Enam...
Mungkin bagi sebagian orang kegagalan
untuk membina upacara sakral pernikahan bagaikan mimpi buruk atau bahkan
kutukan. Pernikahan yang merupakan muara akhir dari sebuah hubungan pacaran
harus kandas di tengah jalan. Mungkin tidak ada satu orang pun yang berharap
hal itu terjadi dalam hidupnya, seperti juga Indira. Memasuki usia 25
tahun. Masa labil remaja itu sudah
berlalu berganti masa penantian. Menanti hal-hal yang diinginkan untuk
melangkah kembali ke dunia yang baru, setelah melalui dunia wanita lajang yang
aktif dan mandiri.. Yup.. dunia pernikahan. Dunia di mana seorang isteri
mengabdikan hidupnya pada suami, dunia dimana seorang anak perempuan kecil
bunda yang manja harus berdiri tegak membimbing anaknya kelak menjadi seorang ibu, seperti yang
dilakukan sang bundanya dahulu. Dunia
dimana kebebasan seorang wanita lajang harus diubah, menjadi berkomitmen. Yup..
berkomitmen pada cincin yang melingkar di jari manis, sehidup semati dengan
sang pujaan hati, mengabdi, selalu ingat
akan ikrar suci pernikahan. Menyatukan dua hati, dua karakter, dua sifat, dua
otak menjadi satu visi misi ke depan.
Dira masih merasa belum siap mencapai
itu semua. Yup.. Dira masih seorang gadis yang dengan watak kerasnya berusaha
meraih semua mimpi-mimpinya yang belum tercapai. Dira masih cengeng, masih
sering mengeluh karena hal sepele, masih sering berpikir hal-hal konyol. Meski
usianya mencapai kepala dua, kelakuannya tidak banyak berubah waktu usianya
belasan tahun. Suatu prestasi atau ironi, hanya Dira yang menilainya sendiri.
Yup.. sekali lagi Dira masih egois untuk memikirkan dirinya sendiri, mimpi –
mimpinya dan belum sampai pada titik jenuh pada masa lajang untuk saat ini, dan
ntah bagaimana setahun, dua tahun ke depan.
Ternyata hidup tidak sesimple cerita
dongeng, tak semagic cerita komik manga, tak sedrama sinetron. Hidup itu ringan
ketika dipikirkan namun sangat berat untuk dijalani. Itu yang Dira rasakan saat
ini. Cinta tak selamanya membahagiakan, membuat kesal, membuat patah hati.
Namun cinta merupakan suatu teori yang membingungkan. Ketika cinta kamu genggam
seperti menggenggam pasir dengan satu kepalan tangan, berusaha sebanyak mungkin
meraup pasir, berusaha sebanyak mungkin
menggengamnya maka hasil yang dieroleh justru bertolak belakang dengan usaha
keras yang kamu lakukan itu. Hasilnya justru pasir yang kamu genggam hanya
sedikit, banyak yang terbuang, dan tentunya telapak tanganmu justru terasa
sakit. Lain halnya ketika kamu meraih pasir itu dengan perlahan dengan menyatukan
dua telapak tanganmu menjadi mangkuk yang meraup pasir dengan bersamaan dan
perlahan, maka hasil yang didapat adalah pasir dicakupan tanganmu menjadi
banyak dan terasa lembut di telapak tangan. Seperti itu lah cinta. Tak bisa
digenggam terlalu keras, terlalu banyak dan terlalu egois. Cita harus diraih
secara perlahan secara kompak dua anak manusia dengan sabar baru tercapai
keindahannya.
Dira tak berharap banyak dalam
hubungannya saat ini dengan Gatra. Ntah kenapa traumatis itu mungkin membekas. Takut
untuk kecewa untuk ketiga kalinya. Namun hal itu tidak memecah senyum Dira di
tiap harinya. Hari-harinya masih penuh warna, penuh tawa canda, menebar
keceriaannya pada sekitar. Namun adakalanya dia juga terdiam dan ntah berpikir
apa, mengasingkan diri dari manusia lain, menghabiskan waktu dalam kesepian
untuk beberapa saat.
Kegagalan pernikahan pertama dialami
Dira ketika begitu mencintai Wawan, ex Dira 6 tahun. Masa pacaran yang begitu
panjang bukan jaminan hubungan tersebut akan sampai pada ikatan suci pernikahan.
Hubungan tersebut kandas karena banyak hal, padahal sudah sejak 2 tahun sebelum
putus, mereka merencanakan untuk menikah pada akhir tahun ketiga. Pada saat
kegagalan yang pertama ini, Dira menghabiskan hampir dua hari 48 jam dalam
hidupnya untuk menangis dan menangis sejadi-jadinya. Seperti ada yang retak di
dalam hatinya, begitu menyayat dan membuat Dira selalu merenung.
Kegagalan pernikahan yang kedua
dialami Dira ketika begitu mencintai Juan, ex Dira di hampir dua tahun. Selama
masa pacaran, Dira merasa sangat cocok dengan Juan, meski orang tua Dira
melarang, Gadis itu masih kekeh memperjuangkan hubungannya. Meskipun beda iman,
mereka masih berusaha menabung bersama-sama mengumpulkan uang untuk menikah.
Namun yah terjadi lagi. Dira gagal. Mereka putus karena masalah iman. Juan
tidaklah sebaik yang Dira tau. Pada saat kegagalan yang kedua ini, Dira tidak
menangis lagi. Tapi banyak diam dan merenung ntah memikirkan apa.
Dan pada akhirnya hidup harus tetap
berjalan, waktu tidak akan berhenti dan menunggu kita. Kita lah yang harus
berlari mengejar waktu. Dira sadar menangis atau tidak itu tak kan menyembuhkan
luka hatinya, yang sudah terjadi di masa lalu tidak mungkin diulang dan
diperbaiki. Hanya bisa dicoba menjadi lebih baik di masa depan. Dan Dira hanya
memilik satu harapan akhir. Semoga Gatra tidak mengecewakannya.
Hidupi hidupmu denganku saat tua nanti
Denganmu ku selalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat ke jalan kemenangan
Walaupun sulit tapi ku tahu kau selalu di sisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama
Setiap kenanganku dan kemenanganku selalu ada cintamu
Setiap langkah ini yang mulai melemah, cintamu nyalakan aku
Denganmu seperti hidupku takkan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi, detik berhenti
Seperti hidupku tak akan pernah mati
Mungkin jikalau Gatra membuatnya kecewa lagi, Dira tak akan menangis atau pun merenung. Dira mungkin hanya melepaskan tawa di luar sana. Begitukah konyolnya hidup? Dan mungkin akan pasrah mengikuti trend perjodohan zaman dahulu kala yakni melalui pilihan orang tua, merupakan solusi terbaik.
Hidupi hidupmu denganku saat tua nanti
Denganmu ku selalu merasa muda dan tidak pernah menyerah
Melangkah untuk tetap kuat ke jalan kemenangan
Walaupun sulit tapi ku tahu kau selalu di sisiku
Di atas awan kisah kita tertulis
Bercinta di bawah bintang yang sama
Setiap kenanganku dan kemenanganku selalu ada cintamu
Setiap langkah ini yang mulai melemah, cintamu nyalakan aku
Denganmu seperti hidupku takkan pernah mati
Setiap bercinta denganmu hidupku abadi, detik berhenti
Seperti hidupku tak akan pernah mati
Mungkin jikalau Gatra membuatnya kecewa lagi, Dira tak akan menangis atau pun merenung. Dira mungkin hanya melepaskan tawa di luar sana. Begitukah konyolnya hidup? Dan mungkin akan pasrah mengikuti trend perjodohan zaman dahulu kala yakni melalui pilihan orang tua, merupakan solusi terbaik.
THE END


Tidak ada komentar:
Posting Komentar