Zola berlari mengejar mobil yang berlalu
begitu saja di hadapannya. Ntah sudah sejak kapan dia menahan udara yang terasa
memenuhi paru-parunya maksimal, terasa sesak, semakin memberatkan langkah
kakinya. Dinginnya malam ini menambah sensasi sesak pernafasannya malam ini,
Zola terus bergumam dalam hatinya “Please.. jangan sekarang datang padaku hai
pecundang..” Zola terus memacu kaki lemahnya untuk berlari mengejar mobil yang
semakin jauh dari pandangannya. Bukankan cinta itu perlu diperjuangkan? Cinta
itu layak dikejar?
Kampus pagi ini terasa hampa, begitulah
yang Zola rasakan. Buku – buku sastra tebal yang menemaninya hari ini tampak
tidak menarik seperti biasanya. Yah begitulah bila sedang patah hati Apa yang
biasanya merupakan hal menarik menjadi hampa, persetan dengan gairah. Pria itu
hanya butuh waktu untuk sendiri dahulu menghabiskan waktunya. Zola mengeluarkan rokok dari saku jeansnya,
dengan tangan yang gentar dia kemudian memantikkan api dari pemantik gasnya.
Zola menghisap dalam rokok itu, berusaha menahannya di paru-parunya dan
menghembuskannya dengan perlahan. Batuk-batuk keras terdengar mengertai
hembusan asap rokoknya.
“Mau bunuh diri?” terdengar celetukan suara
wanita yang tidak disadari Zola ada di sebelahya sejak tadi. Bangku taman
menjadi saksi bertemunya mereka.
Zola menengok kearah wanita yang
menyapanya, memalingkan wajahnya kembali, acuh terhadap wanita yang tidak
dikenalnya.
“Kakak kenapa? “ Tanya wanita itu lagi,
namun disertai tindakan yang tidak diduga Zola, dia merebut rokok di tangan
Zola dan membuangnya, memastikan rokok itu padam dengan menginjaknnya.
“Lo udah gila yah? Kita kenal?” Zola
meninggikan suaranya dan kembali menengok ke wanita tersebut.
“Zola Zuditch, Sastra Inggris 2014,
Bandung, 21 Januari 1996. Tinggi 178 Cm ,BB 62 Kg. Zodiak Aquarius.” Dengan
lancar wanita itu menyebutkan biodata Zola. Semakin membuat terkejut pria itu.
“Dasar cewek sinting, lo penguntit yah?
Cenayang? Berhenti ikutin gue, dan urus hidup lo sendiri!” ungkap Zola sembari
mengangkat ranselnya dan pergi menjauh dari wanita itu. Wanita itu tidak
menghiraukan peringatan dari Zola, dia berjalan mengikuti Zola dari belakang.
Zola kembali menoleh ke wanita tersebut dan bersiap untuk marah.
“ini buku kakak ketinggalan..Aku balik dulu
kak. Oh iya kak, kalau gak biasa ngerokok gak usah ngerokok kak. Bisa baca juga
kan peringatan di bungkus rokok? Merokok membunuhmu! Mahasiswa sastra Inggris
ngerti bahasa Indonesia juga kan? See ya.. bye!” Wanita itu tersenyum
menjengkelkan dan pergi membalikkan badannya pergi menuju arah yang berlawanan
dengan Zola.
“Kenapa Zol?” Sapa Gio satu-satunya teman
Zola di kampus ini.
“Itu cewek sinting siapa sih? Reseh banget
orangnya, sok kenal pula.” Umpat Zola sembari menunjuk dan masih memperhatikan
wanita itu semakin menjauh pergi.
“Itu bukannya si Ale yah? Itu kan sepupunya Yona mantan lo
yah Zol? Anak seni fotografi 2016.”
Zola mengernyitan dahinya berusaha
mengingat, membuka memori mengenai Yona, wanita yang sangat dicintainya namun
pergi meninggalkannya dengan alasan yang tidak jelas. Apa iya Yona memiliki
sepupu yang bernama Ale. Dari mana Ale tahu segala hal tentang Zola. Begitu banyak pertanyaan di kepala Zola saat
ini, dia hanya berharap malam cepat tiba dan kehidupannya yang sebenarnya baru
akan datang.
Zola menebalkan make up putih yang menutupi
seluruh wajahnya, menambahkan riasan merah pada kelopak mata dan bibirnya,
tidak lupa memasang hidung bulat dan wig curlynya yang berwarna warni. Baju
badut konyol pun sudah dikenakannya. Malam ini Zola berusaha tampil dengan
maksimal menghibur anak- anak seperti biasanya.
Malam ini Zola mendapat job menghibur anak-
anak di panti asuhan Mulia Asih, honor yang diperolehnya sangat lumayan. Ada
seorang donatur yang merayakan ulang tahun Puterinya yang masih kecil di sana.
Dari kejauhan Zola melihat seorang wanita
membagikan balon ke anak- anak panti, dengan senyum yang tulus wanita itu ikut
bernyanyi di kelilingi ana-anak yang tampak bahagia. Zola seketika tersadar itu
adalah wanita yang tadi pagi menegurnya, wanita aneh si penguntit, tapi ini
bukan waktunya untuk marah. Saatnya bekerja, semoga wanita itu tidak sadar
bahwa badut ini adalah Zola.
Selesai acara, Zola secepatnya menghindar
dari wanita itu. Tiba- tiba wanita itu kembali memanggil.
“Hei Kak Badut, ini ada sedikit kue buat
Kakak terima kasih yah sudah membuat pesta ulang tahun keponakan saya menjadi
semakin meriah” ucap wanita itu ramah..
Dengan ragu Zola menoleh, menerima
bungkusan kue itu dan secepatnya menaiki mobil rombongan badutnya.
“Kakak langsung pulang atau mampir ke pasar
malam dulu?” Tanya wanita itu lagi kepada Zola.
Zola kembali menengok dan terkejut.
“Kamu tahu dari mana saya sering di pasar
malam? Kamu tahu siapa saya? Jangan-jangan kamu sengaja mengundang saya kesini,
untuk menghina saya? Dan satu lagi jangan hanya karena kamu sepupu Yona saya
bisa hormat dengan kamu!”
Zola pergi dengan emosi yang meledak di
dadanya, sejak awal Zola agak curiga, mengapa honor menjadi badut hari ini
sangat besar. Mengapa secara kebetulan ada Ale di pesta tadi. Zola menjadi
yakin, wanita itu bisa tahu biodatanya secara lengkap juga dari CV lamaran
kerja yang sudah disebar ketika Zola mencari pekerjaan.
Brrakkk… Zola ambruk, penyakit asmanya
kambuh di tengah hiruk pikuk pasar malam hari ini. Sesak di dadanya semakin
menjadi- jadi. Semua menjadi semakin
rabun, dan gelap. Tiba- tiba terdengar suara wanita itu lagi.
“Kakak.. bangun kak. Kak Gio, Tolong ambil
kotak P3 K di mobilku yah kak!” suara itu yang terakhir terdengar samar- samar
dari telinga Zola.
Dengan sigap Ale memasangkan alat berbentuk
tabung, dan mengemprotkan gas dari tabung tersebut kepada Zola. Perlahan Zola
terlihat bernafas dengan stabil, dan bisa membuka matanya.
Secangkir teh hangat menemani 3 anak
manusia yang kini duduk di satu meja dan saling terdiam. Ketiganya hanya saling
menatap dan terlihat kikuk untuk membuka obrolan.
“Makasih..” ucap Zola singkat terhadap
wanita yang barusan tadi menolongnya namun dimakinya pula di pesta ulang tahun.
“Ale.. panggil saja aku Ale kak. Yup benar,
aku sepupunya Yona. Tapi kakak tenang aja, gak sekali pun aku bermaksud buat
ikut campur urusan kalian berdua. Kak Gio tahu semuanya. Kakak bisa Tanya ke
Kak Gio. Ini udah sangat malam, aku harus pulang.” Sahut Wanita itu sembari
meraih kotak P3Knya dan berlalu pergi.
Zola
terdiam kemudian mengambil kapas di depan meja rias dan membersihkan riasan
make up badut di wajahnya. Tak sepatah kata maupun pertanyaan menghampiri Gio
yang tampak bersiap untuk bercerita.
“Lo gak tanya soal Ale, Zol?”
“Ya udah cerita apa yang lo tau, katanya
Sohib tapi koq bisa ada hal kayak gini lo kagak cerita apa-apa ke gue? Temen
macem apa lo gio? Sengaja biar gue dihina si Ale-ale itu apa gimana?”
“Inilah yang bikin gue males cerita Zol, lo
gak pernah tanya. Gue cerita juga kayaknya percuma, gue gak yakin lo
bener-bener nyimak cerita gue. Gak di kampus, di tempat kerja siapa sih yang
bisa komunikasi baek-baek sama lo Zol? Gak ada kan?? Dikit-dikit bawaan lo tuh
sensi, marah. Gue juga empet sebenernya!!” Gio menendang kursi dan
“Kamu sebenarnya siapa? Apa tujuan kamu
baikin aku?” Ucap Zola menegur Ale yang sedang mengambil gambar sarang burung
dari kameranya. Wanita itu menaiki undakan kayu untuk mendapat sisi pengambilan
gambar yang sempurna.
Ale menghentikan aktivitas memotretnya dan
tersenyum ke arah Zola, Dia kemudian turun dari undakan kayu dan menggandeng
Zola pergi ke suatu tempat. Kelakuan wanita ini semakin membuat Zola tidak
habis pikir.
Di lorong ruangan fotografi terjajar
beberapa Foto yang membuat Zola terkejut. Ada beberapa gambar yang merupakan
foto dirinya ketika menjadi badut, di pasar malam, di pesta ulang tahun. Ntah
sejak kapan Foto- foto itu terpajang di lorong kampus, bahkan Zola tidak pernah
menyadarinya.
“Ini semua hasil foto kamu?” Zola bertanya
ragu pada Ale. Wanita itu hanya mengangguk dan kembali tersenyum.
“Sejak kapan kamu jadi penguntit sejatiku?”
Zola bertanya kembali.
“Sebenernya bukan penguntit kak.. Secara
kebetulan aku ada di waktu dan tempat yang tidak tepat. Aku ada waktu Yona
putusin kakak, dan aku tahu juga itu karena dia malu punya pacar badut. Secara
kebetulan juga, aku nemuin CV kakak yang tercecer di jalan. Secara kebetulan
juga waktu aku cari objek foto yang bagus, aku lihat kakak hibur anak-anak.
Sejak itu aku tahu kakak. Aku juga tanya tentang kakak ke Kak Gio.”
“Jadi yang cerita kalo aku punya astma juga
Gio? Mkanya kamu sudah prepare obat astma di Kotak P3K?”
“Kakak kenapa sih kalo menyimak cerita
selalu ujung-ujungnya jadi sensi? Bukan Kak Gio yang cerita kakak Astma. Secara
kebetulan juga aku sakit astma keturunan, mkanya aku selalu siapin obat astma.”
Mereka berdua kembali terdiam untuk
beberapa saat. Zola menunduk malu. Dia tidak sanggup menatap Ale lagi. Sudah
terlalu sering dia berkata kasar, marah terhadap orang di sekelilingnya. Apakah
patah hati sebegitu hebatnya mengubah karakter seseorang yang semula ceria
menjadi pemarah? Sebegitu saktinya cinta menghancurkan kehidupannya saat ini.
“Semua orang itu pernah patah hati kak,
bukan kakak aja! Tapi kalau kita sudah berani jatuh cinta yah kita harus tahu
juga resikonya. Jatuh itu pasti sakit, termasuk jatuh cinta. Tapi gak ada sakit
yang gak bisa diobatin kan kak?”
“Maaf”
“Ya sudah kak gak perlu dibahas lagi. Kakak
tahu kenapa badut itu istimewa buat aku?”
“Kenapa?”
“Dulu waktu aku kecil aku takut banget kak
sama badut, sampe suatu hari ada badut yang berdiri dipagar sekolahku. Badut
itu memberi aku uang untuk jajan. Waktu itu aku masih SD. Teman-teman ku
menertawakan aku dan menghinaku, Ale anak badut! Ale anak badut! Kalimat itu
terngiang hingga aku trauma kak.. Yup.. badut itu ayahku. Dia tetap mwnghibur
anak-anak itu meski dihina. Aku dulu sempat jadi anak durhaka kak. Aku sempat
marah pada Ayah, kenapa harus ke sekolahan dengan kostum badut.” Ale berhenti
bercerita dan terlihat matanya berkaca..
“Lalu?”
“Ayahku juga sakit astma kak.. Suatu hari
ayah tidak pulang-pulang hingga larut malam, ternyata ayah anfal ketika
menghibur anak-anak di pasar malam kak. Ayah meninggal. Sejak itu aku sadar.
Badut itu istimewa. Pasca ayah meninggal aku jadi yatim piatu kak. Aku diadopsi
keluarga yang sekarang. Aku beruntung diadopsi keluarga yang sayang denganku. Itulah
yang membuat aku sekarang tetap akrab dengan anak panti asuhan kak. Karena dari
panti itu juga aku berasal,”
“Jujur aku kaget dengar cerita kamu Le,
Speechless.. Aku pikir kamu cuman cewek manja, anak orang kaya yang kurang
kerjaan nguntitin orang. Tapi ternyata.. kamu beda”
Ale tersenyum, mengarahkan kameranya kea
rah Zola dan membidik mengambil gambar tiba-tiba. Zola tertawa, merasa nyaman
bercerita dengan wanita itu. Hari ini semua menjadi lebih baik, Zola menemukan
orang yang bisa berkomunikasi dengan baik dengannya. Yup.. orang itu adalah
Ale, Alesia Diandra.
“Heii.. Heii.. Kakak.. Ntar malam free kan?
“ ucap Ale sembari menggoncangkan Zola yang sedang terpaku dengan buku
sastranya, Ale mengusik Zola keluar dari dunia nyamannya. Yup.. membaca buku.
Zola hanya menoleh dan menaikkan satu alisnya, kemudian mengangguk.
“Le, kamu bisa lebih anggun, kalem dikit
gak? Kalo diperhatiin sebenernya kamu itu cantik lho Le..” Sahut Gio yang sejak
tadi sibuk dengan smartphonenya.
“Ishhh.. Kak Gio baru sadar aku cantik?
Kemana aja sih? Jangan berusaha cocol aku yah wahai pemuda-pemuda bumi..
Kesucian berlapisku tidak akan dengan mudah kau cocol manja..” sahut Ale
sembari meniru gaya selebgram fenomenal MIMI PERI, sepertinya wanita yang
benar-benar tulen pun tidak melakukan gerakan anggun yang berlebihan seperti
itu. Tampak Zola tersenyum kecil kemudian kembali ke aktivitas membacanya.
“Sumpah!! keliatan makin absurd deh kamu
Le.. Lagian cewek koq ngajak ngedate duluan? Jaim dikit kenapa? Lagian ngajak
pergi koq si Zola, mending juga pergi ma aku..” ucap Gio sembari bangkit dari
singgasana kursinya kemudian menghampiri Zola merebut buku yang di tangan Zola.
Zola tampak kesal dengan Gio dan merebut
kembali bukunya.
“Memang kamu mau kemana Le?” Ucap Zola
akhirnya bersuara.
“Belum ada ide sih kak.. Kakak biasanya
kemana? Ntar aku temenin”
“Aku biasanya ke luar angkasa” sahut Zola
asal kemudian melanjutkan aktivitas membacanya kembali.
“Wow keren.. ayuk kita berpetualang ke luar
angkasa” sahut Ale sembari mengepalkan tangan ala-ala superman.
“Yang satu absurd yang satu lagi sinting..
Bisa makin gila gabung ma kalian lama-lama, aku ke kantin dulu guys..” sahut
Gio sembari berlalu meninggalkan Zola dan Ale..
Ale kemudian menatap arlojinya.. Kakinya
bergerak maju mundur dan menghentak. Ale memainkan ponselnya beberapa saat, dan
tampak sibuk. Benar-benar wanita yang sulit ditebak.
“Yah malam masih lama yah kak, gimana kalau
kita sekarang aja ke luar angkasanya? Yuk.. ayuk…” ucap Ale sembari menggeret
tangan Zola.
“Kamu mau ajak aku kemana, Le?” sahut Zola
heran, dia tidak menyangka wanita itu benar-benar berniat mewujudkan jawaban
asalnya, namun Ale tidak menjawab apa-apa, wanita itu hanya terus menggeret
tangan Zola, dengan mimic wajah yang antusias.
Zola diajak Ale ke GSG kampus.
“Luar angkasa macam apa ini Le?” Zola makin
heran, GSG tampak sepi. Mereka berdua berdiri di panggung yang biasa digunakan
anak seni Teater mengadakan pertunjukan.
“Tungga sebentar kak, aku telfon salah satu
aliennya dulu..” jawab Ale sembari mengeluarkan ponselnya menelfon seseorang.
Kemudian layar dibelakang mereka berdiri
terkembang turun, tampak background gambar langit penuh bintang, disusul sorot
lampu dari berbagai sisi.. Satu per satu muncul gambar planet, matahari dan
efek suara bertema futuristic.
“Thanks sob…” teriak Ale memanggil
seseorang yang mengendalikan background dan music, Wanita itu kemudian
melambaikan tangan ke arah seseorang di ruangan kendali atas dan bertepuk
tangan.
“Mereka teman kamu Le?”
“iyah Kakak.. itu alien-aliennya..ini ruang
angkasanya, keren kan? Ayuk kita duduk, belum pernah kan lihat gambar-gambar
keren sedekat ini?”
“Ya iyah deket Le, kita di atas
panggungnya.. biasanya kan di kursi penonton.”
“Seperti itu juga hidup kak, kadang kita
hanya jadi penonton yang bisa bebas berkomentar, kadang kita juga harus menjadi
pemeran yang ada di panggung dan bertindak sesuai scenario. Which is dalam
hidup, Tuhan yang mebuat takdir itu untuk kita.. Kalau kakak berpikir kakak
lemah maka selamanya kakak akan menjadi lemah, tapi kalau kakak berpikir kakak
kuat, selemah apa pun kakak sebenarnya… Kakak akan menjadi kuat untuk menerima
kenyataan.”
Zola menghela nafasnya, dipandangnya layar
yang berganti-ganti gambar di depannya, di sebelahnya ada wanita yang
memancarkan gairah hidup sangat besar. Mereka duduk di lantai panggung itu
tanpa beban, mereka tidak memikirkan hal yang berat-berat. Hanya menghabiskan
waktu luang ini bersama. Sungguh, mungkin ini hikmah yang dia dapat dari patah
hati kemarin.
Berkat motivasi dari Ale, perlahan Zola
kembali ke sifatnya yang dulu, ceria, selalu semangat menjalani pekerjaannya.
Seperti malam ini, ada peresmian taman hiburan baru. Zola bersiap dengan kostum
badutnya, bola warna marni, sepeda roda satunya.
Tampak di jauhan kursi VIP tamu, Zola
melihat wanita yang sudah tak asing lagi. Yup itu Ale, wanita itu tampak sangat
berbeda dari biasanya. Ale tampak sangat
anggun dengan gaun hitam dengan sedikit aksen batik eksklusif dan
rambutnya yang tergerai cantik. Yup Ale yang kesehariannya sangat sederhana,
ketika tampil dengan gaun begini jadi tampak sangat berkelas. Zola tak bisa
memalingkan wajahnya dari Ale, hingga pandangannya terkacau oleh pria dengan
kemeja batik lengan panjang yang duduk disebelah Ale. Pria itu berbincang akrab
dengan Ale.
“Itu pacarnya Ale Zol, keren yah, baik juga
orangnya. Memang bener katanya orang baik bakalan dipertemukan dengan orang
baik pula. Mereka itu pasangan perfect menurut gue Zol” ucap Gio sembari
mempertegas hipotesis Zola tentang pria itu.
“Yuk ah Zol, ngapain liatin orang pacaran.
Ayok kita kerja!” ucap Gio lagi sembari menarik Zola menuju ke arena
pertunjukan sirkus dan badut.
Ntah kenapa Zola jadi tidak bisa
berkonsentrasi dalam bekerja malam ini. Mungkin ini yang disebut cemburu?
Ntahlah.. Ale bukan siapa-siapa bagi Zola, apa dia berhak cemburu terhadap Ale?
Kenapa Tuhan memberinya parade oatah hati bertubi-tubi seperti ini. Sejak Kapan
dia jatuh cinta pada Ale? Banyak pertanyaan yang memenuhi otak Zola malam ini..
“Gi.
Sorry malam ini gue gak jadi kerja. Gue ke belakang yah.” Ucap zola dan pergi
menuju belakang arena pertunjukan. Zola menuju meja rias dan membersihkan
riasan wajahnya, mengganti pakaiannya. Meraih ponselnya dan berusaha
menghubungi wanita yang mengganggu pikirannya..
“Le, Aku mau ketemu kamu sekarang bisa? Aku
di taman hiburan, tadi aku lihat kamu. Aku sekarang di belakang panggung. Aku
tunggu yah..”
“Ada apa kak?” suara Ale terdengar beberapa
menit kemudian.
“Le kamu sengaja bikin aku kuat kan?”
“Maksud kakak?”
“Patah hati ini lebih dalam dari yang kemarin
le, dan luka itu kamu yang membuatnya”
“Tolong jelasin maksud kakak gimana?”
“Kamu yang nyembuhin patah hatiku kemarin
Le, Kamu captain pelangi di hidup aku yang suram, Kamu kasih motivasi aku untuk
lanjutin hidupku, dan sekarang kamu sedang latih aku menjadi lebih kuat kan Le?
Kamu berhasil Le. Aku jadi lebih kuat sekarang. Makasih buat patah hati ini,
aku ikhlas.. Yakinin aku sekarang kalau kamu cumin ngelatih aku jadi lebih kuat
kan Le? Bukan benar-benar pergi dengan laki-laki itu?”
“Maaf kak, sejak awal aku Cuman lihat sosok
ayah di diri kakak, makanya aku anggap kakak itu istimewa. Tapi sudah sejak
lama juga hati ku sudah dimiliki dia. Kakak tidak pernah bertanya tentang
hidupku kan kak? Bukan aku menyembunyikan dia. Tapi selama ini, kakak tidak pernah
bertanya. Sejauh ini obrolan kita didominasi 70% membahas tentang kakak..Patah
hati kakak, apa yang kakak suka, hari-hari kakak. Apa pernah kakak tanya
tentang Ale? Cuma 30% sisanya kan. Jadi bukan salah Ale jika hingga hari ini
kakak baru tahu tentang dia. “
Zola terdiam, ucapan Ale menusuk ke hatinya
lagi. Ada sesuatu yang terasa nyeri di dalam dadanya, ini bukan astma. Ini
lebih dari itu. Zola baru sadar selama ini memang dia sangat jarang bertanya
pada Ale, sejauh ini lebih banyak Ale yang bertanya padanya. Bagaimana harinya?
Bagaimana kisahnya? Zola sadar dia memang sangat egois.
Zola tertegun sesaat, dan memperhatikan
punggung Ale yang berjalan menjauh darinya. Ale ditunggu di depan sana dengan
Pria yang tampak bingung dengan apa yang terjadi. Mereka pergi dengan mobil dan
melewati Zola dan mulai menjauh.
Zola mengumpulkan seluruh tenaganya untuk
menyelesaikan masalahnya hari ini, menghela nafas panjang dan bersiap… Kisah
ini baru akan dimulai dan diperjuangkan..
Zola berlari..
_THE
END_




Tidak ada komentar:
Posting Komentar