tiba dia tersenyum?Dia tidak marah aku membaca notesnya?Kenapa harus besok kalau bisa sekarang? Gumam Theo di dalam pikirannya.Theo berhenti, dan membalikan badannya kemudian kembali berjalan mendekati Elios.Theo mengulurkan tangannya sekali lagi.Bukankah seperti ini adat manusia?Theo hanya menjalankan prosedurnya tanpa tahu makna berjabat tangan sesungguhnya.Namun kali ini Elios menyambut jabatan tangan Theo dan mengajaknya duduk.

Theo memperhatikan Elios kembali menulis Notesnya, Theo berusaha mengingat apa yang tadi dia baca. Sepertinya isi notes itu karya seni sastra yang disebut puisi. Seni yang tidak bisa dipahami Theo, merangkai kata-kata indah dengan makna yang sulit ditebak, manusia itu rumit. Theo berpikir apa Elios juga ALIEN sepertinya? Mengapa pikiran EL tidak terdefinisi? Semua puisi yang ditulis EL tentang CINTA.
Theo mengeluarkan buku sketsa kosong dari ranselnya.Berusaha membuat sketsa gambar pemuda yang duduk di sebelahnya. Menggambarnya dengan detail dan memberikan arsiran cahaya pada objek yang dipertegasnya. Theo menyobek kertas sketsa yang selesai digambarnya, memberikan inisial E.T. di sudut kanan bawah.Gadis itu kemudian memberikan hasil sketsa itu ke El.

“Ini buat aku? Makasih.” Ucap Eliossingkat dan meletakkan sketsa buatan Theo diselipan notesnya.Pemuda itu kemudian menyobek salah satu halaman di notesnya dan kemudian memberikan inisial E.T. juga di sudut kanan atas puisi di halaman tersebut.

Hari ini Theo dapat puisi dari Elios! Itu kabar baik bagi dunia pengetahuan Theo. Ada hal baru yang bisa dia pelajari hari ini. Theo meraih sobekan notes itu dan menyimpannya di selipan buku sketsanya.Langit senja sudah tiba dan tampak jelas di atas atap kampus.Dua orang aneh itu pun kemudian memutuskan untuk berpisah dan pulang ke tempatnya masing-masing tanpa satu pun kata-kata, hanya saling menatap dan melambaikan tangan kemudian pergi ke arah yang berlawanan saling menjauh.
                                                                   ******
                                                                                                                                                                               
E.T.
Merah Teraccota,
Langit menyibak warna itu ketika senja
Dimana aku berada?
Hanya berjarak tidak lebih jauh dari matamu memandang
Dimana pikiranku?
Hanya berjarak tidak lebih dekat dari hatimu berada
Jangan kau cari, jangan kau curi, jangan kau kemudian hempas
Senja akan selalu datang..
Merah teraccota di tempat ini kita kembali berpisah, untuk kembali datang kemari..
Kesini lagi, temani aku..

                                                                    *******

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar