Rabu, 17 Mei 2017

BADOET




Zola berlari mengejar mobil yang berlalu begitu saja di hadapannya. Ntah sudah sejak kapan dia menahan udara yang terasa memenuhi paru-parunya maksimal, terasa sesak, semakin memberatkan langkah kakinya. Dinginnya malam ini menambah sensasi sesak pernafasannya malam ini, Zola terus bergumam dalam hatinya “Please.. jangan sekarang datang padaku hai pecundang..” Zola terus memacu kaki lemahnya untuk berlari mengejar mobil yang semakin jauh dari pandangannya. Bukankan cinta itu perlu diperjuangkan? Cinta itu layak dikejar?



Kampus pagi ini terasa hampa, begitulah yang Zola rasakan. Buku – buku sastra tebal yang menemaninya hari ini tampak tidak menarik seperti biasanya. Yah begitulah bila sedang patah hati Apa yang biasanya merupakan hal menarik menjadi hampa, persetan dengan gairah. Pria itu hanya butuh waktu untuk sendiri dahulu menghabiskan waktunya.  Zola mengeluarkan rokok dari saku jeansnya, dengan tangan yang gentar dia kemudian memantikkan api dari pemantik gasnya. Zola menghisap dalam rokok itu, berusaha menahannya di paru-parunya dan menghembuskannya dengan perlahan. Batuk-batuk keras terdengar mengertai hembusan asap rokoknya.
“Mau bunuh diri?” terdengar celetukan suara wanita yang tidak disadari Zola ada di sebelahya sejak tadi. Bangku taman menjadi saksi bertemunya mereka.
Zola menengok kearah wanita yang menyapanya, memalingkan wajahnya kembali, acuh terhadap wanita yang tidak dikenalnya.
“Kakak kenapa? “ Tanya wanita itu lagi, namun disertai tindakan yang tidak diduga Zola, dia merebut rokok di tangan Zola dan membuangnya, memastikan rokok itu padam dengan menginjaknnya.
“Lo udah gila yah? Kita kenal?” Zola meninggikan suaranya dan kembali menengok ke wanita tersebut.
“Zola Zuditch, Sastra Inggris 2014, Bandung, 21 Januari 1996. Tinggi 178 Cm ,BB 62 Kg. Zodiak Aquarius.” Dengan lancar wanita itu menyebutkan biodata Zola. Semakin membuat terkejut pria itu.
“Dasar cewek sinting, lo penguntit yah? Cenayang? Berhenti ikutin gue, dan urus hidup lo sendiri!” ungkap Zola sembari mengangkat ranselnya dan pergi menjauh dari wanita itu. Wanita itu tidak menghiraukan peringatan dari Zola, dia berjalan mengikuti Zola dari belakang. Zola kembali menoleh ke wanita tersebut dan bersiap untuk marah.
“ini buku kakak ketinggalan..Aku balik dulu kak. Oh iya kak, kalau gak biasa ngerokok gak usah ngerokok kak. Bisa baca juga kan peringatan di bungkus rokok? Merokok membunuhmu! Mahasiswa sastra Inggris ngerti bahasa Indonesia juga kan? See ya.. bye!” Wanita itu tersenyum menjengkelkan dan pergi membalikkan badannya pergi menuju arah yang berlawanan dengan Zola.
“Kenapa Zol?” Sapa Gio satu-satunya teman Zola di kampus ini.
“Itu cewek sinting siapa sih? Reseh banget orangnya, sok kenal pula.” Umpat Zola sembari menunjuk dan masih memperhatikan wanita itu semakin menjauh pergi.
“Itu bukannya  si Ale yah? Itu kan sepupunya Yona mantan lo yah Zol? Anak seni fotografi 2016.”
Zola mengernyitan dahinya berusaha mengingat, membuka memori mengenai Yona, wanita yang sangat dicintainya namun pergi meninggalkannya dengan alasan yang tidak jelas. Apa iya Yona memiliki sepupu yang bernama Ale. Dari mana Ale tahu segala hal tentang Zola.  Begitu banyak pertanyaan di kepala Zola saat ini, dia hanya berharap malam cepat tiba dan kehidupannya yang sebenarnya baru akan datang.


Zola menebalkan make up putih yang menutupi seluruh wajahnya, menambahkan riasan merah pada kelopak mata dan bibirnya, tidak lupa memasang hidung bulat dan wig curlynya yang berwarna warni. Baju badut konyol pun sudah dikenakannya. Malam ini Zola berusaha tampil dengan maksimal menghibur anak- anak seperti biasanya.
Malam ini Zola mendapat job menghibur anak- anak di panti asuhan Mulia Asih, honor yang diperolehnya sangat lumayan. Ada seorang donatur yang merayakan ulang tahun Puterinya yang masih kecil di sana.
Dari kejauhan Zola melihat seorang wanita membagikan balon ke anak- anak panti, dengan senyum yang tulus wanita itu ikut bernyanyi di kelilingi ana-anak yang tampak bahagia. Zola seketika tersadar itu adalah wanita yang tadi pagi menegurnya, wanita aneh si penguntit, tapi ini bukan waktunya untuk marah. Saatnya bekerja, semoga wanita itu tidak sadar bahwa badut ini adalah Zola.
Selesai acara, Zola secepatnya menghindar dari wanita itu. Tiba- tiba wanita itu kembali memanggil.
“Hei Kak Badut, ini ada sedikit kue buat Kakak terima kasih yah sudah membuat pesta ulang tahun keponakan saya menjadi semakin meriah” ucap wanita itu ramah..
Dengan ragu Zola menoleh, menerima bungkusan kue itu dan secepatnya menaiki mobil rombongan badutnya.
“Kakak langsung pulang atau mampir ke pasar malam dulu?” Tanya wanita itu lagi kepada Zola.
Zola kembali menengok dan terkejut.
“Kamu tahu dari mana saya sering di pasar malam? Kamu tahu siapa saya? Jangan-jangan kamu sengaja mengundang saya kesini, untuk menghina saya? Dan satu lagi jangan hanya karena kamu sepupu Yona saya bisa  hormat dengan kamu!”
Zola pergi dengan emosi yang meledak di dadanya, sejak awal Zola agak curiga, mengapa honor menjadi badut hari ini sangat besar. Mengapa secara kebetulan ada Ale di pesta tadi. Zola menjadi yakin, wanita itu bisa tahu biodatanya secara lengkap juga dari CV lamaran kerja yang sudah disebar ketika Zola mencari pekerjaan.


Brrakkk… Zola ambruk, penyakit asmanya kambuh di tengah hiruk pikuk pasar malam hari ini. Sesak di dadanya semakin menjadi- jadi.  Semua menjadi semakin rabun, dan gelap. Tiba- tiba terdengar suara wanita itu lagi.
“Kakak.. bangun kak. Kak Gio, Tolong ambil kotak P3 K di mobilku yah kak!” suara itu yang terakhir terdengar samar- samar dari telinga Zola.
Dengan sigap Ale memasangkan alat berbentuk tabung, dan mengemprotkan gas dari tabung tersebut kepada Zola. Perlahan Zola terlihat bernafas dengan stabil, dan bisa membuka matanya.
Secangkir teh hangat menemani 3 anak manusia yang kini duduk di satu meja dan saling terdiam. Ketiganya hanya saling menatap dan terlihat kikuk untuk membuka obrolan.
“Makasih..” ucap Zola singkat terhadap wanita yang barusan tadi menolongnya namun dimakinya pula di pesta ulang tahun.
“Ale.. panggil saja aku Ale kak. Yup benar, aku sepupunya Yona. Tapi kakak tenang aja, gak sekali pun aku bermaksud buat ikut campur urusan kalian berdua. Kak Gio tahu semuanya. Kakak bisa Tanya ke Kak Gio. Ini udah sangat malam, aku harus pulang.” Sahut Wanita itu sembari meraih kotak P3Knya dan berlalu pergi.
 Zola terdiam kemudian mengambil kapas di depan meja rias dan membersihkan riasan make up badut di wajahnya. Tak sepatah kata maupun pertanyaan menghampiri Gio yang tampak bersiap untuk bercerita.
“Lo gak tanya soal Ale, Zol?”
“Ya udah cerita apa yang lo tau, katanya Sohib tapi koq bisa ada hal kayak gini lo kagak cerita apa-apa ke gue? Temen macem apa lo gio? Sengaja biar gue dihina si Ale-ale itu apa gimana?”
“Inilah yang bikin gue males cerita Zol, lo gak pernah tanya. Gue cerita juga kayaknya percuma, gue gak yakin lo bener-bener nyimak cerita gue. Gak di kampus, di tempat kerja siapa sih yang bisa komunikasi baek-baek sama lo Zol? Gak ada kan?? Dikit-dikit bawaan lo tuh sensi, marah. Gue juga empet sebenernya!!” Gio menendang kursi dan
mengambil kunci motornya meninggalkan Zola sendiri di depan cermin meja rias.


“Kamu sebenarnya siapa? Apa tujuan kamu baikin aku?” Ucap Zola menegur Ale yang sedang mengambil gambar sarang burung dari kameranya. Wanita itu menaiki undakan kayu untuk mendapat sisi pengambilan gambar yang sempurna.
Ale menghentikan aktivitas memotretnya dan tersenyum ke arah Zola, Dia kemudian turun dari undakan kayu dan menggandeng Zola pergi ke suatu tempat. Kelakuan wanita ini semakin membuat Zola tidak habis pikir.
Di lorong ruangan fotografi terjajar beberapa Foto yang membuat Zola terkejut. Ada beberapa gambar yang merupakan foto dirinya ketika menjadi badut, di pasar malam, di pesta ulang tahun. Ntah sejak kapan Foto- foto itu terpajang di lorong kampus, bahkan Zola tidak pernah menyadarinya.
“Ini semua hasil foto kamu?” Zola bertanya ragu pada Ale. Wanita itu hanya mengangguk dan kembali tersenyum.
“Sejak kapan kamu jadi penguntit sejatiku?” Zola bertanya kembali.
“Sebenernya bukan penguntit kak.. Secara kebetulan aku ada di waktu dan tempat yang tidak tepat. Aku ada waktu Yona putusin kakak, dan aku tahu juga itu karena dia malu punya pacar badut. Secara kebetulan juga, aku nemuin CV kakak yang tercecer di jalan. Secara kebetulan juga waktu aku cari objek foto yang bagus, aku lihat kakak hibur anak-anak. Sejak itu aku tahu kakak. Aku juga tanya tentang kakak ke Kak Gio.”
“Jadi yang cerita kalo aku punya astma juga Gio? Mkanya kamu sudah prepare obat astma di Kotak P3K?”
“Kakak kenapa sih kalo menyimak cerita selalu ujung-ujungnya jadi sensi? Bukan Kak Gio yang cerita kakak Astma. Secara kebetulan juga aku sakit astma keturunan, mkanya aku selalu siapin obat astma.”
Mereka berdua kembali terdiam untuk beberapa saat. Zola menunduk malu. Dia tidak sanggup menatap Ale lagi. Sudah terlalu sering dia berkata kasar, marah terhadap orang di sekelilingnya. Apakah patah hati sebegitu hebatnya mengubah karakter seseorang yang semula ceria menjadi pemarah? Sebegitu saktinya cinta menghancurkan kehidupannya saat ini.
“Semua orang itu pernah patah hati kak, bukan kakak aja! Tapi kalau kita sudah berani jatuh cinta yah kita harus tahu juga resikonya. Jatuh itu pasti sakit, termasuk jatuh cinta. Tapi gak ada sakit yang gak bisa diobatin kan kak?”
“Maaf”
“Ya sudah kak gak perlu dibahas lagi. Kakak tahu kenapa badut itu istimewa buat aku?”
“Kenapa?”
“Dulu waktu aku kecil aku takut banget kak sama badut, sampe suatu hari ada badut yang berdiri dipagar sekolahku. Badut itu memberi aku uang untuk jajan. Waktu itu aku masih SD. Teman-teman ku menertawakan aku dan menghinaku, Ale anak badut! Ale anak badut! Kalimat itu terngiang hingga aku trauma kak.. Yup.. badut itu ayahku. Dia tetap mwnghibur anak-anak itu meski dihina. Aku dulu sempat jadi anak durhaka kak. Aku sempat marah pada Ayah, kenapa harus ke sekolahan dengan kostum badut.” Ale berhenti bercerita dan terlihat matanya berkaca..
“Lalu?”
“Ayahku juga sakit astma kak.. Suatu hari ayah tidak pulang-pulang hingga larut malam, ternyata ayah anfal ketika menghibur anak-anak di pasar malam kak. Ayah meninggal. Sejak itu aku sadar. Badut itu istimewa. Pasca ayah meninggal aku jadi yatim piatu kak. Aku diadopsi keluarga yang sekarang. Aku beruntung diadopsi keluarga yang sayang denganku. Itulah yang membuat aku sekarang tetap akrab dengan anak panti asuhan kak. Karena dari panti itu juga aku berasal,”
“Jujur aku kaget dengar cerita kamu Le, Speechless.. Aku pikir kamu cuman cewek manja, anak orang kaya yang kurang kerjaan nguntitin orang. Tapi ternyata.. kamu beda”
Ale tersenyum, mengarahkan kameranya kea rah Zola dan membidik mengambil gambar tiba-tiba. Zola tertawa, merasa nyaman bercerita dengan wanita itu. Hari ini semua menjadi lebih baik, Zola menemukan orang yang bisa berkomunikasi dengan baik dengannya. Yup.. orang itu adalah Ale, Alesia Diandra.


“Heii.. Heii.. Kakak.. Ntar malam free kan? “ ucap Ale sembari menggoncangkan Zola yang sedang terpaku dengan buku sastranya, Ale mengusik Zola keluar dari dunia nyamannya. Yup.. membaca buku. Zola hanya menoleh dan menaikkan satu alisnya, kemudian mengangguk.
“Le, kamu bisa lebih anggun, kalem dikit gak? Kalo diperhatiin sebenernya kamu itu cantik lho Le..” Sahut Gio yang sejak tadi sibuk dengan smartphonenya.
“Ishhh.. Kak Gio baru sadar aku cantik? Kemana aja sih? Jangan berusaha cocol aku yah wahai pemuda-pemuda bumi.. Kesucian berlapisku tidak akan dengan mudah kau cocol manja..” sahut Ale sembari meniru gaya selebgram fenomenal MIMI PERI, sepertinya wanita yang benar-benar tulen pun tidak melakukan gerakan anggun yang berlebihan seperti itu. Tampak Zola tersenyum kecil kemudian kembali ke aktivitas membacanya.
“Sumpah!! keliatan makin absurd deh kamu Le.. Lagian cewek koq ngajak ngedate duluan? Jaim dikit kenapa? Lagian ngajak pergi koq si Zola, mending juga pergi ma aku..” ucap Gio sembari bangkit dari singgasana kursinya kemudian menghampiri Zola merebut buku yang di tangan Zola.
Zola tampak kesal dengan Gio dan merebut kembali bukunya.
“Memang kamu mau kemana Le?” Ucap Zola akhirnya bersuara.
“Belum ada ide sih kak.. Kakak biasanya kemana? Ntar aku temenin”
“Aku biasanya ke luar angkasa” sahut Zola asal kemudian melanjutkan aktivitas membacanya kembali.
“Wow keren.. ayuk kita berpetualang ke luar angkasa” sahut Ale sembari mengepalkan tangan ala-ala superman.
“Yang satu absurd yang satu lagi sinting.. Bisa makin gila gabung ma kalian lama-lama, aku ke kantin dulu guys..” sahut Gio sembari berlalu meninggalkan Zola dan Ale..
Ale kemudian menatap arlojinya.. Kakinya bergerak maju mundur dan menghentak. Ale memainkan ponselnya beberapa saat, dan tampak sibuk. Benar-benar wanita yang sulit ditebak.
“Yah malam masih lama yah kak, gimana kalau kita sekarang aja ke luar angkasanya? Yuk.. ayuk…” ucap Ale sembari menggeret tangan Zola.
“Kamu mau ajak aku kemana, Le?” sahut Zola heran, dia tidak menyangka wanita itu benar-benar berniat mewujudkan jawaban asalnya, namun Ale tidak menjawab apa-apa, wanita itu hanya terus menggeret tangan Zola, dengan mimic wajah yang antusias.
Zola diajak Ale ke GSG kampus.
“Luar angkasa macam apa ini Le?” Zola makin heran, GSG tampak sepi. Mereka berdua berdiri di panggung yang biasa digunakan anak seni Teater mengadakan pertunjukan.
“Tungga sebentar kak, aku telfon salah satu aliennya dulu..” jawab Ale sembari mengeluarkan ponselnya menelfon seseorang.
Kemudian layar dibelakang mereka berdiri terkembang turun, tampak background gambar langit penuh bintang, disusul sorot lampu dari berbagai sisi.. Satu per satu muncul gambar planet, matahari dan efek suara bertema futuristic.
“Thanks sob…” teriak Ale memanggil seseorang yang mengendalikan background dan music, Wanita itu kemudian melambaikan tangan ke arah seseorang di ruangan kendali atas dan bertepuk tangan.
“Mereka teman kamu Le?”
“iyah Kakak.. itu alien-aliennya..ini ruang angkasanya, keren kan? Ayuk kita duduk, belum pernah kan lihat gambar-gambar keren sedekat ini?”
“Ya iyah deket Le, kita di atas panggungnya.. biasanya kan di kursi penonton.”
“Seperti itu juga hidup kak, kadang kita hanya jadi penonton yang bisa bebas berkomentar, kadang kita juga harus menjadi pemeran yang ada di panggung dan bertindak sesuai scenario. Which is dalam hidup, Tuhan yang mebuat takdir itu untuk kita.. Kalau kakak berpikir kakak lemah maka selamanya kakak akan menjadi lemah, tapi kalau kakak berpikir kakak kuat, selemah apa pun kakak sebenarnya… Kakak akan menjadi kuat untuk menerima kenyataan.”
Zola menghela nafasnya, dipandangnya layar yang berganti-ganti gambar di depannya, di sebelahnya ada wanita yang memancarkan gairah hidup sangat besar. Mereka duduk di lantai panggung itu tanpa beban, mereka tidak memikirkan hal yang berat-berat. Hanya menghabiskan waktu luang ini bersama. Sungguh, mungkin ini hikmah yang dia dapat dari patah hati kemarin.


Berkat motivasi dari Ale, perlahan Zola kembali ke sifatnya yang dulu, ceria, selalu semangat menjalani pekerjaannya. Seperti malam ini, ada peresmian taman hiburan baru. Zola bersiap dengan kostum badutnya, bola warna marni, sepeda roda satunya.
Tampak di jauhan kursi VIP tamu, Zola melihat wanita yang sudah tak asing lagi. Yup itu Ale, wanita itu tampak sangat berbeda dari biasanya. Ale tampak sangat  anggun dengan gaun hitam dengan sedikit aksen batik eksklusif dan rambutnya yang tergerai cantik. Yup Ale yang kesehariannya sangat sederhana, ketika tampil dengan gaun begini jadi tampak sangat berkelas. Zola tak bisa memalingkan wajahnya dari Ale, hingga pandangannya terkacau oleh pria dengan kemeja batik lengan panjang yang duduk disebelah Ale. Pria itu berbincang akrab dengan Ale.
“Itu pacarnya Ale Zol, keren yah, baik juga orangnya. Memang bener katanya orang baik bakalan dipertemukan dengan orang baik pula. Mereka itu pasangan perfect menurut gue Zol” ucap Gio sembari mempertegas hipotesis Zola tentang pria itu.
“Yuk ah Zol, ngapain liatin orang pacaran. Ayok kita kerja!” ucap Gio lagi sembari menarik Zola menuju ke arena pertunjukan sirkus dan badut.
Ntah kenapa Zola jadi tidak bisa berkonsentrasi dalam bekerja malam ini. Mungkin ini yang disebut cemburu? Ntahlah.. Ale bukan siapa-siapa bagi Zola, apa dia berhak cemburu terhadap Ale? Kenapa Tuhan memberinya parade oatah hati bertubi-tubi seperti ini. Sejak Kapan dia jatuh cinta pada Ale? Banyak pertanyaan yang memenuhi otak Zola malam ini..
 “Gi. Sorry malam ini gue gak jadi kerja. Gue ke belakang yah.” Ucap zola dan pergi menuju belakang arena pertunjukan. Zola menuju meja rias dan membersihkan riasan wajahnya, mengganti pakaiannya. Meraih ponselnya dan berusaha menghubungi wanita yang mengganggu pikirannya..
“Le, Aku mau ketemu kamu sekarang bisa? Aku di taman hiburan, tadi aku lihat kamu. Aku sekarang di belakang panggung. Aku tunggu yah..”
“Ada apa kak?” suara Ale terdengar beberapa menit kemudian.
“Le kamu sengaja bikin aku kuat kan?”
“Maksud kakak?”
“Patah hati ini lebih dalam dari yang kemarin le, dan luka itu kamu yang membuatnya”
“Tolong jelasin maksud kakak gimana?”
“Kamu yang nyembuhin patah hatiku kemarin Le, Kamu captain pelangi di hidup aku yang suram, Kamu kasih motivasi aku untuk lanjutin hidupku, dan sekarang kamu sedang latih aku menjadi lebih kuat kan Le? Kamu berhasil Le. Aku jadi lebih kuat sekarang. Makasih buat patah hati ini, aku ikhlas.. Yakinin aku sekarang kalau kamu cumin ngelatih aku jadi lebih kuat kan Le? Bukan benar-benar pergi dengan laki-laki itu?”
“Maaf kak, sejak awal aku Cuman lihat sosok ayah di diri kakak, makanya aku anggap kakak itu istimewa. Tapi sudah sejak lama juga hati ku sudah dimiliki dia. Kakak tidak pernah bertanya tentang hidupku kan kak? Bukan aku menyembunyikan dia. Tapi selama ini, kakak tidak pernah bertanya. Sejauh ini obrolan kita didominasi 70% membahas tentang kakak..Patah hati kakak, apa yang kakak suka, hari-hari kakak. Apa pernah kakak tanya tentang Ale? Cuma 30% sisanya kan. Jadi bukan salah Ale jika hingga hari ini kakak baru tahu tentang dia. “
Zola terdiam, ucapan Ale menusuk ke hatinya lagi. Ada sesuatu yang terasa nyeri di dalam dadanya, ini bukan astma. Ini lebih dari itu. Zola baru sadar selama ini memang dia sangat jarang bertanya pada Ale, sejauh ini lebih banyak Ale yang bertanya padanya. Bagaimana harinya? Bagaimana kisahnya? Zola sadar dia memang sangat egois.
Zola tertegun sesaat, dan memperhatikan punggung Ale yang berjalan menjauh darinya. Ale ditunggu di depan sana dengan Pria yang tampak bingung dengan apa yang terjadi. Mereka pergi dengan mobil dan melewati Zola dan mulai menjauh.
Zola mengumpulkan seluruh tenaganya untuk menyelesaikan masalahnya hari ini, menghela nafas panjang dan bersiap… Kisah ini baru akan dimulai dan diperjuangkan..
Zola berlari..

_THE END_



Tidak ada komentar:

Posting Komentar