Rabu, 18 Oktober 2017

Surat Terbuka untuk Suamiku



Sayang sudah hampir satu tahun kita berumah tangga. Mungkin ada banyak hal yang ingin kamu utarakan? Tapi tidak tahu harus mulai dari mana untuk membuka cerita. Baiklah, istrimu yang cerewet ini akan membuka cerita untukmu.

Aku mengenal kamu sebagai pribadi sederhana versi invers dari kepribadian ku yang kompleks. Kamu laki-laki yang membuka cakrawala pikiranku bahwa hidup memang tak adil, tapi itu semua tergantung dari sisi mana kita menilai keadilan itu? Tak jauh dari sejauh mata kita memandang sekitar. Tak lebih jauh dari abang tukang sayur yang keliling kompleks menjajakan sayuran segarnya. Mengapa demikian? Kadang kita hanya memiliki sudut pemikiran yang sempit tentang hidup. 

Ketika jarak memisahkan orang yang berpacaran mungkin menjadi ujian yang besar. Tapi di saat jarak memisahkan orang yang sudah berumah tangga itu adalah pembuktian besar bahwa komitmen bisa menjadi satu jawaban. Tidak ada hal yang tidak mungkin apabila itu sudah menjadi keputusan kita bersama. Mungkin aku bukan Gal Gadot sang Wonder Woman yang punya kekuatan super, setidaknya aku adalah istri yang tidak merepotkanmu dengan banyak hal, tahu apa yang menjadi prioritas hidup. Istrimu akan berusaha selalu kuat selama kita masih berjauhan. Bukan kuat secara fisik namun secara hati dan pikiran, istrimu tahu siapa nama orang yang perlu disebut dalam doa-doanya.

Sayang.. mungkin di luar sana akan banyak godaan selama kita berjauhan. Tidak akan ada habisnya keindahan yang diciptakan sang pencipta di dunia ini. Satu hal yang aku pastikan padamu, pada dasarnya semua manusia itu sama. Memilik sisi gelap dan terang yang seimbang. Bahkan sesuatu yang menjadi sumber cahaya sekalipun pasti memiliki suatu sisi gelap yang mungkin tidak terlihat dari sisi kita sekarang. Tidak ada manusia yang sempurna. Kamu akan selalu menemukan warna yang berbeda dari pribadi yang lain, dan keputusan sesungguhnya ada di dirimu sendiri apa terus mencari warna yang berbeda atau memahami keindahan warna yang sudah kamu miliki sekarang.

Mungkin istrimu tidak bisa mengontrol kebutuhanmu di tiap harinya. Mungkin hanya seminggu sekali? dua minggu sekali? atau bahkan sebulan sekali? Ya begitulah resiko yang kita dapati dari apa yang kita pilih sekarang. Tapi satu hal yang ingin aku sampaikan. Tangan memang bisa meraih apa yang ada di dekatmu, apa saja yang ingin kamu sentuh. Tapi ada hal yang tidak bisa kita sentuh dengan tangan. Hati lah yang menjadi juara untuk menyentuh tapi tidak tersentuh. Mungkin aku tidak dekat secara fisik denganmu setiap hari, namun hatiku tidak sedetik pun hilang dari ruang di hatimu bukan? Hahaha.. istrimu ke-PDan. Awas saja jika jawabannya “tidak”…. *siap-siap diomeli istri 24 sks!!

Teruntuk kamu laki-laki yang bisa melengkapi hidupku. Ada daftar panjang target dan cita-cita yang sudah kita rancang bersama. Jangan pernah lelah untuk selalu berbagi cerita. Semua bisa kita hadapi bersama. Kita kuat selama kita yakin kita kuat. Bersama kita bisa! 

Teruntuk kamu laki-laki yang menyebalkan, super lelet, egois, tidak kreatif, tidak romantis kadang pelit suka kentut. Istrimu yang ceroboh, super galak, cerewet, tidak sabaran, kadang cengeng, rakus, makannya banyak. Akan selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, bukan untuk kamu, bukan untuk aku, tapi untuk kebaikan kita bersama. Aku mencintaimu.

                                                                                                                              Kebon tebu, 18 Oktober 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar