Senin, 17 November 2014

Satu..



KEEP SAVE ME FOR 2 YEARS..


“Masih Adakah Separuh Hatiku? Yang Ku Berikan Hanya Untukmu..
Ku Harap Engkau Masih Menyimpannya..  Jangan Kau Pernah Melupakannya..
Maafkan Kata Yang Tlah Terucap, Akan Kuhapus Jika Ku Mampu..
Andai Ku Dapat Meyakinkanmu.. Ku Hapus Sikapku.. Hitamku untukmu..”

Sepenggal lagu lama dari Andra and The Black Bone terdengar mengalun dari handphone  Dira sore ini sembari merebahkan tubuhnya di kasur.Sore ini begitu biasa, seperti rutinitasnya di tiap sore yang lain. Masih mengenakan seragam kantornya, Dira menghela nafas panjang dan terus mendengarkan lagu itu sambil berpikir. Makhluk yang selalu memikirkan segala sesuatu dengan detail itulah Indira Rinjani.

Gue Indira Rinjani, gadis biasa dengan rutinitas yang tentunya biasa-biasa, nothing special.  Gue yang sekarang sudah menginjak usia yang bukan ababil lagi, masuk kategori dewasa mungkin, bisa jadi sudah tualah.. 25 tahun. Hufhhh berat juga sebutin umur... Gue bekerja di sebuah perusahaan swasta yang lumayan besar sih, kalau di lihat di tv, iklannya lumayan bagus. Bergerak di bidang perkebunan tebu skala besar, produk yang dihasilkan gula pasir dengan merk yang lumayan gampang dijamah orang di segala tempat. Tapi intinya kerjaan ini menuntut gw kerja jauh dari peradaban manusia. Perkebunan tebu yang aksesnya lumayan jauh dari kota. Bisa di bilang tempat Jin buang anak itu lah tempat gue tinggal sekarang. Jadi mandor yang terkadang kudu turun ke areal  langsung panas-panasan di terik siang mengontrol puluhan bahkan ratusan tenaga kerja itu spesifikasi kerjaan gw di tempat ini.  Bukan kerjaan yang buat gue berpikir lumayan berat saat ini, tapi masalah lagu yang lagi gue dengerin ini, dan seseorang yang beberapa bulan ini membuat hidup gue lebih berwarna.

Setelah beberapa saat merebahkan tubuhnya di kasur, Dira melanjutkan aktivitas sorenya seperti biasa. Mandi,mencuci pakaian kotor, masak masakan simple untuk makan malamnya.  Kemudian bersantai sambil kembali membuat kesimpulan mengenai lagu itu.
                “Mungkin makna lagu itu tentang berengseknya gue di zaman purbakala hingga sekarang. Bikin anak orang nangis bombay karena patah hati, PHP-in orang bertahun-tahun, atau menghilang tanpa jejak tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Gue banyak jahatin cowok, padahal niat awalnya sumpah dah kagak gitu maksudnya. Kadang gue cuma tulus mau berteman ma siapa aja.  Mungkin memang bener kalau segala sesuatu yang serba terlalu itu ngga bagus. Gue terlalu mudah kasihan ma orang, gue terlalu care ke orang, gue terlalu gampang ngebantuin orang lain secara maksimal. Dan serba terlalu lainnya.. Gatra Satria itu nama makhluk yang berhasil membuat gue sedikit berpikir tentang masa depan. Makhluk UFO itu juga yang membuat hari-hari gue berasa manis kayak gula. Gue jadi sadar, kelakuan gue selama ini perlu dirombak total, bukan untuk menghilangkan “The real who I am” tapi mengarahkan gue ke gue yang masih tetap gue tapi setingkat lebih baik. Rada berat buat merealisasikan lirik lagu itu “Ku Hapus Sikapku.. Hitamku untukmu..”Kalau aja hidup bisa di – Undo, Ctrl+Z mungkin gue adalah manusia tersering melakukan “Undo for every bad things which I did”kayaknya semua yang gue lakuin, gue kerjain salah total. Maksud hati nggak membuat orang sedih, tapi justru gue bikin anak orang nangis bombay beratus episode. Tapi gue akan berusaha berubah.” I will try it for u Tra..”

Gatra Satria adalah seorang cowok berusia 26 tahun, yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Dira. Sebenarnya Gatra bukanlah sosok baru dalam hidup Dira, mereka sudah kenal dari 6 tahun yang lalu. Berkuliah di institusi yang sama. Kuliah dalam 1 mata kuliah umum yang sama. Namun tidak pernah bertegur sapa, maupun berkomunikasi. Hingga mereka masing- masing melanjutkan hidupnya ketika wisuda di waktu yang berbeda. Dira hanya tahu Gatra itu ada namun seperti tidak ada. Bahkan seperti makhluk asing di luar planet bumi yang datang dengan UFOnya untuk kuliah di mata kuliah yang sama dengan Dira tanpa berkomunikasi dengan bahasa manusia.  Jauh di lubuk gubuk ambruknya hati Dira sebenarnya dia penasaran dengan makhluk UFO aneh itu.  Suatu ketika di dekat perpustakaan kampus..

Dira melihat Gatra sedang berjalan sendirian menuju arah yang berlawanan dengan Dira, Mereka berpapasan dengan satu line garis. Dira menoleh ke Gatra, dan cowok itu hanya berlalu seperti tidak melihat apa-apa. “Itu bukannya si Gatra Satria yah, hmm.. cowok aneh. Songong banget tuh bocah. Lihat aja suatu saat loe bakal negor bahkan berusaha ngobrol ama gue. Let’s see that..”Dira bergumam dalam hati dan kemudian kembali ke aktivitasnya bersama Wawan pacar 6 tahunnya. Kala itu Dira sedang membantu wawan mengerjakan Tugas.

Awan Yudastra atau yang biasa dipanggil Wawan adalah cowok yang selama 6 tahun terakhir sejak Dira kuliah berstatus sebagai pacar Dira. Ada banyak orang yang beranggapan mereka pasangan yang sempurna. Tampak harmonis tanpa masalah, selalu terlihat bersama, kompak. Seiman, seiya sekata bla bla bla.. dan kenyataannya memang hidup selalu tak mungkin akurat seperti apa yang orang lihat. Memulai kuliah di tahun yang sama, dan berwisuda dalam waktu yang sama pula. Keluarga yang sudah sangat dekat satu sama lain. Sempurna bukan? Sekali lagi, hidup tak pernah semulus itu. Kenyataannya? Wawan bukanlah orang yang Dira cari. Bahkan semakin menggiring Dira menjadi seorang yang berengsek. Mencari pelarian di banyak cowok lain. Love just a game and she played well. Wawan sering menekan kebebasan Dira. Membebani Dira dengan banyak hal. Memberikan paradigma yang salah tentang cinta. Bahkan membuat Dira berpikir hidupnya sudah berakhir di cowok itu. Sulit untuk mencari yang seiman, keluarga sudah dekat, dan berbagai tekanan lainnya. Dira terjebak dalam cinta buta berkepanjangan selama 6 tahun ini. Semakin banyak Dira menangis karena Wawan maka semakin banyak pula air mata cowok-cowok pelarian yang disakiti hatinya oleh Dira. Cinta memang memberimu keindahan dunia, dengan sejuta warna pelangi yang dipancarkan, tapi kadang kita tidak sadar, dibalik smua warna pelangi yang indah selalu ada bidang gelap di baliknya. Cinta juga memiliki sudut-sudut tajam yang dihibahkan ke bumi melalui rintik air hujan sebelum pelangi itu hadir. Dira salah membuat hipotesis bahwa Wawan adalah pelanginya. Itu terjadi selama 6 tahun ini.. Hipotesis yang dianggapnya benar dan konklusi absolut di hidupnya.

 Ketika ada banyak  hati baru yang singgah di hati Dira. Semua hanya berakhir dengan cerita yang tidak memberi perubahan bagi Dira. Hingga gadis itu lelah dengan cinta dan hipotesisnya tentang Wawan berusaha benar-benar mengakhirinya sekarang. Dan cerita bukan berakhir namun baru akan kita mulai. . Ketika Gatra muncul di hidup Dira sejak 4 tahun masa pendidikann dan 2 tahun masa pencarian jati diri telah mereka jalani masing-masing. Dan gumanan Dira di 6 tahun yang lalu pun terjadi menjadi kenyataan..

gatra@ Met hari raya.
Dira@ iyah tra, met hari raya juga
Gatra@ kerja dimana km?  
Dira@ di kebon tebu, loe dimana?
Gatra@ aku ngajar bimbel, wawan kerja dimana?
Dira@ jadi pak guru dunk loe.. wawan? Belom kerja dia.  Gue udah putus. Belom jodoh mungkin.
Gatra@ ada pin bb?

Dan obrolan ringan melalui facebook pun mengawali obrolan panjana dua makhluk unik ini untuk saling kenal lebih jauh. Melalui bbm, maupun telfon, untuk menyambung komunikasi diantara jarak dan sulitnya akses mereka bisa bertemu. Dira dengan sifat kepo tingkat dewanya segera melancarkan kebiasaannya untuk menyelidiki objek yang menarik perhatiannya itu. Segala akun mengenai Gatra ditelitinya satu persatu di sela-sela free waktu kerjanya.  Tak banyak hal yang ditemuinya secara garis besar Gatra bukan tipe cowok yang disukai Dira. Karena Gatra terlalu baik mungkin. Semacam garis lurus tak bertantangan.  Seorang guru? Dira tidak pernah sekali pun punya pikiran dekat dengan seorang guru. Dira dengan sifatnya yang nakal, selalu melanggar peraturan, lebih suka belajar dengan caranya sendiri. Dan segala keajaiban manusia lainnya. Di masa Dira berkuliah, Dira sering menertawakan cowok-cowok jurusan keguruan yang melintas di depan matanya. Cowok jurusan keguruan rata-rata memiliki style yang khas. Kemeja rapi, celana berbahan dasar, rambut klimis, sepatu pantofel mengkilat, tas ransel dan setumpuk buku.  Berjalan di terik siang. Dira tertawa melihat cowok jurusan keguruan dan membathin “koq ada yah cowok yang mau kuliah jusan keguruan? Gx keren banget.. ckckck cupu”dan kutukan mulai terjadi. Sekarang Gatra seorang guru datang di hidup Dira.

 Kutukan kedua adalah ketika Dira mengejek cowok-cowok di masa SMA ikut ekskul basket “hish.. apalah anak basket itu? Nggak ada keren-kerennya deh. Cuma sekumpulan cowok rempong dengan perlengkapan olah raga yang harus bermerk, sok keren padahal biasa aja.” Dan kutukan kedua itu pun mulai menghampiri Dira. Ternyata Gatra adalah basket lovers. Ada beberapa foto di instagram Gatra yang mengindikasikan cowok itu suka basket. Dan kali ini keluar untaian kalimat yang terdengar aneh  dari bibir Dira “Damn! Koq cowok ini beda yah, kenapa gue suka liat dia pake baju basket? Gue kenapa?! Kam to the pret, agaknya gue tertarik ma orang ini.


Mungkin bila kita selalu memiliki frame dan memilah-milah orang berdasarkan kriteria, kita tidak akan pernah sadar bahwa sesuatu yang terlihat biasa dan bukan lah hal yang kita suka ternyata bisa menjadi sesuatu yang berbeda dan memberi warna baru dalam hidup kita. Semakin jauh lagi bahkan kita pun bisa membuang semua frame kriteria yang kita punya sebelumnya, hanya demi sesuatu yang berbeda dan biasa itu.  Itulah yang terjadi pada Dira saat dia bertemu Gatra secara langsung. Siapa bilang guru itu cupu? Kaku? Nggak juga. Gatra selalu nyambung dengan obrolan abnormal yang dilontarkan Dira. Siapa juga bilang anak basket itu rempong? Gatra ternyata nggak begitu. Gatra menerima Dira apa adanya.  Dan kesimpulan yang Dira ambil kali ini, Dira mulai jatuh hati pada cowok biasa dengan mata berbinar ini.

Kisah pun semakin berlanjut ketika mereka mengungkapkan untuk menjaga hatinya masing-,masing untuk 2 tahun ke depan. Kita nggak pernah tahu apa yang ada di depan sana, menoleh ke belakang itu perlu tapi tidak untuk berhenti melangkah. Ingatkan aku bila terlalu jauh meninggalkanmu di depan atau bahkan berhenti terlalu lama untuk menoleh ke belakang.” So keep save your heart for 2 years tra, and absolutely I keep my heart for u too. “ Kalimat itu menutup senyum Dira malam ini.


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar