KEEP
SAVE ME FOR 2 YEARS..
“Masih Adakah Separuh Hatiku? Yang Ku Berikan Hanya Untukmu..
Ku
Harap Engkau Masih Menyimpannya.. Jangan
Kau Pernah Melupakannya..
Maafkan Kata Yang Tlah Terucap, Akan Kuhapus Jika Ku Mampu..
Maafkan Kata Yang Tlah Terucap, Akan Kuhapus Jika Ku Mampu..
Andai
Ku Dapat Meyakinkanmu.. Ku Hapus Sikapku.. Hitamku untukmu..”
Sepenggal
lagu lama dari Andra and The Black Bone terdengar mengalun dari handphone Dira sore ini sembari merebahkan tubuhnya di
kasur.Sore ini begitu biasa, seperti rutinitasnya di tiap sore yang lain. Masih
mengenakan seragam kantornya, Dira menghela nafas panjang dan terus
mendengarkan lagu itu sambil berpikir. Makhluk yang selalu memikirkan segala
sesuatu dengan detail itulah Indira Rinjani.
Gue Indira Rinjani,
gadis biasa dengan rutinitas yang tentunya biasa-biasa, nothing special. Gue yang sekarang sudah menginjak usia yang
bukan ababil lagi, masuk kategori dewasa mungkin, bisa jadi sudah tualah.. 25
tahun. Hufhhh berat juga sebutin umur... Gue bekerja di sebuah perusahaan
swasta yang lumayan besar sih, kalau di lihat di tv, iklannya lumayan bagus.
Bergerak di bidang perkebunan tebu skala besar, produk yang dihasilkan gula
pasir dengan merk yang lumayan gampang dijamah orang di segala tempat. Tapi
intinya kerjaan ini menuntut gw kerja jauh dari peradaban manusia. Perkebunan
tebu yang aksesnya lumayan jauh dari kota. Bisa di bilang tempat Jin buang anak
itu lah tempat gue tinggal sekarang. Jadi mandor yang terkadang kudu turun ke
areal langsung panas-panasan di terik
siang mengontrol puluhan bahkan ratusan tenaga kerja itu spesifikasi kerjaan gw
di tempat ini. Bukan kerjaan yang buat
gue berpikir lumayan berat saat ini, tapi masalah lagu yang lagi gue dengerin
ini, dan seseorang yang beberapa bulan ini membuat hidup gue lebih berwarna.
Setelah
beberapa saat merebahkan tubuhnya di kasur, Dira melanjutkan aktivitas sorenya
seperti biasa. Mandi,mencuci pakaian kotor, masak masakan simple untuk makan
malamnya. Kemudian bersantai sambil
kembali membuat kesimpulan mengenai lagu itu.
“Mungkin makna lagu itu tentang
berengseknya gue di zaman purbakala hingga sekarang. Bikin anak orang nangis
bombay karena patah hati, PHP-in orang bertahun-tahun, atau menghilang tanpa
jejak tiba-tiba tanpa sebab yang jelas. Gue banyak jahatin cowok, padahal niat
awalnya sumpah dah kagak gitu maksudnya. Kadang gue cuma tulus mau berteman ma
siapa aja. Mungkin memang bener kalau
segala sesuatu yang serba terlalu itu ngga bagus. Gue terlalu mudah kasihan ma
orang, gue terlalu care ke orang, gue terlalu gampang ngebantuin orang lain
secara maksimal. Dan serba terlalu lainnya.. Gatra
Satria
itu nama makhluk yang berhasil membuat gue sedikit berpikir tentang masa depan.
Makhluk UFO itu juga yang membuat hari-hari gue berasa manis kayak gula. Gue
jadi sadar, kelakuan gue selama ini perlu dirombak total, bukan untuk
menghilangkan “The real who I am” tapi mengarahkan gue ke gue yang masih tetap
gue tapi setingkat lebih baik. Rada berat buat merealisasikan lirik lagu itu “Ku Hapus Sikapku..
Hitamku untukmu..”Kalau aja hidup bisa di – Undo, Ctrl+Z mungkin gue adalah
manusia tersering melakukan “Undo for every bad things which I did”kayaknya
semua yang gue lakuin, gue kerjain salah total. Maksud hati nggak membuat orang
sedih, tapi justru gue bikin anak orang nangis bombay beratus episode. Tapi gue
akan berusaha berubah.” I will try it for u Tra..”
Gatra Satria adalah seorang cowok
berusia 26 tahun, yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Dira.
Sebenarnya Gatra bukanlah sosok baru dalam hidup Dira, mereka sudah kenal dari
6 tahun yang lalu. Berkuliah di institusi yang sama. Kuliah dalam 1 mata kuliah
umum yang sama. Namun tidak pernah bertegur sapa, maupun berkomunikasi. Hingga
mereka masing- masing melanjutkan hidupnya ketika wisuda di waktu yang berbeda.
Dira hanya tahu Gatra itu ada namun seperti tidak ada. Bahkan seperti makhluk
asing di luar planet bumi yang datang dengan UFOnya untuk kuliah di mata kuliah
yang sama dengan Dira tanpa berkomunikasi dengan bahasa manusia. Jauh di lubuk gubuk ambruknya hati Dira
sebenarnya dia penasaran dengan makhluk UFO aneh itu. Suatu ketika di dekat perpustakaan kampus..
Dira
melihat Gatra sedang berjalan sendirian menuju arah yang berlawanan dengan
Dira, Mereka berpapasan dengan satu line garis. Dira menoleh ke Gatra, dan
cowok itu hanya berlalu seperti tidak melihat apa-apa. “Itu bukannya si Gatra
Satria yah, hmm.. cowok aneh. Songong banget tuh bocah. Lihat aja suatu saat
loe bakal negor bahkan berusaha ngobrol ama gue. Let’s see that..”Dira bergumam
dalam hati dan kemudian kembali ke aktivitasnya bersama Wawan pacar 6 tahunnya.
Kala itu Dira sedang membantu wawan mengerjakan Tugas.
Awan Yudastra atau yang biasa
dipanggil Wawan adalah cowok yang selama 6 tahun terakhir sejak Dira kuliah
berstatus sebagai pacar Dira. Ada banyak orang yang beranggapan mereka pasangan
yang sempurna. Tampak harmonis tanpa masalah, selalu terlihat bersama, kompak.
Seiman, seiya sekata bla bla bla.. dan kenyataannya memang hidup selalu tak
mungkin akurat seperti apa yang orang lihat. Memulai kuliah di tahun yang sama,
dan berwisuda dalam waktu yang sama pula. Keluarga yang sudah sangat dekat satu
sama lain. Sempurna bukan? Sekali lagi, hidup tak pernah semulus itu.
Kenyataannya? Wawan bukanlah orang yang Dira cari. Bahkan semakin menggiring
Dira menjadi seorang yang berengsek. Mencari pelarian di banyak cowok lain.
Love just a game and she played well. Wawan sering menekan kebebasan Dira.
Membebani Dira dengan banyak hal. Memberikan paradigma yang salah tentang
cinta. Bahkan membuat Dira berpikir hidupnya sudah berakhir di cowok itu. Sulit
untuk mencari yang seiman, keluarga sudah dekat, dan berbagai tekanan lainnya.
Dira terjebak dalam cinta buta berkepanjangan selama 6 tahun ini. Semakin
banyak Dira menangis karena Wawan maka semakin banyak pula air mata cowok-cowok
pelarian yang disakiti hatinya oleh Dira. Cinta memang memberimu keindahan
dunia, dengan sejuta warna pelangi yang dipancarkan, tapi kadang kita tidak
sadar, dibalik smua warna pelangi yang indah selalu ada bidang gelap di
baliknya. Cinta juga memiliki sudut-sudut tajam yang dihibahkan ke bumi melalui
rintik air hujan sebelum pelangi itu hadir. Dira salah membuat hipotesis bahwa
Wawan adalah pelanginya. Itu terjadi selama 6 tahun ini.. Hipotesis yang
dianggapnya benar dan konklusi absolut di hidupnya.
Ketika ada banyak hati baru yang singgah di hati Dira. Semua
hanya berakhir dengan cerita yang tidak memberi perubahan bagi Dira. Hingga
gadis itu lelah dengan cinta dan hipotesisnya tentang Wawan berusaha
benar-benar mengakhirinya sekarang. Dan cerita bukan berakhir namun baru akan
kita mulai. . Ketika Gatra muncul di hidup Dira sejak 4 tahun masa pendidikann
dan 2 tahun masa pencarian jati diri telah mereka jalani masing-masing. Dan
gumanan Dira di 6 tahun yang lalu pun terjadi menjadi kenyataan..
gatra@ Met hari raya.
Dira@ iyah tra, met
hari raya juga
Gatra@ kerja dimana
km?
Dira@ di kebon tebu,
loe dimana?
Gatra@ aku ngajar
bimbel, wawan kerja dimana?
Dira@ jadi pak guru
dunk loe.. wawan? Belom kerja dia. Gue
udah putus. Belom jodoh mungkin.
Gatra@ ada pin bb?
Dan
obrolan ringan melalui facebook pun mengawali obrolan panjana dua makhluk unik
ini untuk saling kenal lebih jauh. Melalui bbm, maupun telfon, untuk menyambung
komunikasi diantara jarak dan sulitnya akses mereka bisa bertemu. Dira dengan
sifat kepo tingkat dewanya segera melancarkan kebiasaannya untuk menyelidiki
objek yang menarik perhatiannya itu. Segala akun mengenai Gatra ditelitinya
satu persatu di sela-sela free waktu kerjanya.
Tak banyak hal yang ditemuinya secara garis besar Gatra bukan tipe cowok
yang disukai Dira. Karena Gatra terlalu baik mungkin. Semacam garis lurus tak
bertantangan. Seorang guru? Dira tidak
pernah sekali pun punya pikiran dekat dengan seorang guru. Dira dengan sifatnya
yang nakal, selalu melanggar peraturan, lebih suka belajar dengan caranya
sendiri. Dan segala keajaiban manusia lainnya. Di masa Dira berkuliah, Dira sering
menertawakan cowok-cowok jurusan keguruan yang melintas di depan matanya. Cowok
jurusan keguruan rata-rata memiliki style yang khas. Kemeja rapi, celana
berbahan dasar, rambut klimis, sepatu pantofel mengkilat, tas ransel dan
setumpuk buku. Berjalan di terik siang.
Dira tertawa melihat cowok jurusan keguruan dan membathin “koq ada yah cowok
yang mau kuliah jusan keguruan? Gx keren banget.. ckckck cupu”dan kutukan mulai
terjadi. Sekarang Gatra seorang guru datang di hidup Dira.
Kutukan kedua adalah ketika Dira mengejek
cowok-cowok di masa SMA ikut ekskul basket “hish.. apalah anak basket itu?
Nggak ada keren-kerennya deh. Cuma sekumpulan cowok rempong dengan perlengkapan
olah raga yang harus bermerk, sok keren padahal biasa aja.” Dan kutukan kedua itu
pun mulai menghampiri Dira. Ternyata Gatra adalah basket lovers. Ada beberapa
foto di instagram Gatra yang mengindikasikan cowok itu suka basket. Dan kali
ini keluar untaian kalimat yang terdengar aneh
dari bibir Dira “Damn! Koq cowok ini beda yah, kenapa gue suka liat dia
pake baju basket? Gue kenapa?! Kam to the pret, agaknya gue tertarik ma orang
ini.
Mungkin
bila kita selalu memiliki frame dan memilah-milah orang berdasarkan kriteria,
kita tidak akan pernah sadar bahwa sesuatu yang terlihat biasa dan bukan lah
hal yang kita suka ternyata bisa menjadi sesuatu yang berbeda dan memberi warna
baru dalam hidup kita. Semakin jauh lagi bahkan kita pun bisa membuang semua
frame kriteria yang kita punya sebelumnya, hanya demi sesuatu yang berbeda dan
biasa itu. Itulah yang terjadi pada Dira
saat dia bertemu Gatra secara langsung. Siapa bilang guru itu cupu? Kaku? Nggak
juga. Gatra selalu nyambung dengan obrolan abnormal yang dilontarkan Dira.
Siapa juga bilang anak basket itu rempong? Gatra ternyata nggak begitu. Gatra
menerima Dira apa adanya. Dan kesimpulan
yang Dira ambil kali ini, Dira mulai jatuh hati pada cowok biasa dengan mata
berbinar ini.
Kisah
pun semakin berlanjut ketika mereka mengungkapkan untuk menjaga hatinya
masing-,masing untuk 2 tahun ke depan. Kita nggak pernah tahu apa yang ada di
depan sana, menoleh ke belakang itu perlu tapi tidak untuk berhenti melangkah.
Ingatkan aku bila terlalu jauh meninggalkanmu di depan atau bahkan berhenti terlalu
lama untuk menoleh ke belakang.” So keep save your heart for 2 years tra, and
absolutely I keep my heart for u too. “ Kalimat itu menutup senyum Dira malam
ini.
THE
END


Tidak ada komentar:
Posting Komentar