Jumat, 12 Desember 2014

Gagal Menikah dan Traumatis..

Enam...




Mungkin bagi sebagian orang kegagalan untuk membina upacara sakral pernikahan bagaikan mimpi buruk atau bahkan kutukan. Pernikahan yang merupakan muara akhir dari sebuah hubungan pacaran harus kandas di tengah jalan. Mungkin tidak ada satu orang pun yang berharap hal itu terjadi dalam hidupnya, seperti juga Indira. Memasuki usia 25 tahun.  Masa labil remaja itu sudah berlalu berganti masa penantian. Menanti hal-hal yang diinginkan untuk melangkah kembali ke dunia yang baru, setelah melalui dunia wanita lajang yang aktif dan mandiri.. Yup.. dunia pernikahan. Dunia di mana seorang isteri mengabdikan hidupnya pada suami, dunia dimana seorang anak perempuan kecil bunda yang manja harus berdiri tegak membimbing anaknya  kelak menjadi seorang ibu, seperti yang dilakukan sang bundanya dahulu.  Dunia dimana kebebasan seorang wanita lajang harus diubah, menjadi berkomitmen. Yup.. berkomitmen pada cincin yang melingkar di jari manis, sehidup semati dengan sang pujaan hati, mengabdi, selalu  ingat akan ikrar suci pernikahan. Menyatukan dua hati, dua karakter, dua sifat, dua otak menjadi satu visi misi ke depan. 


Dira masih merasa belum siap mencapai itu semua. Yup.. Dira masih seorang gadis yang dengan watak kerasnya berusaha meraih semua mimpi-mimpinya yang belum tercapai. Dira masih cengeng, masih sering mengeluh karena hal sepele, masih sering berpikir hal-hal konyol. Meski usianya mencapai kepala dua, kelakuannya tidak banyak berubah waktu usianya belasan tahun. Suatu prestasi atau ironi, hanya Dira yang menilainya sendiri. Yup.. sekali lagi Dira masih egois untuk memikirkan dirinya sendiri, mimpi – mimpinya dan belum sampai pada titik jenuh pada masa lajang untuk saat ini, dan ntah bagaimana setahun, dua tahun ke depan. 


Ternyata hidup tidak sesimple cerita dongeng, tak semagic cerita komik manga, tak sedrama sinetron. Hidup itu ringan ketika dipikirkan namun sangat berat untuk dijalani. Itu yang Dira rasakan saat ini. Cinta tak selamanya membahagiakan, membuat kesal, membuat patah hati. Namun cinta merupakan suatu teori yang membingungkan. Ketika cinta kamu genggam seperti menggenggam pasir dengan satu kepalan tangan, berusaha sebanyak mungkin meraup  pasir, berusaha sebanyak mungkin menggengamnya maka hasil yang dieroleh justru bertolak belakang dengan usaha keras yang kamu lakukan itu. Hasilnya justru pasir yang kamu genggam hanya sedikit, banyak yang terbuang, dan tentunya telapak tanganmu justru terasa sakit. Lain halnya ketika kamu meraih pasir itu dengan perlahan dengan menyatukan dua telapak tanganmu menjadi mangkuk yang meraup pasir dengan bersamaan dan perlahan, maka hasil yang didapat adalah pasir dicakupan tanganmu menjadi banyak dan terasa lembut di telapak tangan. Seperti itu lah cinta. Tak bisa digenggam terlalu keras, terlalu banyak dan terlalu egois. Cita harus diraih secara perlahan secara kompak dua anak manusia dengan sabar baru tercapai keindahannya.


Dira tak berharap banyak dalam hubungannya saat ini dengan Gatra. Ntah kenapa traumatis itu mungkin membekas. Takut untuk kecewa untuk ketiga kalinya. Namun hal itu tidak memecah senyum Dira di tiap harinya. Hari-harinya masih penuh warna, penuh tawa canda, menebar keceriaannya pada sekitar. Namun adakalanya dia juga terdiam dan ntah berpikir apa, mengasingkan diri dari manusia lain, menghabiskan waktu dalam kesepian untuk beberapa saat. 


Kegagalan pernikahan pertama dialami Dira ketika begitu mencintai Wawan, ex Dira 6 tahun. Masa pacaran yang begitu panjang bukan jaminan hubungan tersebut akan sampai pada ikatan suci pernikahan. Hubungan tersebut kandas karena banyak hal, padahal sudah sejak 2 tahun sebelum putus, mereka merencanakan untuk menikah pada akhir tahun ketiga. Pada saat kegagalan yang pertama ini, Dira menghabiskan hampir dua hari 48 jam dalam hidupnya untuk menangis dan menangis sejadi-jadinya. Seperti ada yang retak di dalam hatinya, begitu menyayat dan membuat Dira selalu merenung. 


Kegagalan pernikahan yang kedua dialami Dira ketika begitu mencintai Juan, ex Dira di hampir dua tahun. Selama masa pacaran, Dira merasa sangat cocok dengan Juan, meski orang tua Dira melarang, Gadis itu masih kekeh memperjuangkan hubungannya. Meskipun beda iman, mereka masih berusaha menabung bersama-sama mengumpulkan uang untuk menikah. Namun yah terjadi lagi. Dira gagal. Mereka putus karena masalah iman. Juan tidaklah sebaik yang Dira tau. Pada saat kegagalan yang kedua ini, Dira tidak menangis lagi. Tapi banyak diam dan merenung ntah memikirkan apa.


Dan pada akhirnya hidup harus tetap berjalan, waktu tidak akan berhenti dan menunggu kita. Kita lah yang harus berlari mengejar waktu. Dira sadar menangis atau tidak itu tak kan menyembuhkan luka hatinya, yang sudah terjadi di masa lalu tidak mungkin diulang dan diperbaiki. Hanya bisa dicoba menjadi lebih baik di masa depan. Dan Dira hanya memilik satu harapan akhir. Semoga Gatra tidak mengecewakannya. 
 
Hidupi hidupmu denganku saat tua nanti 

Denganmu ku selalu merasa muda dan tidak pernah menyerah 
Melangkah untuk tetap kuat ke jalan kemenangan 
Walaupun sulit tapi ku tahu kau selalu di sisiku
Di atas awan kisah kita tertulis 
Bercinta di bawah bintang yang sama
 
Setiap kenanganku dan kemenanganku selalu ada cintamu 

Setiap langkah ini yang mulai melemah, cintamu nyalakan aku
Denganmu seperti hidupku takkan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi, detik berhenti 

Seperti hidupku tak akan pernah mati
 
Mungkin jikalau Gatra membuatnya kecewa lagi, Dira tak akan menangis atau pun merenung. Dira mungkin hanya melepaskan tawa di luar sana. Begitukah konyolnya hidup? Dan mungkin akan pasrah mengikuti trend perjodohan zaman dahulu kala yakni melalui pilihan orang tua, merupakan solusi terbaik.




THE END



Tidak ada komentar:

Posting Komentar