Senin, 17 November 2014

Tiga..



This is my story about him..


Lampung Tengah 12 November 2014,

Entah mengapa aku tak berdaya
Waktu kau bisikkan,
"Jangan aku kau tinggalkan"
Tak tahu di mana ada getar terasa
Waktu kau katakan
"Kubutuh dekat denganmu"

Seperti biasa aku diam tak bicara
Hanya mampu pandangi
Bibir tipismu yang menari

Seperti biasa aku tak sanggup berjanji
Hanya mampu katakan,
"Aku cinta kau saat ini"
Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah..

Lirik lagu lawas milik Iwan Fals mengalun dari lappy Indira mengiringi aktivitas paginya di kantor. Indira Rinjani atau yang akrab dipanggil Dira masih fokus mengerjakan laporan – laporan untuk bahan meetingnya. Hari ini hari rabu, hari crowded and so almost busy for everythings.. Meeting mingguan rutin diadakan di tiap hari Rabu. Setelah fokus beberapa saat dan mengejar seluruh kekurangan bahan meetingnya, akhirnya pekerjaannya selesai. Waktu sisanya dipergunakan untuk browsing, dan segala aktivitas keponya di dunia maya.  Tiba-tiba hp Dira berdering pendek, tanda bbm masuk.

Gatra Satria     : Met pagi eneng.. ^_^  Semangat kerjanya yah sayang..
Indira Rinjani  : Met pagi akang, iyah semangat koq kerjanya kang.. ^_^

Dira membaca bbm tersebut kemudian tersenyum berseri. Dira mengetik cepat serangkaian kalimat balasan bbm kepada cowok yang hampir 4 bulan ini mengisi harinya, membuat hari –harinya berwarna seindah pelangi. Meski mereka hanya bisa bertemu seminggu sekali, atau mungkin sebulan sekali. Tapi mereka selalu berusaha menjaga komunikasi dengan baik di tiap harinya. Lokasi kerja Dira dan Gatra cukup jauh satu sama lain. Di tengah hiruk pikuk pekerjaan kantornya, Dira selalu berusaha tetap mengingat tentang Gatra, segala hal detail mengenai Gatra tak pernah luput dari perhatian Dira. Makhluk kepo ini selalu berusaha menambah wawasan dari internet maupun saran orang-orang, baik itu mengenai tips kesehatan, mitos atau apa pun. Dan, di kala malam datang sepulang Gatra kerja, mereka biasa saling bercerita melalui telfon tentang pengalaman apa saja yang mereka dapat hari ini, maupun sedikit flash back menceritakan pengalaman di masa lalu mereka satu sama lain, hingga kemarin malam pembicaraan mereka tertuju pada cerita flashback mengenai Wawan, ex Dira selama 6 tahun...


Dira       : “Kang, kapan2 aja deh neng lengkapin ceritanya yah kang?”
Gatra    :“Yahh.. neng, cerita atuh yang lengkap. Kalau cerita itu doang akang mah udah tau           neng... ”
Dira    : “iyah  jadi neng jadi suka sama lagunya Iwan Fals yang judulnya “ntah” itu gara2 ada liriknya yang kena ma neng. “seperti biasa, aku tak sanggup berjanji, hanya mampu katakan aku cinta kau saat ini, ntah esok hari, ntah lusa nanti”Neng dulu pernah janji dan ngga bisa neng tepatin kang dengan Wawan.”
Gatra     : “Akang taunya yang waktu Wawan sakit kebocoran ginjal, trus dia hampir frustasi, badan sudah bengkak, ngga mau minum obat, dia nyuruh neng ninggalin dia aja dan mencari cowok lain yang sehat, tapi neng kagak mau dan berjanji ngga ninggalin dia? Kalau soal itu kan janjinya karena situasi neng.. Kenapa harus dipikirin? Dia aja yang lebay dan menganggap itu hal special..”
Dira    : “Iyah, itu akang udah tau kan ceritanya.. kalau yang versi lengkapnya kapan2 neng ceritanya”
Gatra     : “kenapa harus kapan2 ceritanya neng? Siapa tau bisa dijadiin pelajaran buat ke depannya.. hayuhh neng sokk atuh ceritaken.. jangan bikin akang penasaran..
Dira       : “Kang.. neng sayang ma akang.”

Malam kemarin Dira tetap kekeh untuk tidak menceritakan masalah janji itu dengan lengkap pada Gatra kekasihnya sekarang ini, Dira hanya menutup pembicaraannya seperti itu.  Sepertinya tidak mungkin menjelaskan dengan rinci, Dira tidak ingin membuat Gatra cemburu atau berpikiran yang tidak-tidak hanya itu sebenarnya alasan mengapa Dira enggan untuk menceritakannya dengan lengkap. Dira terlalu sayang dengan Gatra. Mungkin di esok hari Dira akan menceritakan versi lengkapnya dengan cara yang berbeda, dengan cara khusus ala Dira tanpa harus mengucapkan hal itu langsung pada Gatra.
Dira mengetikkan cerita pada lappynya kata demi kata, mencoba membuat cerpen singkat yang mungkin dapat menjelaskan cerita yang tertunda semalam.

Bandar Lampung, 26 Agustus 2009. 

Wawan masih membuka dan menutup penutup silinder obatnya ketika Dira masih berada di perjalanan  untuk menjenguknya membawakan makan siang, yakni masakan sederhana sesuai anjuran dokter yang menangani Wawan. Beberapa saat kemudian, Wawan menatap penampakan tubuhnya sekarang di cermis kostannya.  Raga itu tampak begitu gemuk, sangat jauh berbeda dengan perawakannya biasanya. Dilengkapi dengan wajah pucat bersemu bengkak. Berat badan Wawan mengalami peningkatn drastis dalam beberapa hari ini, sudah mencapai kenaikan12 kg hanya dalam 4 hari saja. Wawan mengidap penyakit kebocoran ginjal. Urine yang seharusnya difilter oleh ginjal, menjadi tidak terfilter dan menybabkan pembengkakak di tubuhnya. Ada berbagai obat yang harus Wawan minum sebagai usaha untuk mengobati kebocoran pada ginjalnya agar membaik dan menutup kembali. Wawan merasakan mual yang sangat parah, sudah keempat kalinya dia muntah hari ini. Silinder wadah obat itu kemudian dibuka dan dituangnya semua obat berwarna hijau itu digenggaman tangannya, hendak dibuang jauh2.  Tiba-tiba suara bentakan Dira menghentikan Wawan melakukan hal bodoh itu.
                “Wan kamu tuh ngapain?!!
Dira berlari mendekati Wawan dan secepatya memasukkan kembali butiran obat itu ke silinder wadah. Wawan menatap Dira kemudian berkata,
                   “Dira, sebaiknya kita putus sekarang. Kamu bisa mencari cowok lain yang sehat, bukan cowok penyakitan seperti aku. Aku capek Dira minum obat hijau ini, tidak ada khasiatnya juga, aku pasti mati karena penyakit ini.. Sebaiknya kamu tinggalin aku sekarang!! Pergilah Dira!!” Wawan berteriak sembari menangis dan mendorong tubuh Dira agar keluar dari kamar kostannya.  Bukannya meninggalkannya, gadis itu justru mendekat ke arahnya sembari menangis mencoba memeluk menenangkan Wawan.
Ketika situasi mulai stabil. Dira mengambil kotak makan siang yang disiapkannya dari rumah, perlahan menyuapi Wawan. Awalnya cowok itu menolak untuk makan, dengan segala cara Dira membujuknya. Akhirnya dia mau makan masakan tawar itu. Setelah makan, Dira menyiapkan obat-obatan Wawan yang harus diminum sesuai anjuran dokter. Wawan langsung berdiri dan menghindar dari suapan obat tersebut. Dira menahan Wawan. Tanpa berpikir panjang, Dira memasukkan butiran-butiran obat itu ke mulutnya sendiri, kemudian dengan cepat Dira mencium Wawan dan menyalurkan seluruh obat-obatan di mulutnya pada Wawan. Itu adalah ciuman terpahit seumur hidup Dira demi menyelamatkan hidup seseorang yang dia sayangi. Sungguh tidak ada enaknya. Obat-obat itu sangat pahit. Dira hanya berpikir itulah cara yang harus dilakukan agar Wawan mau meminum obatnya hari ini, dan mungkin akan dengan kesadarannya  sendiri untuk meminum obat secara normal, meminum obatnya sendiri tanpa harus menyusahkan Dira lagi di hari lainnya.

Setelah memastikan seluruh obat itu sudah ditelan oleh Wawan. Dira mengucapkan janji pada wawan. “Aku ngga akan ninggalin kamu wan.”

Kalimat sederhana itu yang mungkin menjadi malapetaka bagi Dira. Membuat Wawan susah move on hingga sekarang masih sering menggangu kehidupan Dira. Berbagai masalah masa lalu ini juga yang menyebabkan hubungan Dira dan makhluk UFO nya Gatra Satria menjadi sedikit tersendat di pihak orang tua Dira. Entah apa yang Wawan lakukan dan rencanakan sehingganya kini orang tua Dira hanya mendukung untuk Dira kembali kepada Wawan dan meninggalkan Gatra. Padahal Dira sudah memikirkannya dengan matang mengapa dia sampai meninggalkan Wawan. Tidak adil rasanya bila orang-orang hanya men-judge bahwa Gatra adalah orang ketiga dalam hubungan Wawan dan Dira. Faktanya bukan karena Gatra lah Dira meninggalkan Wawan, tapi jauh sebelum Dira dekat dengan Gatra, hubungan Wawan dan Dira memang sudah rapuh, namun konyolnya selalu terkesan sempurna bagi orang-orang yang melihat. Wawan dengan sejuta keegoisannya, dan pemikiran childish-nya, semakin lama membuat Dira jenuh dan tidak sanggup lagi untuk bertahan. Berbagai mellow drama terjadi akibat tingkah dan kelakuan yang sengaja dilakoni Wawan sebagai usaha untuk merubah keputusan Dira untuk putus. Namun, itu justru membuat mata Dira semakin terbuka untuk mengetahui seperti apa cowok yang dia pertahankan selama 6 tahun lebih ini. Dira semakin yakin untuk mengakhiri hubungannya dengan Wawan.
             
           “Kang.. Cuma cerita pendek ini yang bisa neng tulis buat cerita ke akang, sebenernya ada apa waktu neng janji ke wawan hari itu.  Ngga ada hal laen lagi yang neng tutupin koq kang. Versi lengkap ceritanya yah begini.. Maaf yah kang kalau sekarang neng ngga pernah sekalipun berani buat janji apa2 ke akang. Bukan karena neng ngga sayang ma akang, atau pun ngga serius ke akang. Tapi neng Cuma ngga mau kalau suatu saat neng ngga bisa menepati janji itu kang. Seperti yang akang bilang jadikan pengalaman masa lalu itu sebagai pelajaran. Maka, itu yang neng coba lakuin sekarang. Dulu neng mudah banget untuk berjanji, niatnya mungkin baik, untuk menenangkan, melegakan orang2 yang neng sayangi tapi kenyataannya mengucapkan janji itu mudah namun yang sulit adalah menepati janji tersebut, apalagi ketika dihadapkan pada situasi sulit. Janji itu tinggalah sebuah janji yang mungkin tidak akan pernah tertepati. Maaf buat semuanya yah kang.. kalau ada hal yang akang ngga suka dari cerita ini, neng minta maaf. This is my story about him, dear.. “

Dira mematikan lappynya kemudian merapikan ATK yang tercecer di meja kantornya dan bergegas pulang ke rumah di Rabu siang ini.

THE END


Tidak ada komentar:

Posting Komentar