This is my story about him..
Lampung Tengah 12
November 2014,
Entah
mengapa aku tak berdaya
Waktu kau bisikkan,
"Jangan aku kau tinggalkan"
Tak tahu di mana ada getar terasa
Waktu kau katakan
"Kubutuh dekat denganmu"
Seperti biasa aku diam tak bicara
Hanya mampu pandangi
Bibir tipismu yang menari
Seperti biasa aku tak sanggup berjanji
Hanya mampu katakan,
"Aku cinta kau saat ini"
Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah..
Waktu kau bisikkan,
"Jangan aku kau tinggalkan"
Tak tahu di mana ada getar terasa
Waktu kau katakan
"Kubutuh dekat denganmu"
Seperti biasa aku diam tak bicara
Hanya mampu pandangi
Bibir tipismu yang menari
Seperti biasa aku tak sanggup berjanji
Hanya mampu katakan,
"Aku cinta kau saat ini"
Entah esok hari
Entah lusa nanti
Entah..
Lirik
lagu lawas milik Iwan Fals mengalun dari lappy Indira mengiringi aktivitas paginya
di kantor. Indira Rinjani atau yang akrab dipanggil Dira masih fokus
mengerjakan laporan – laporan untuk bahan meetingnya. Hari ini hari rabu, hari
crowded and so almost busy for everythings.. Meeting mingguan rutin diadakan di
tiap hari Rabu. Setelah fokus beberapa saat dan mengejar seluruh kekurangan
bahan meetingnya, akhirnya pekerjaannya selesai. Waktu sisanya dipergunakan
untuk browsing, dan segala aktivitas keponya di dunia maya. Tiba-tiba hp Dira berdering pendek, tanda bbm
masuk.
Gatra Satria : Met pagi eneng.. ^_^
Semangat
kerjanya yah sayang..
Indira Rinjani : Met pagi akang, iyah semangat koq kerjanya
kang.. ^_^
Dira membaca bbm
tersebut kemudian tersenyum berseri. Dira mengetik cepat serangkaian kalimat
balasan bbm kepada cowok yang hampir 4 bulan ini mengisi harinya, membuat hari
–harinya berwarna seindah pelangi. Meski mereka hanya bisa bertemu seminggu
sekali, atau mungkin sebulan sekali. Tapi mereka selalu berusaha menjaga
komunikasi dengan baik di tiap harinya. Lokasi kerja Dira dan Gatra cukup jauh
satu sama lain. Di tengah hiruk pikuk pekerjaan kantornya, Dira selalu berusaha
tetap mengingat tentang Gatra, segala hal detail mengenai Gatra tak pernah
luput dari perhatian Dira. Makhluk kepo ini selalu berusaha menambah wawasan
dari internet maupun saran orang-orang, baik itu mengenai tips kesehatan, mitos
atau apa pun. Dan, di kala malam datang sepulang Gatra kerja, mereka biasa
saling bercerita melalui telfon tentang pengalaman apa saja yang mereka dapat
hari ini, maupun sedikit flash back menceritakan pengalaman di masa lalu mereka
satu sama lain, hingga kemarin malam pembicaraan mereka tertuju pada cerita
flashback mengenai Wawan, ex Dira selama 6 tahun...
Dira : “Kang, kapan2 aja deh neng
lengkapin ceritanya yah kang?”
Gatra :“Yahh.. neng, cerita atuh yang
lengkap. Kalau cerita itu doang akang mah udah tau neng... ”
Dira : “iyah jadi neng jadi suka sama lagunya Iwan Fals
yang judulnya “ntah” itu gara2 ada
liriknya yang kena ma neng. “seperti biasa, aku tak sanggup berjanji, hanya
mampu katakan aku cinta kau saat ini, ntah esok hari, ntah lusa nanti”Neng dulu
pernah janji dan ngga bisa neng tepatin kang dengan Wawan.”
Gatra : “Akang taunya yang waktu Wawan sakit kebocoran
ginjal, trus dia hampir frustasi, badan sudah bengkak, ngga mau minum obat, dia
nyuruh neng ninggalin dia aja dan mencari cowok lain yang sehat, tapi neng
kagak mau dan berjanji ngga ninggalin dia? Kalau soal itu kan janjinya karena
situasi neng.. Kenapa harus dipikirin? Dia aja yang lebay dan menganggap itu
hal special..”
Dira : “Iyah, itu akang udah tau kan
ceritanya.. kalau yang versi lengkapnya kapan2 neng ceritanya”
Gatra : “kenapa harus kapan2 ceritanya neng?
Siapa tau bisa dijadiin pelajaran buat ke depannya.. hayuhh neng sokk atuh
ceritaken.. jangan bikin akang penasaran..
Dira : “Kang.. neng sayang ma akang.”
Malam kemarin Dira
tetap kekeh untuk tidak menceritakan masalah janji itu dengan lengkap pada
Gatra kekasihnya sekarang ini, Dira hanya menutup pembicaraannya seperti itu. Sepertinya tidak mungkin menjelaskan dengan
rinci, Dira tidak ingin membuat Gatra cemburu atau berpikiran yang tidak-tidak
hanya itu sebenarnya alasan mengapa Dira enggan untuk menceritakannya dengan
lengkap. Dira terlalu sayang dengan Gatra. Mungkin di esok hari Dira akan
menceritakan versi lengkapnya dengan cara yang berbeda, dengan cara khusus ala
Dira tanpa harus mengucapkan hal itu langsung pada Gatra.
Dira mengetikkan
cerita pada lappynya kata demi kata, mencoba membuat cerpen singkat yang
mungkin dapat menjelaskan cerita yang tertunda semalam.
Bandar
Lampung, 26 Agustus 2009.
Wawan masih membuka
dan menutup penutup silinder obatnya ketika Dira masih berada di perjalanan untuk menjenguknya membawakan makan siang,
yakni masakan sederhana sesuai anjuran dokter yang menangani Wawan. Beberapa
saat kemudian, Wawan menatap penampakan tubuhnya sekarang di cermis kostannya. Raga itu tampak begitu gemuk, sangat jauh
berbeda dengan perawakannya biasanya. Dilengkapi dengan wajah pucat bersemu
bengkak. Berat badan Wawan mengalami peningkatn drastis dalam beberapa hari
ini, sudah mencapai kenaikan12 kg hanya dalam 4 hari saja. Wawan mengidap
penyakit kebocoran ginjal. Urine yang seharusnya difilter oleh ginjal, menjadi
tidak terfilter dan menybabkan pembengkakak di tubuhnya. Ada berbagai obat yang
harus Wawan minum sebagai usaha untuk mengobati kebocoran pada ginjalnya agar
membaik dan menutup kembali. Wawan merasakan mual yang sangat parah, sudah
keempat kalinya dia muntah hari ini. Silinder wadah obat itu kemudian dibuka
dan dituangnya semua obat berwarna hijau itu digenggaman tangannya, hendak
dibuang jauh2. Tiba-tiba suara bentakan
Dira menghentikan Wawan melakukan hal bodoh itu.
“Wan kamu tuh ngapain?!!
Dira berlari mendekati
Wawan dan secepatya memasukkan kembali butiran obat itu ke silinder wadah.
Wawan menatap Dira kemudian berkata,
“Dira, sebaiknya kita putus
sekarang. Kamu bisa mencari cowok lain yang sehat, bukan cowok penyakitan
seperti aku. Aku capek Dira minum obat hijau ini, tidak ada khasiatnya juga,
aku pasti mati karena penyakit ini.. Sebaiknya kamu tinggalin aku sekarang!!
Pergilah Dira!!” Wawan berteriak sembari menangis dan mendorong tubuh Dira agar
keluar dari kamar kostannya. Bukannya
meninggalkannya, gadis itu justru mendekat ke arahnya sembari menangis mencoba
memeluk menenangkan Wawan.
Ketika situasi mulai
stabil. Dira mengambil kotak makan siang yang disiapkannya dari rumah, perlahan
menyuapi Wawan. Awalnya cowok itu menolak untuk makan, dengan segala cara Dira
membujuknya. Akhirnya dia mau makan masakan tawar itu. Setelah makan, Dira
menyiapkan obat-obatan Wawan yang harus diminum sesuai anjuran dokter. Wawan
langsung berdiri dan menghindar dari suapan obat tersebut. Dira menahan Wawan.
Tanpa berpikir panjang, Dira memasukkan butiran-butiran obat itu ke mulutnya
sendiri, kemudian dengan cepat Dira mencium Wawan dan menyalurkan seluruh
obat-obatan di mulutnya pada Wawan. Itu adalah ciuman terpahit seumur hidup
Dira demi menyelamatkan hidup seseorang yang dia sayangi. Sungguh tidak ada
enaknya. Obat-obat itu sangat pahit. Dira hanya berpikir itulah cara yang harus
dilakukan agar Wawan mau meminum obatnya hari ini, dan mungkin akan dengan
kesadarannya sendiri untuk meminum obat
secara normal, meminum obatnya sendiri tanpa harus menyusahkan Dira lagi di
hari lainnya.
Setelah memastikan
seluruh obat itu sudah ditelan oleh Wawan. Dira mengucapkan janji pada wawan. “Aku ngga akan ninggalin kamu wan.”
Kalimat sederhana itu
yang mungkin menjadi malapetaka bagi Dira. Membuat Wawan susah move on hingga
sekarang masih sering menggangu kehidupan Dira. Berbagai masalah masa lalu ini
juga yang menyebabkan hubungan Dira dan makhluk UFO nya Gatra Satria menjadi
sedikit tersendat di pihak orang tua Dira. Entah apa yang Wawan lakukan dan
rencanakan sehingganya kini orang tua Dira hanya mendukung untuk Dira kembali
kepada Wawan dan meninggalkan Gatra. Padahal Dira sudah memikirkannya dengan
matang mengapa dia sampai meninggalkan Wawan. Tidak adil rasanya bila
orang-orang hanya men-judge bahwa Gatra adalah orang ketiga dalam hubungan
Wawan dan Dira. Faktanya bukan karena Gatra lah Dira meninggalkan Wawan, tapi
jauh sebelum Dira dekat dengan Gatra, hubungan Wawan dan Dira memang sudah
rapuh, namun konyolnya selalu terkesan sempurna bagi orang-orang yang melihat.
Wawan dengan sejuta keegoisannya, dan pemikiran childish-nya, semakin lama
membuat Dira jenuh dan tidak sanggup lagi untuk bertahan. Berbagai mellow drama
terjadi akibat tingkah dan kelakuan yang sengaja dilakoni Wawan sebagai usaha
untuk merubah keputusan Dira untuk putus. Namun, itu justru membuat mata Dira
semakin terbuka untuk mengetahui seperti apa cowok yang dia pertahankan selama
6 tahun lebih ini. Dira semakin yakin untuk mengakhiri hubungannya dengan
Wawan.
“Kang.. Cuma cerita pendek ini yang bisa neng tulis buat cerita ke
akang, sebenernya ada apa waktu neng janji ke wawan hari itu. Ngga ada hal laen lagi yang neng tutupin koq
kang. Versi lengkap ceritanya yah begini.. Maaf yah kang kalau sekarang neng
ngga pernah sekalipun berani buat janji apa2 ke akang. Bukan karena neng ngga
sayang ma akang, atau pun ngga serius ke akang. Tapi neng Cuma ngga mau kalau
suatu saat neng ngga bisa menepati janji itu kang. Seperti yang akang bilang
jadikan pengalaman masa lalu itu sebagai pelajaran. Maka, itu yang neng coba
lakuin sekarang. Dulu neng mudah banget untuk berjanji, niatnya mungkin baik,
untuk menenangkan, melegakan orang2 yang neng sayangi tapi kenyataannya
mengucapkan janji itu mudah namun yang sulit adalah menepati janji tersebut,
apalagi ketika dihadapkan pada situasi sulit. Janji itu tinggalah sebuah janji
yang mungkin tidak akan pernah tertepati. Maaf buat semuanya yah kang.. kalau
ada hal yang akang ngga suka dari cerita ini, neng minta maaf. This is my story
about him, dear.. “
Dira mematikan
lappynya kemudian merapikan ATK yang tercecer di meja kantornya dan bergegas pulang
ke rumah di Rabu siang ini.
THE END


Tidak ada komentar:
Posting Komentar