E.T.
(The story of ALIEN) Part 1
(The story of ALIEN) Part 1
Apa yang kalian bayangkan ketika
mendengar kata “ALIEN” ?Makhluk cebol dengan kepala botak, berdahi lebar, mata
besar hitam, kulit berwarna hijau?Atau kalian membayangkan ALIEN itu seperti
makhluk sempurna di drama Korea dengan sejuta pesona, keajaiban dan
kekuatannya? Stop imajinasi liar kalian tentang ALIEN tersebut. ALIEN lebih
manusiawi dari apa yang kalian pikirkan. Yup kalian tidak sedang salah membaca,
Ku ulangi lagi, ALIEN adalah makhluk yang lebih manusiawi dari kalian para
manusia. Dengan bangga Ku ucapkan, aku adalah ALIEN yang manusiawi.
Ada banyak teori yang tidak
terpecahkan mengenai ALIEN, ada banyak hipotesis juga yang dibuat manusia untuk
meneliti kebenaran adaya kami diantara kalian.Ada seseorang yang dengan bangga
mengabadikan keberadaan UFO atau piring terbang melalui foto, yang diyakini
adalah pesawat kami bangsa ALIEN untuk memasuki bumi.Ada juga yang meggambarkan
sosok kami seperti makhluk hijau cebol yang tadi di sebutkan di awal.Itu sebuah
berita keberhasilan bagi bangsa kami.Sesungguhnya itu semua memang kami
rekayasa untuk mengalihkan pikiran para manusia, sehingga keberadaan kami
sesungguhnya di lingkungan mereka justru tidak terlacak.
Teknologi kami jauh lebih canggih
dari pesawat piringan murahan yang mereka gambarkan, jangankan untuk sampai ke
bumi, sesungguhnya UFO sudah habis terbakar bila bergesekan dengan atmosfer
bumi bila benar-benar kami terbangkan dari tempat kami berasal. Perlu kalian
ketahui, kami berasal dari berbagai galaksi yang berbeda. Seperti galaksi yang
kalian para manusia punya, Galaksi Bima Sakti dimana matahari sebagai pusat
tata surya planetnya. Seperti itu juga galaksi tempat kami tinggal, dengan
bintang lain sebagai pusat tata surya.
Kami adalah makhluk yang haus akan
pengetahuan, itulah yang menyebabkan kami “suka” berexplorasi ke galaksi lain.
Meski pun teknologi kami jauh lebih canggih dibanding manusia, tapi ada
berbagai hal yang kami tidak punya yaitu keahlian di bidang seni, hubungan
social dan rasa cinta. ALIEN di galaksi kami immortal, populasi kami stabil,
kami tidak berkembang biak, kami tidak mengalami masa tua & mati, kami
hanya mengalami masa daur ulang. Ketika masa daur ulang tiba, semua memori kita
akan terhapus dan kembali mencari pengetahuan dari awal.
Mengenai makhluk hijau cebol yang
selama ini kalian anggap sebagai ALIEN, mereka sebenernya hanyalah peliharaan
kami, yang kami gunakan sebagai pengalihan isu.Mungkin kalau di dunia manusia,
mereka sebangsa anjing yang penurut & cute. Jangan banyangkan ALFALINK adalah
makhluk yang cute juga, imajinasi kalian akan gagal. Yup makhluk terssebut
adalah ALFALINK, mereka dapat melacak dimana “Tuan-nya” berada dan mengirimkan
signal bahaya ke galaksi kami apabila ada pelanggaran atau masalah di dunia
manusia.
********
“Elenia
Theodore” panggil dosen mata kuliah seni lukis membuyarkan lamunan ku akan
Galaksi Terracotta nu jauh disana. Aku menoleh ke arahnya yang ternyata
memperhatikan lukisan yang ku buat dari sisi kanan dengan seksama.
“Lukisan kamu ini abstraknya masih
belum matang, masih terpengaruh gaya naturalis. Coba kamu perbaiki..” ucap sang
Dosen dengan dahi yang berkerut.
Aku tidak merespon dan hanya mencelup
berkali-kali kuas lukis ke minyak pembersih dan mulai mencampur warna-warna cat
minyak di palet menjadi warna merah temaram coklat yang aku inginkan.
Seni memang menyenangkan, tapi dunia
manusia benar-benar melelahkan.Ada banyak hal yang perlu kami bangsa ALIEN
lakukan secara manual di dunia manusia.Jika biasanya kami berkomunikasi antar
ALIEN bisa melalui telepathi, tidak mengurangi energy untuk berbicara, berjalan
jauh, menaiki mobil atau kendaran kotak yang penuh sesak. Kami tidak
membutuhkan itu semua.Semua sudah terkoneksi, kami hanya tinggal memikirkan
tempat yang kami tuju. Dan blink..kami sudah ada di sana. Kami paham tapa perlu
berbicara, atau pun tanpa perlu menyusun
banyak kata- kata indah hanya untuk mencapai maksud tertentu yang sebenarnya
adalah simple. Manusia itu makhluk yang membingungkan,kadang apa yang mereka pikirkan
berbeda dengan apa yang mereka ucapkan. Seperti dosenku tadi.Dia berbicara
seolah-olah karya ku kurang sempurna.Padahal aku tahu benar di pikirannya,
karyaku punya nilai jual yang tinggi bila dijual di pameran lukisan besok. Uang?
Mengapa banyak manusia begitu tergila-gila pada uang.Banyak pemikiran ku yang
belum terpecahkan hingga hari ini.
Seni lukis adalah satu-satunya hal
yang membuatku terkadang menikmati dunia manusia yang membingungkan. Namaku di
dunia ini adalah Elenia Theodore, manusia- manusia di sekitarku sering
memanggilku Theo. Jangan pernah mengkhayalkan fisik ku secantik bintang-bintang
drama korea yang cute. Aku hanya gadis biasa.Ras yang aku transformasikan di
skala sekarang adalah ras orang Asia kebanyakan. Tinggi sekitar 167 cm, berat
50 Kg, rambut cokelat merah ikal panjang terurai, kulit kuning langsat, dan
sepasang mata bulat hitam, dibingkai alis yang lumayan tebal beserta bibir yang
tipis. Standar! Itulah fisik seorang
Theo yang bisa kalian imajinasikan sndiri.
Selama dalam masa research di dunia
manusia, kami bangsa ALIEN dilarang untuk terlalu membangun hubungan social
dengan manusia lainnya.Apalagi kalau membahas soal cinta atau perasaan yang
“menye-menye”, kami bisa secepatnya dideportasi kembali ke Galaksi kami. Dan
seluruh memori pengetahuan kami akan kembali dari 0. Itu proses daur ulang yang
sebenarnya paling dihindari seluruh bangsa kami.
“Kamu
bisa mencintai banyak orang semasa hidupmu, namun melupakan seseorang dengan
tidak atas kuasamu sendiri itu jauh lebih menyakitkan Butuh banyak energy yang terbuang untuk
kembali mencintai & melupakan. Dan aku memilih untuk terus mengulang hingga
kamu yang ku lupakan bisa kembali..”
Kutipan itu pernah aku baca dari
salah satu buku karya ALIEN di perpustakaan Galaksi. Penulisnya adalah ALIEN yang sudah berulang
kali melakukan kesalahan yang sama dan terkena proses daur ulang. Namun ALIEN
itu tetap tidak jera dan selalu mempelajari soal CINTA.Buku-buku karyanya
selalu diletakan di koleksi buku terlarang dengan pengalaman berlapis.Rasa
penasaranku membuatku selalu berhasil mencuri untuk membaca buku-buku karyanya.
Aku justru semakin penasaran dengan apa yang dimaksud dengan Cinta? Mengapa sang penulis itu selalu tidak jera
untuk jatuh cinta? Dimana penulis itu sekarang?Apa dia sudah ada di daur ulang
periode ku sekarang? Serius! Aku ingin bertemu kamu..Kamu adalah pengetahuan
yang memotivasiku untuk terus ada di dunia manusia.Hanya kamu yang bisa
menjelaskan semua dengan rinci. Aku haus
pengetahuan tentang kamu.. Yup, tentang kamu..
*****
Suasana atap gedung kampus tempat
tower-tower air berjejer rapi tampak sepi. Hanya ada seseorang yang memiliki
kebiasaan aneh menghabiskan waktu di atas sana. Dia adalah Elios Thimothy. Orang-orang memanggilnya “EL”. Pemuda berpostur
jangkung kurus dengan jaket hoodie andalannya berawarna-warna gelap, bertingggi
sekitar 181 cm, berat 64 Kg,rambut hitam cenderung agak gondrong, berkulit
cokelat, dengan sepasang bola mata coklat berbingkai alis tebal, disertai bibir
yang sedikit tebal.Pemuda ini terkenal anti social, penyendiri dan terkesan
misterius.Banyak berita miring yang menyebutkan bahwa EL adalah seorang
“pemakai”, EL adalah seorang pembunuh bayaran, bad boy, dan sejuta peran
antagonis yang ditujukan orang-orang terhadap EL. Namun El tetaplah menjadi
pribadi yang misterius dengan hobbynya menyendiri di atap gedung kampus.
Tak banyak tahu apa sebenarnya yang
dilakukan EL di atas sana, mereka hanya menebak-nebak EL sedang memakai drugs
disana, EL sedang mencari inspirasi cara membunuh orang yang baru, atau EL
sedang mengintai mencari target wanita yang mau dijadikan korban cinta
selanjutnya dari atas sana. Ntahlah..hingga Theo si pembaca pikiran berusaha
untuk mencari tahu siapa sebenarnya EL..
Pertemuan mereka pertama kali dimulai
ketika Theo berusaha menghubungi ALFALINK peliharaannya untuk member kabar ke
galaksimya. Di atap gedung Theo bertemu dengan EL, dia membatalkan niatnya
untuk memanggil ALFALINK.Theo justru tertarik dengan manusia aneh yang ada di
hadapannya. Pemuda itu hanya duduk bersila dengan notes kecil di tangannya
dengan pena. Tampaknya dia sedang menulis sesuatu.Theo berusaha membaca pikiran
manusia itu. Apa yang sedang dia tulis, apa yang dia pikirkan. Namun semua
usaha Theo gagal.Gadis itu semakin menjadi penasaran.Apa mungkin manusia ini
perlu kontak mata yang lebih dekat lagi. Theo mendekati pemuda itu dan duduk
bersila di sebelah EL. Mereka hanya saling menatap dan terdiam. Pemuda itu
tidak merespon kehardiran Theo. Elios hanya menengok menutup kepalanya dengan
kupluk hoodienya dan kembali melanjutkan aktivitasnya menulis notes.
Theo kembali penasaran, bahkan ketika
menatap dalam mata pemuda itu, dia sama sekali tidak bisa membaca pikiran
laki-laki itu. Theo hanya melihat kegelapan tak berujung, sama seperti ruang
hampa yang harus dia lalui ketika menuju bumi, dunia para manusia.Theo terpaksa
membuang energy nya untuk “berbicara”.
“Aku Theo.. “ ucap Theo sembari
menyulurkan tangannya, Theo mencontoh adat manusia ketika berkenalan dengan
orang baru.
Pemuda itu hanya melirik dan
mendiamkannya tidak perduli sedikit pun.
Theo terdiam dan masih menunggu
uluran tangannya dijabat.Ketika tidak mendapat respon, gadis itu menarik tangan
pemuda itu dan memaksa menjabatnya.Tindakan Theo cukup extreme dan tidak
manusiawi.Adegan tarik menarik tangan itu berlangsung alot, Elios menghindar,
dan menarik tangannya member perlawanan. Hingga notes dan penanya terjatuh.
Rasa penasaran Theo membuatnya lupa
sedang menjadi manusia bukan ALIEN. Theo merebut notes itu dengan sangat cepat,
berlari menjauhi Elios. Dengan kecepatan cahaya dia membaca seluruh isi notes
itu. Kemudian mengembalikannya pada Elios seperti tidak melakukan kesalahan
apa-apa.Theo berlalu pergi meninggalkan Elios.
Tiba-tiba terdengan suara, yup pemuda
itu akhirnya memanggilnya..
“Hei.. AKu Elios.” Ucap pemuda itu
setengah berteriak.
Theo hanya menoleh kebelakang, dia
bingung kenapa pemuda itu tidak marah namun justru menyebutkan namanya. Theo
kembali berusaha membaca pikiran pemuda itu, namun percuma hasilnya tetap sama.
“Besok kesini lagi, temani aku
menulis!” ucap elios kembali namun disertai senyum simpulnya yang manis.
Sungguh manusia yang aneh, tadi anti
social, kenapa tiba-tiba dia tersenyum?Dia tidak marah aku membaca
notesnya?Kenapa harus besok kalau bisa sekarang? Gumam Theo di dalam
pikirannya.Theo berhenti, dan membalikan badannya kemudian kembali berjalan
mendekati Elios.Theo mengulurkan tangannya sekali lagi.Bukankah seperti ini
adat manusia?Theo hanya menjalankan prosedurnya tanpa tahu makna berjabat
tangan sesungguhnya.Namun kali ini Elios menyambut jabatan tangan Theo dan
mengajaknya duduk.
Theo memperhatikan Elios kembali
menulis Notesnya, Theo berusaha mengingat apa yang tadi dia baca. Sepertinya
isi notes itu karya seni sastra yang disebut puisi. Seni yang tidak bisa
dipahami Theo, merangkai kata-kata indah dengan makna yang sulit ditebak,
manusia itu rumit. Theo berpikir apa Elios juga ALIEN sepertinya? Mengapa
pikiran EL tidak terdefinisi? Semua puisi yang ditulis EL tentang CINTA.
Theo mengeluarkan buku sketsa kosong
dari ranselnya.Berusaha membuat sketsa gambar pemuda yang duduk di sebelahnya.
Menggambarnya dengan detail dan memberikan arsiran cahaya pada objek yang
dipertegasnya. Theo menyobek kertas sketsa yang selesai digambarnya, memberikan
inisial E.T. di sudut kanan bawah.Gadis itu kemudian memberikan hasil sketsa
itu ke El.
“Ini buat aku? Makasih.” Ucap
Eliossingkat dan meletakkan sketsa buatan Theo diselipan notesnya.Pemuda itu
kemudian menyobek salah satu halaman di notesnya dan kemudian memberikan
inisial E.T. juga di sudut kanan atas puisi di halaman tersebut.
Hari ini Theo dapat puisi dari Elios!
Itu kabar baik bagi dunia pengetahuan Theo. Ada hal baru yang bisa dia pelajari
hari ini. Theo meraih sobekan notes itu dan menyimpannya di selipan buku
sketsanya.Langit senja sudah tiba dan tampak jelas di atas atap kampus.Dua
orang aneh itu pun kemudian memutuskan untuk berpisah dan pulang ke tempatnya
masing-masing tanpa satu pun kata-kata, hanya saling menatap dan melambaikan
tangan kemudian pergi ke arah yang berlawanan saling menjauh.
******
E.T.
Merah
Teraccota,
Langit
menyibak warna itu ketika senja
Dimana
aku berada?
Hanya
berjarak tidak lebih jauh dari matamu memandang
Dimana
pikiranku?
Hanya
berjarak tidak lebih dekat dari hatimu berada
Jangan
kau cari, jangan kau curi, jangan kau kemudian hempas
Senja
akan selalu datang..
Merah
teraccota di tempat ini kita kembali berpisah, untuk kembali datang kemari..
Kesini
lagi, temani aku..
*******
Bersambung..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar